Geliat IBM Bekasi Membangun Negeri

Geliat IBM Bekasi Membangun Negeri
IBM Bekasi secara serentak menggelar penandatangan Perjanjian Kerja Sama (MoU) dalam satu kesatuan waktu dengan lembaga-lembaga yang fokus dalam entrepreneur Sabtu, (8/8/2020).

SABTU legi, 8 Agustus 2020 kalender gregorian, langit Bekasi biru cerah, tak ada mendung maupun hujan. Guratan sejarah dimulai, pasalnya IBM Bekasi secara serentak menggelar penandatangan Perjanjian Kerja Sama (MoU) dalam satu kesatuan waktu dengan lembaga-lembaga yang fokus dalam entrepreneur.

Lembaga-lembaga tersebut adalah Google School Indonesia (GOOSHI), Asosiasi Komunitas Marketing Indonesia (KOMISI), PT. OASE Jejaring Teknologi (OJT), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (MGMP PKK) Jawa Barat. Hebatnya, kelima lembaga tersebut berkomiten membantu IBM Bekasi mencetak pebisnis muda beretika dan syar’i.

Rektor IBM Bekasi, Dr. Jaenudin, S.Ag., M.Pd. melonjak. Ia gembira, terlihat ketika mengawali sambutannya dan mengatakan, jumlah mahasiswa tahun ini sudah naik tajam. Ada 500 orang yang mendaftar.

“IBM Bekasi berupaya menjalankan amanah sesuai dengan korikor dan kebutuhan masyarakat. Hingga akhirnya, kepercayaan masyarakat pun terpatri dalam hati,” ungkap pria asli Kuningan, Jawa Barat ini.

Dengan pendatanganan MoU dan kehadiran lembaga-lembaga ini mahasiswa IBM Bekasi akan dibekali oleh Google School Indonesia tentang “Pendidikan dan Pelatihan Keterampiran Digitalisasi Teknik Informatika, Manajemen Bisnis dan Komunikasi Bisnis”. Sedangkan “Pendidikan dan Pelatihan Marketing” akan dibekali oleh KOMISI.

Bekal yang diberikan para mitra tersebut tentu saja amat dibutuhkan. Apalagi IBM Bekasi saat ini sudah memiliki Pusat Inkubasi Bisnis (PIB), produknya berupa air minum 'GUZLE'. Kini, memarketkan produk internal menjadi sebuah keniscayaan. Para mahasiswa akan dilatih menjadi sales-sales professional dan berkarakter.

Sebagai perpanjangan bisnis bagi mahasiswa, IBM Bekasi menggandeng PT. OASE sebagai media Konsultansi dan Pengembangan Pusat Jaringan Inkubator Bisnis, Pengembangan, Penjualan dan Pendampingan Produk-Produk Usaha  di Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi dan Jaringan Muhammadiyah.

“OASE sebagai Lembaga yang sudah level nasional dan internasional akan memberikan kontribusi positif dalam edukasi kewirausahaan dengan langsung praktik”, tandas Jenudin.

Sementara dengan MGMP PKK tentang “Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan”. Mahasiswa akan dilatih dan dididik kewirausahaan dan keagamaan, mahasiswa perlu pembekalan keterpaduan itu, agar terjun di tengah-tengah masyarakat menjadi pebisnis yang amanah, jujur, dan memiliki karakter yang berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Penandatanganan kesepakatan juga dilakukan dengan Lembaga GOOSHI yang dihadiri lagsung oleh Pimpinannya yaitu Kistiawan S.E, M.A, dari Asosiasi KOMISI dihadiri oleh Ahmad Madani (Ketua DPD Provinsi DKI Jakarta), sedangkan dari PT. OASE Jejaring Teknologi oleh Taru Jugo Wisnu selaku Direktur Utama, Adapun dari MGMP PKK langsung dihadiri oleh Ketua MGMP PKK Jawa Barat yaitu Teguh Priyanto, A.Md. (TFN), S.Pd.I., M.M.

Dari offline ke online

Gelombang industrialisasi dengan keterbukaan akses dan kawasan di sektor Industri tidak dapat dipisahkan dari ranah kehidupan saat ini yang berubah drastis. Hampir semua sisi kehidupan kita saat ini beralih dari offline menuju online. Kawasan-kawasan terpadu industri seperti Jababeka, (Tanjung Priok-Jakarta, Cilegon-Banten, Bekasi-Jawa Barat, Karawang-Jawa Barat, Surabaya-Jawa Timur, dan Pasuruan-Jawa Timur lambat laun kan berubah juga.

