Gedung Perpusnas Tertinggi di Dunia & Minat Baca

Gedung Perpusnas Tertinggi di Dunia & Minat Baca
Membaca (The Odyssey Online)

MONDAYREVIEW.COM - Presiden Joko Widodo, Kamis (14/9), meresmikan gedung Perpustakaan Nasional. Simbolisasi peresmian dilakukan dengan penekanan sirine bersama-sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando dan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saeful Hidayat.

Dalam sambutannya, Presiden menyebut gedung perpustakaan nasional yang dibangun sejak dua tahun empat bulan yang lalu dan memiliki 27 lantai itu merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia.

"Dulu, ini hanya tiga lantai, enggak ada yang mau datang ke sini. Sekarang 27 lantai plus satu lantai basement. Jadi enggak kaget kalau gedung ini tertinggi di dunia untuk gedung perpustakaan," ujar Jokowi seperti dilansir Kompas.

Diresmikannya gedung perpustakaan nasional yang memiliki 27 lantai ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca dari penduduk negeri ini. Seperti diketahui berdasarkan ranking peringkat pendidikan dunia atau World Education yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2016, Indonesia menempati urutan ke 57 dari total 65 negara. Yang diukur dari peringkat tersebut yakni membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan.

Data dari UNESCO pada tahun 2012 menyatakan hanya 1 dari 1000 orang penduduk Indonesia yang memiliki minat baca serius. Sementara itu bagi penulis dan praktisi buku, Gol A Gong menyatakan minat baca masyarakat Indonesia sesungguhnya tinggi.

“Saya melihat minat bacanya sudah tinggi. Indikasinya dengan banyaknya komunitas literasi di Indonesia, di 34 provinsi. Ada yang versi pemerintah, taman bacaan masyarakat lebih dari 10.000-an,” kata Gol A Gong saat ditemui di acara Festival dan Lomba Literasi PKLK 2017 di Pekanbaru, Riau, Rabu (5/4).

“Minat baca tinggi bisa dilihat dengan membaca berita-berita online. Misalnya Detik.com ada 1 materi berita bisa dibaca sama 100 jutaan, page view-nya. Itu kan menunjukkan minat bacanya sudah tinggi,” tambah Gol A Gong yang aktif mengelola sanggar Rumah Dunia di Serang, Banten.
Gol A Gong memandang permasalahannya lebih terletak di kuantitas buku yang dicetak dan harga buku yang mahal.

“Indikasinya buku setahun dicetak 18.000 judul, padahal jumlah penduduk Indonesia 250 juta,” urai Gol A Gong yang menjadi juri Lomba Penulisan Kreatif (Cerpen) Festival dan Lomba Literasi PKLK 2017. “Saya melihat mulailah sekarang pemerintah, pers Indonesia optimis bahwa sesungguhnya minat baca di Indonesia tinggi, minat belinya yang jadi masalah. Karena disinilah kemudian permasalahan pengusaha, pajak, harga buku mahal, itu harusnya di situ yang diselesaikan.”

Ragam cara untuk meningkatkan minat baca pun ditempuh melalui Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 diantaranya dengan Gerakan 15 Menit Membaca. Selama 15 menit, siswa diharapkan membaca buku non teks pelajaran. Selain itu Gerakan Literasi Nasional juga terus dikembangkan.