Dua Bulan Kampanye, Program dan Elektabilitas Jokowi-Maruf Ungguli Prabowo-Sandi

Dua Bulan Kampanye, Program dan Elektabilitas Jokowi-Maruf Ungguli Prabowo-Sandi
Ilustrasi foto/Net

MASA kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sudah berlangsung dua bulan. Kedua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Jokowi-Maruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah berkeliling daerah di Indonesia untuk mengkampanyekan program-program unggulannya. Hasilnya, program-program yang dikampanyekan Jokowi-Ma’ruf lebih populer dengan persentase rata-rata di atas 50 persen.

Hal tersebut berdasarkan hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dilakukan pada 10 hingga 19 November 2018. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling. Jumlah responden yang disurvei sebanyak 1.200 responden. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dengan margin of error survei tersebut berada di angka 2,9 persen.

Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD), analisis media dan indepth interview, serta dana survei berasal dari pembiayaan mandiri.

Peneliti LSI Rully Akbar memaparkan, semua program Jokowi lebih dikenal atau diketahui di atas 50 persen pemilih. Dia merinci, program Kartu Indonesia Sehat menduduki peringkat pertama sebesar 90 persen, disusul Kartu Indonesia Pintar 87,6 persen, Beras Sejahtera 69,0 persen, Program Keluarga Harapan 66,1 persen, Pembangunan Infrastruktur 59,4 persen, dan pembagian sertifikat tanah 55,3 persen. “Tapi program-program tersebut belum maksimal dikampanyekan. Buktinya tak ada satu pun program tersebut yang terbaca media monitoring,” ujar Rully di kantor LSI, Jakarta Timur, Kamis (6/12) lalu.

Hal itu berbanding terbalik dengan program Prabowo – Sandi yang belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Bahkan, kata Rully tingkat keterkenalan program pasangan calon (paslon) nomor urut 02 tidak sampai 30 persen yang mengaku pernah mendengar atau mengetahui lima program Prabowo-Sandiaga. “Rata-rata di bawah 30 persen yang mengaku pernah mendengar atau mengetahui," sebut Rully.

Rully memaparkan hasil survei lima program Prabowo-Sandiaga yang pernah didengar atau diketahui oleh masyarakat. Hasilnya, sebanyak 25,6 persen responden mengaku pernah soal program OK OCE dinasionalkan, selanjutnya 23,5 persen mengetahui program Gerakan Emas atau Emak-emak dan Anak Minum Susu, kemudian, sebanyak 18,7 persen mengakui pernah mendengar program terkait larangan impor.

Selain itu, sebanyak 13,5 persen responden pernah mendengar soal program menaikkan gaji PNS dan 10,2 persen terkait pengangkatan guru honorer. “Selama dua bulan kampanye, Prabowo-Sandi belum banyak berkesempatan mempopulerkan programnya untuk dikenal hingga ke atas,” sebut dia.

Lebih jauh, kata Rully, program-program Prabowo-Sandiaga tersebut juga tidak masuk dalam hot issue. “Ini kekurangannya, tidak masuk dalam debat program tapi lebih kepada hal-hal yang lebih sensional," kata Rully.

Sedangkan untuk 10 isu yang ramai di media sosial dan pemberitaan media online sebut Rully yaitu, Hoaks Ratna Sarumpaet, pembakaran bendera, Tampang Boyolali, Politik Sontoloyo,  Politik genderuwo, 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi, Janji Esemka, Game of Thrones Jokowi, Sandiaga lompat makam  dan Jokowi gratiskan Suramadu.

Bagaimana dengan tingkat elektabilitas kedua pasangan? Ternyata kedua paslon Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandiaga relatif tak bergerak signifikan.  Hasilnya, selama bulan November 2018, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mencapai 53,2%, unggul di atas pasangan Prabowo-Sandiaga di angka 31,2%. Sementara itu, 15,6% responden tidak menjawab. “Selama dua bulan terakhir, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga mengalami turun-naik. Namun tidak banyak mengubah selisih elektabilitasnya,” ujar Founder LSI, Denny JA dalam keteranganya.

Survei ini, kata Denny JA menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih unggul di atas Prabowo – Sandi dengan selisih di atas 20 %. “Jokowi diuntungkan karena enam program utamanya sudah dikenal luas di atas 50%. Sementara selama dua bulan kampanye, Prabowo-Sandiaga belum banyak berkesempatan mempopulerkan programnya untuk dikenal di atas 50%,” jelasnya.

Denny JA mengambil kesimpulan, bahwa kedua pasangan capres sebenarnya mempunyai program yang disukai dan sangat bisa menambah elektabilitas, tapi tim kampanye kedua pasangan kurang mengangkat program ini. “Akibatnya, dua bulan masa kampanye program dikalahkan oleh isu sensasional yang tidak berpengaruh pada kenaikan elektabilitas,” pungkasnya.