Dinamika Jelang Pilpres dan Jalan Panjang Petahana

Dinamika Jelang Pilpres dan Jalan Panjang Petahana

MONDAYREVIEW.COM – Media asing banyak memusatkan perhatiannya ke Indonesia jelang Pilpres dan Pileg 2019. Berbagai liputan dan analisis mengenai  elektabilitas para kandidat bertebaran di media massa. Salah satu pertanyaan paling menarik adalah seberapa jauh petahana bisa mengamankan posisinya menghadapi penantang dala Pilpres paling fenomenal ini.

Joko Widodo dengan pegalaman sebagai walikota, gubernur dan Presiden telah menancapkan gambaran kuat sebagai pemimpin yang berani mengambil resiko dalam membangun infrastruktur di tanah air. Di satu sisi Indonesia masih defisit infrastruktur, di sisi lain beban pembiayaan jangka panjang menjadi kekhawatiran banyak fihak.

Isu yang bersandar pada politik identitas menjadi serangan paling telak dalam Pilpres kali ini. Identitas mayoritas muslim, identitas sebagai pribumi, dan identitas lokal menghadapi asing menjadi perbincangan paling hangat dalam masa-masa kampanye elektoral 2019 di Indonesia.

Geografi  Indonesia begitu luas dan kompleks. Indonesia adalah salah satu negara terbesar di dunia, dengan luas daratan dan lautan hampir dua juta kilometer persegi dan terdiri atas 17.600 pulau. Negeri kepulauan ini merupakan kesatuan dari berbagai entitas suku dan budaya. Di masa pra kolonail dan kolonial, kawasan ini terdiri dari kerajaan-kerajaan yang kemudian terkooptasi oleh Bangsa Eropa selama ratusan tahun.  

Kepulauan yang luas ini juga merupakan rumah bagi sekitar 262 juta orang dari ratusan kelompok etnis dan budaya yang berbeda yang semuanya hidup dalam kerukunan. Indonesia menjadika negara terpadat keempat di dunia, dan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar.

Jokowi, mampu menanamkan kesan sebagai sosok yang rendah hati dan sederhana yang juga memproyeksikan kekuatan yang tenang, karismatik. Ia pragmatis, populis, dan idealis, semuanya pada saat yang bersamaan. Karakter dan citra yang mampu membuat pendukungnya terwakili.

Dikatakan: “Jangan menilai saya berdasarkan kemampuan saya sendiri tetapi pada apa yang saya capai” dan berbicara kepada generasi Indonesia yang haus akan bentuk baru politik berbasis kinerja yang sesuai dengan cita-cita mereka yang muda dan idealis.

Bangsa Indonesia bagaikan remaja yang tengah mekar tumbuh dengan kesegaran dan potensinya. Sementara negara maju telah mulai memasuki  masa senja dan penduduknya mulai menua. Tujuh puluh persen dari populasi negara ini akan memiliki usia angkatan kerja pada tahun 2030 menurut The Jakarta Post, membentuk apa yang disebut "bonus demografis"

Kelebihan petahana dalam Pilpres kali ini adalah kemampuan untuk fokus pada “Can Do”. Melakukan sesuatu, memutuskan dan bertindak. Tapi lebih dari slogan atau janji kampanye, Jokowi adalah orang yang bertindak dan sekaligus bekerja sepenuh hati. Memasuki tahun kelima masa kepresidenannya dan menghadapi pemilihan umum bulan ini, prestasinya berlipat ganda.

Prestasi menjadi kata kunci. Bahwa begitu banyak yang telah dicapai tidak hanya memberinya landasan yang kuat untuk menghadapi  pemilihan umum yang akan datang tetapi juga telah membantu orang Indonesia merasakan rasa kebanggaan nasional negara mereka dihormati dan berpengaruh pada panggung politik dan ekonomi internasional.

Kritik dan celah dalam kebijakan dan gaya kepemimpinan Jokowi tentu banyak. Ada pandangan kritis bahwa pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan adalah pemborosan; bahwa itu tidak secara langsung menyentuh kebutuhan rakyat dan malah menambah utang negara yang besar. Apalagi di tengah isu anti asing yang banyak ditujukan kepoada Cina dengan skema Belt and Road Initiatives yang dianggap sebagian kalangan sebagai upaya kolonisasi model baru.

Bagaimanapun momentum menjadi salah satu jalan menuju popularitas dan elektabilitas seorang politisi. Menjelang Tahun Politik, ada forum yang mengangkat nama Indonesia di kawasan. Sukses penyelenggaraan dan prestasi  Idonesia dalam Asien Games menjadi momentum peneguhan kinerja Pemerintahan Jokowi.

Sementara di mata dunia internasional, Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional 2018 dan Kelompok Bank Dunia yang berlangsung di Bali memberi pesan penting.  Mata dunia, tiba-tiba, terfokus pada Indonesia.

Jokowi masuk dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia dan masuk dalam daftar 50 besar Pusat Studi Strategis Islam Royal yang berbasis di Amman, Yordania, berperingkat 16 dan berdampingan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdo dan Saudi King Salman bin Abdulaziz al-Saud.

Ada beberapa proyek infrastruktur yang masih harus diselesaikan. Ada juga beberapa laporan yayasan jalan tol yang rusak di proyek yang baru dibuka. Penyelesaian memang membutuhkan kehatian-hatian dan kewaspadaan.  

Sementara itu, para pencela Jokowi mengatakan bahwa investasi infrastruktur adalah pemborosan sumber daya berharga yang bisa langsung menguntungkan masyarakat dan negara daripada menambah hutang negara.

Pada akhirnya, politisi dapat dinilai berdasarkan prestasi mereka, dan ketika Indonesia beralih ke mode pemilihan umum sekali lagi, harapan di antara para pendukungnya adalah bahwa tindakan Jokowi yang cukup besar berbicara lebih keras daripada kata-katanya yang dipilih dengan hati-hati dan kata-kata yang diucapkan dengan lembut, yang kadang-kadang dapat ditenggelamkan oleh suara-suara agresif.