Diplomasi Atasi Pandemi dan Pulihkan Ekonomi

Diplomasi Atasi Pandemi dan Pulihkan Ekonomi
Luhut Binsar Panjaitan di AS/ Dok. Kemenko Marves

MONDAYREVIEW.COM – Selama dekade terakhir ini hubungan Indonesia dengan lembaga Dana Moneter Internasional atau IMF boleh dikata tak cukup dekat. Di era pemerintahan SBY kesan kuat untuk memangkas utang luar negeri sangat terasa. Sejak 2009 Indonesia sudah melunasi utang IMF tak kurang dari Rp 117 Triliun. Namun demikian di tahun 2014 SBY mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan akbar pertemuan IMF-World Bank 2018.

Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia tetap membutuhkan kerjasama dengan komunitas internasional. Apalagi di saat pandemi seperti sekarang ini. Indonesia yang dalam tahun-tahun terakhir ini dinilai dekat dengan Tiongkok harus bersikap realistis untuk menjaga hubungan dan jarak yang sama dengan mitra-mitranya. Tak hanya modal, Indonesia juga membutuhkan pasar negara-negara di negara-negara maju.

Tahun berganti masa berlalu. Indonesia menatap masa depan dengan optimis. Meski dihadang pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan ekonomi dunia. Di periode kedua Presiden Joko Widodo hubungan Indonesia dengan lembaga-lembaga keuangan dunia kembali dikukuhkan dengan sejumlah langkah.

Setelah dilantik Dubes RI untuk AS Muhammad Lutfi segera membuat langkah strategis dengan mewujudkan pertemuan-pertemuan antara pihak Indonesia dengan Amerika Serikat dan beberapa lembaga yang memiliki peran strategis dalam bidang ekonomi maupun lingkungan.  

Untuk itulah maka Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melakukan sejumlah pertemuan pada hari pertama kunjungan kerjanya di Washington DC pada pekan kedua November 2020. Pertemuan antara itu juga memberi sinyal bahwa Indonesia tetap membangun peran bebas-aktifnya.  

Menko Luhut bertemu dengan CEO Conservation International (CI) M Sanjayan, Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, President of World Bank David Malpass dan United States Trade Representatives (USTR) Robert Lighthizer.

Dalam kunjungan tersebut, Luhut didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Muhammad Lutfi, dan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Arlinda Imbang Jaya.

Pertemuan dengan pihak World Bank, IMF, Asia Group, maupun USTR yang menjadi pokok kunjungan . menujukkan respon yang sangat bagus. Makan malam dengan politisi Partai Demokrat dan Partai Republik juga memberi sinyal menggembirakan bagi hubungan persahabatan Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan dengan CI, Luhut dan Sanjayan membahas peluang co-funding bersama dengan mitra swasta untuk program konservasi dan restorasi untuk kredit karbon baik di kawasan pesisir dan darat. Sanjayan mengakui bahwa Brazil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia merupakan negara kunci karena aset hutan yang dimiliki. Dia juga menyebut Indonesia sebagai yang terbaik menangani aset tersebut.

Sementara itu, dengan IMF dan World Bank, Luhut membahas mengenai penanganan pandemi COVID-19, pemulihan ekonomi nasional, dan upaya Indonesia untuk menjaga dan memperbaiki kondisi lingkungan hidupnya. Kedua pejabat yang ditemui Luhut juga menyampaikan apresiasi atas langkah-langkah progresif yang telah dilakukan oleh Indonesia.

Secara khusus, IMF memuji Indonesia sebagai negara yang berhasil menerapkan disiplin fiskal yang baik, sehingga pada saat krisis bisa mengeluarkan stimulus tanpa meningkatkan beban utang secara signifikan.
Sedangkan, Presiden World Bank menyampaikan dirinya senang bisa mendapatkan penjelasan mengenai UU Cipta Kerja, yang menurut dia akan memberikan manfaat yang besar bagi rakyat Indonesia. Ia sangat senang bisa mendiskusikan Omnibus Law tentang Penciptaan Kerja dengan LBP. Implementasinya akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia. Demikian ungkap David Malpass.

Adapun pada pertemuan dengan USTR Robert Lighthizer, Luhut menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang baik sehingga GSP review dapat diselesaikan dengan baik. Perpanjangan GSP itu dinilai memberikan peluang bagi lapangan kerja dan kesempatan bagi banyak UKM di Indonesia. Lighthizer juga menyampaikan dirinya senang atas kerja sama yang baik dalam proses negosiasi. Semula dirinya memperkirakan pencabutan GSP yang dilakukan kepada India dan Turki juga akan dilakukan kepada Indonesia. Tapi, karena kerja sama yang baik, justru hal ini dapat diselesaikan dengan baik.

Lighthizer juga menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia akan selalu menjadi mitra strategis bagi AS dalam ekonomi maupun geopolitik sehingga berharap pembicaraan yang lebih luas dan strategis dapat dilakukan kemudian hari.