Gerakan Literasi Sekolah ala SMK 5 Yogyakarta

Gerakan Literasi Sekolah ala SMK 5 Yogyakarta
Booth SMKN5 Yogyakarta, dalam pameran LKS SMK 2019, di Jogja Ekspo Center, Yogyakarta.

MONITORDAY.COM - Patut disadari, Indonesia masih merupakan salah satu negara dengan tingkat literasi yang rendah. Kegiatan membaca belum menjadi kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia. Di mana membaca juga belum ditempatkan pada faktor utama, melainkan hanya hobi disela waktu senggang. 

Seperti dalam penelitian terakhir Program for International Student Assessment (PISA) pada 2015, yang menunjukkan Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara yang diteliti. Sementara berdasarkan riset CCSU Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang diriset.

Hal itu menjadi salah satu faktor yang menggerakan SMKN 5 Yogyakarta membuat 'Gerakan Literasi Sekolah'. Dalam hal ini, kegiatan membaca "dipaksakan" kepada setiap siswa agar memunculkan satu kebiasaan baru yang positif. 

Sebagai sekolah kejuruan berbasis Seni Rupa dan Kriya, SMKN 5 Yogyakarta menyadari betul bahwa diperlukannya wawasan yang luas agar karya seni yang dihasilkan oleh siswa tidak ketinggalan zaman. karena seni terus berkembang sebagaimana budaya manusianya yang begitu cepat berubah.

"Sebenarnya kami basisnya seni rupa dan kriya. Sehingga anak-anak butuh wacana untuk menambah wawasan. Karena kreasi itu tidak boleh ketinggalan harus berkembang terus," ujar Nuryanti, guru SMKN 5 Yogyakarta, saat menjaga booth pameran sekolahnya, pada gelaran LKS SMK 2019, di Jogja Ekspo Center (10/7). 

Nuryanti menjelaskan, implementasi dari program itu sudah dilaksanakan dalam beberapa kegiatan. Seperti dengan mewajibkan kepada siswa untuk membaca 5 menit sebelum pelajaran dimulai, hingga dibentuknya pojok literasi yang berisi buku-buku bacaan di setiap kelasnya.

Selain itu, digelar juga setiap bulan sekali kegiatan literasi bersama berupa kegiatan yang dipandu oleh satgas literasi yang dibentuk oleh sekolah. Serta juga pada setiap peringatan hari-hari besar nasional digelar perlombaan yang berkaitan dengan dunia literasi, seperti menulis puisi, prosa dan lain-lain.

"Bahkan Kita juga pernah membuat buku antalogi karya siswa, sehingga anak-anak merasa senang jika hasil tulisannya dipublikasikan," tutur Nuryanti.

Terkait bacaan yang diwajibkan untuk dibaca, pihak sekolah awalnya yang menentukan, dengan mengambil buku dari perpustakaan. Namun kemudian seiring berjalannya program tersebut buku yang ada dinilai tidak memadai, sehingga dibuatlah pojok literasi pada setiap kelas dengan buku yang dikumpulkan dari setiap siswa di kelas tersebut.

Dalam konsep ini, literasi yang dimaksud juga tidak terpaku pada baca tulis, namun juga terkait literasi sains, literasi budaya dan kebangsaan, literasi digital, literasi finansial serta literasi numerasi. Menurut Nuryanti, hal tersebut penting bertujuan untuk menambah wawasan peserta didik terkait hal itu. 

Kedepan, Nuryanti berharap agar program ini tetap berjalan dan tetap dicantumkan dalam kurikulum sekolah. Sehingga siswa mempunyai kebiasaan membaca buku serta memiliki wawasan yang luas. 

"Kami ingin sekali anak-anak dan seluruh warga sekolah terbuka wawasannya, senang untuk membaca sehingga mereka paham dengan apa yang harus dilakukan, dan juga bisa menggali budaya nusantara," ujar dia. (ADV)