Digitalisasi Sekolah

Digitalisasi Sekolah
ilustrasi / thejakartapost

MONDAYREVIEW.COM - Kegiatan Digitalisasi Sekolah menjadi salah satu prioritas Merdeka Belajar. Nadiem mengatakan, ini adalah kemerdekaan bagi murid untuk mendapatkan informasi dan konten yang setara.

Digitalisasi sekolah adalah program kemerdekaan bagi daerah manapun untuk mendapatkan akses konten-konten kurikulum yang baik, mendapatkan akses ke konten pengajaran, akses pelatihan dan akses kepada data dan juga berbagai macam bantuan secara digital.  

Ada 4 (empat) kegiatan terkait digitalisasi sekolah. Seluruh pemangku kepentingan dalam pendidikan di Indonesia mesti memahami kegiatan dalam kerangka program digitalisasi sekolah ini agar manfaat program semakin optimal. Peran semua fihak dapat digerakkan dan pengawasan atau pengendalian atas implementasi program berjalan dengan baik.  

Yang pertama, penguatan platform digital. Untuk merealisasikan program ini dibutuhkan anggaran Rp 109,85 miliar. Sedikitnya ada 12 aplikasi pembelajaran daring yang bekerjasama dengan Kemendibud. Termasuk diantaranya Zenius, Meja Kita, Rumah Belajar, IndonesiaX, dan Google for Education.

Kedua, konten pembelajaran di program TVRI dengan anggaran Rp 132 miliar. Karena respon masyarakat yang begitu positif, Kemendikbud akan terus meningkatkan ini sebagai salah satu channel supplement pendidikan nasional, baik kurikulum maupun nonkurikulum.

Ketiga, bahan belajar dan model media pendidikan digital. Anggaran untuk program ini mencapai Rp 74,02 miliar. Ini berarti bahwa kurikulum yang tadinya hanya luring bisa available juga dan lebih interaktif di daring.

Keempat, penyediaan sarana pendidikan terutama peralatan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) dengan anggaran Rp 1,175 triliun. Nadiem mengatakan, anggaran yang cukup besar ini untuk pengadaan unit laptop bagi guru dan siswa menghadapi uji asesmen kompetensi yang direncanakan Kemendikbud berlangsung tahun depan.

Terkait hal ini Kemendikbud juga akan mengupayakan laptop-laptop untuk mengantisipasi asesmen kompetensi yang rencananya akan diberlakukan mulai tahun depan. Mendikbud menegaskan perlunya memberikan bantuan ketersediaan piranti TIK yang layak bagi para guru dan peserta didik.

Salah satu frasa paling banyak diwacanakan saat ini terkait dengan strategi teknologi adalah transformasi digital. Istilah ini digunakan oleh semua jenis organisasi, di semua sektor, untuk menjual produk, konferensi, dan webinar. Namun, ada juga sisi yang sangat nyata dari ungkapan ini yang mengubah setiap industri, dari ritel hingga perawatan kesehatan hingga pendidikan.

Pada tingkat yang paling sederhana, transformasi digital berarti mengubah bisnis inti organisasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih baik dengan memanfaatkan teknologi dan data.

Di bidang pendidikan, target pelanggan itu seringkali adalah mahasiswa, bisa juga dosen, karyawan, alumni, dan lain-lain. Sebagai contoh, transformasi digital yang bertujuan untuk mengubah pengalaman siswa dapat mencakup item seperti merekrut siswa secara digital, menggunakan media sosial dan pesan teks sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan berdasarkan data;

Juga memungkinkan siswa untuk mendaftar melalui ponsel mereka pada sistem informasi siswa berbasis cloud yang dapat diskalakan serta menyediakan berbagai pilihan pembelajaran online sehingga siswa memiliki kursus yang cukup untuk dipilih pada poin-poin penting dalam karir akademis mereka.

Di tingkat pendidikan tinggi mahasiswa dapat bekerja bersama dengan fakultas dan program untuk mengubah mata kuliah menjadi model terbalik dan campuran; menggunakan teknologi untuk memantau kemajuan siswa dan metrik keberhasilan dan melaksanakan protokol intervensi; dan bermitra dengan industri untuk memberikan lencana dan sertifikat digital untuk meningkatkan peluang karir. Sinergi berbagai elemen mengarah pada upaya untuk mengutamakan pengalaman siswa. Empat

Tujuan Transformasi Digital

Fokus pada pengguna atau pelanggan adalah elemen terpenting dalam transformasi digital. Tom Loosemore, pendiri agensi Layanan Digital Pemerintah Inggris, menyimpulkan konsep bahwa Digital bermakna menerapkan budaya, praktik, proses & teknologi era Internet untuk menanggapi ekspektasi yang meningkat. Nilai luar biasa dari memenuhi ekspektasi pelanggan yang meningkat ini telah mengubah model bisnis secara dramatis, dengan contoh dari Amazon hingga Airbnb ke Uber.

Peter Sondergaard, wakil presiden senior di Gartner, Inc., memandang teknologi sebagai pendorong transformasi digital, yang didorong oleh empat tujuan yakni meningkatkan daya saing, profitabilitas yang lebih tinggi, pengalaman pelanggan yang lebih baik, dan kelincahan yang lebih besar di seluruh instansi.