Pada ranah ini, maka penting untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang tak hanya piawai berteori, namun juga ahli dalam praktiknya. Sehingga pemberdayaan tenaga kerja lebih mudah dan berkembang.

Itulah kenapa, ketika menyampaikan sambutannya, Pimpinan GOOSHI, Kistiawan S.E, M.A, mengungkapkan, selain ia bangga bisa kerja sama dengan IBM, dirinya juga berharap lulusan IBM lebih produktif berkarya dalam bisnis dengan penghasilan bukan nilai-nilai.

Bagi dia, yang penting adalah bagaimana mahasiswa bisa hidup bukan cuma bisa lulus. Nilai sama dengan cashflow tapi produktif merupakan kemandirian. “Kita membutuhkan SDM Indonesia maju dan produktif, saat ini tidaklah sulit untuk mempush produk, gunakan media online, akan menyebar dalam sekian menit produk yang ditawarkan,” tegas Kistiawan.

Ketua Asosiasi KOMISI, Ahmad Madani juga senada dengan Kistiawan. Menurutnya, dinamika kualifikasi nilai-nilai akademik sering tidak sepadan dengan yang telah dihasilkan di bangku sekolah atau kuliah. Kata dia, kalau bekerja di pabrik dibatasi dengan waktu dan lembur. Tapi kalau mahasiswa IBM Bekasi Produktif dan menggenjot bidang kerjanya secara mandiri itu akan lebih berperan di masyarakat tidak harus dibatasi oleh waktu dan lembur-lembur.

Karena itu, saya sangat senang dengan kesedian Asosiasi Komisi untuk melatih calon marketing dengan etik, biaya murah, dan hasil berkualitas. Harapannya, kata dia, mahasiswa IBM Bekasi menjadi sales-sales produk yang paham potensi dirinya. “Mampu berbuat juga harus mampu menghasilkan produk yang memasyarakat, media online bisa dijadikan sarana untuk memarket produk,” ungkap Ahmad.

Hal menarik lainnya, coba disampaikan Direkut Utama PT. OASE Jejaring Teknologi, Taru Jugo Wisnu. Menurut dia, bisnis itu menjual, ada perubahan paradigma pada masyarakat sekarang ini ketika internet ada, dari sektor industri ke sektor jasa. Sementara ini industri masih menggunakan sistem manualiasi atau konvensional tenaga manusia walau ada beberapa industri yang menggunakan robotik.

Taru memiliki harapan besar terhadap IBM Bekasi, agar para mahasiswa dalam berbisnis jangan banyak teori, rancang dengan baik dan matang. Lalu praktikanlewat Pusat Inkubasi Bisnis IBM. “Untuk membangun SDM yang dapat berkembang bukan pada nilai kuliah tapi pada hasil outputnya,” tuturnya.

Pada akhirnya, membangun kemitraan memang tidak bisa dikalkulasi di atas kertas secara teoritik. Apalagi persoalan melatih, mendidik, mengembangkan dan memberdayakan bukan bicara hanya skala kampus to kampus saja. Namun sudah jadi persoalan kebangsaan, terutama untuk kepentingan generasi bangsa, sebagai pemegang estafeta kepemimpinan. Dalam konteks ini, ranah praktik harus lebih banyak dilakukan.

Kapan saja, pekerjaan bisa berhenti atau bahkan musnah. Karena itu yang terpenting, bagaimana membangun lowongan pekerjaan sebanyak mungkin. Para generasi bangsa harus diajarkan untuk tidak hanya bangga pada nilai, namun juga kemandirian.

Semua potensi yang dimiliki harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih produktif. Karena bisnis masa depan adalah bisnis jejaring, bukan sekadar soal uang dan pendapatan. Bisnis mada depan juga sejatinya bukan cuma untuk kita, untuk keluarga, atau kampus semata. Tapi juga untuk Indonesia dan peradaban manusia. Karena itu, dirikan bisnis yang beretika, usaha yang kreatif nan cantik, pekerjaan yang asyik dan juga beradab. Wallahu a'lam bish-shawabi.

Yoni Haris Setiawan
Kepala Biro BAAK Institut Bisnis Muhammadiyah/IBM Bekasi
CEO Lembaga MTEL QURUTA Management Indonesia