Gerindra Semakin PD

Gerindra Semakin PD
SBY dan Prabowo (c) partaigerindra.or.id

SEKIAN lama waktu dibutuhkan untuk menakar calon presiden yang layak menjadi penantang Jokowi. Bulan demi bulan berlalu, semua terlihat mengulur waktu. Hingga tak terasa dalam hitungan hari tenggat waktu akan segera tiba. Lewat dari itu, berarti kedaluarsa. Publik masih akan dilanda harap-harap cemas. Baru Jokowi yang bisa dipastikan maju sebagai capres. Penentuan cawapresnya pun masih menunggu langkah lawan di percaturan politik yang tak menentu.

Di kubu lawan Jokowi, mendekati 10 hari waktu pendaftaran tersisa, belum ada kepastian pasangan capres-cawapres yang akan berlaga. Dalam beberapa bulan terakhir, bahkan banyak yang meragukan bahwa Prabowo akan maju dalam Pilpres 2019. Tak sedikit yang membayangkan Jokowi harus berlaga melawan kotak kosong. Lalu beredar #2019gantipresiden yang setidaknya untuk sementara waktu bisa menjadi ’tabung oksigen’ bagi oposisi yang sesak nafas. Sambutan publik tak bisa dipandang remeh.

Kekuatan yang digalang kubu oposan berasal dari berbagai latar belakang. Dengan banyak kepentingan. Dikemas dalam gagasan Koalisi Keummatan. Islam Politik yang cenderung puritan mengagregasikan kepentingan politiknya ke dalam rangkaian gerbong Gerindra yang berikon Prabowo Subianto. Tentu tidak mudah menyatukan visi keummatan dan kebangsaan dalam suasana politik yang panas. Pertimbangan dan kalkulasi pragmatis juga mengemuka.   

Mengapa Prabowo berhasil meraih simpati kalangan Islam? Gerindra sebagai lokomotif oposan bukan partai bercorak Islam. Prabowo bukan dari kalangan santri. Bahkan adik sekaligus kompanyonnya dalam menakhodai Gerindra, Hasjim Djojohadikusumo, seorang penganut Katholik. Gerindra adalah partai nasionalis yang memperjuangkan kedaulatan bangsa. Isu anti neoliberal dan anti penjajahan ekonomi oleh asing kerap menjadi substansi kampanye Partai berlambang kepala garuda ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Prabowo sudah sejak lama menjalin hubungan dengan banyak Tokoh Islam.    

Sosok Prabowo menjadi harapan tersendiri bagi mereka yang tidak sejalan dengan Rezim Jokowi. Secara realistis, dalam politik elektoral hari ini, popularitas dan kecukupan modal finansial menjadi isu penting. Modal dana kampanye sebesar apapun takkan kuat mendongkrak popularitas calon yang jauh tertinggal dalam jajak pendapat. Tanpa modal popularitas yang memadai, mustahil elektabilitas bisa mengimbangi petahana. Dan Prabowo tetap menjadi runner –up dalam popularitas dan elektabilitas capres.

Percaturan politik terus berlangsung. Sang petahana mulai merangkul tokoh dan kelompok Islam. Agaknya, Jokowi bisa belajar dari kegagalan Basuki Tjahaja Purnama yang gagal melangkah ke periode berikutnya dalam memimpin DKI. Jokowi sendiri seorang muslim. Tentu lebih mudah baginya untuk mendekat kepada kelompok Islam. Sebelum maju dalam pencalonan presiden 2014, kesan bahwa Jokowi jauh dari kelompok Islam sangat kuat berhembus. Maka langkah Jokowi mendekati dan bahkan membuka peluang bagi Tokoh Islam untuk mendampinginya menuju gelanggang laga 2019 terlihat intens.

Pada saat yang sama, posisi Partai Demokrat yang selama ini berada di kubu netral mulai goyah. Kekuatan ‘penyeimbang’ ini dikabarkan gagal mendorong AHY sebagai putra mahkota untuk mendampingi Jokowi. Tersirat dalam pernyataan SBY tentang kegagalannya menjalin silaturahmi dengan Megawati. Perang pernyataan yang terjadi antara Partai Demokrat dan PDIP pun menunjukkan bahwa tawar-menawar itu telah gagal.   

Langkah ini, langsung atau tidak, membuat kubu penantang berubah haluan. Gerbong politik oposan yang dipimpin Gerindra mendapat angin segar. PD merapat ke lokomotif Gerindra. Kepercayaan dirinya bertambah. Daya tawarnya pada PAN dan PKS juga meningkat. Kemungkinan untuk mengusung cawapres alternatif juga terbuka.     

Bila Jokowi menggandeng TGB, bukan tidak mungkin Prabowo akan menggandeng Salim Segaf Al Djuffrie. Tidak hanya sosok ulama yang dikedepankan. TGB dan Salim Segaf juga politisi. Keduanya faham dan berpengalaman dalam pemerintahan. Inilah hari-hari menghitung langkah lawan politik. Hitungan kasarnya, Jokowi masih diuntungkan karena popularitas TGB jauh melampaui Salim Segaf. Namun, kerja politik setahun yang massif bisa berakibat lain. Pertarungan tetap akan berlangsung ketat.

Hari-hari ini, Gerindra sedang berusaha kembali percaya diri. Duet Duo Purnawirawan Jenderal TNI ini akan diuji siasat politiknya. Kali ini bukan dengan peluru dan senapan. Mereka berbekal mesin politik. Kemampuan logistik dan tentu saja momentum. Akankah kesepakatan ini efektif dalam menghadang laju Jokowi untuk menuntaskan program kerjanya di periode kedua kelak? Tuhanlah yang akan menentukan.