Gibran dan Kotak Kosong

Gibran dan Kotak Kosong
Gibran saat menghadap Ganjar Pranowo/ Antara

MONDAYREVIEW.COM – Arah angin Pilkada 2020 sudah semakin jelas. Sejumlah tahapan telah dimulai. Para calon kepala daerah sudah mengantongi rekomendasi dari partai politik. Derap langkah KPU dan dukungan Kementerian Dalam Negeri dalam menyiapkan ajang pemilihan di tengah pandemi sudah terlihat semakin kencang.

Pertarungan tak hanya melawan pasangan calon lain. Tak sedikit yang kemungkinan akan berlaga melawan kotak kosong. Sebanyak delapan calon kepala daerah yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) di Pilkada Jateng 2020 berpotensi bakal melawan kota kosong yakni di Kota Semarang, Solo, Kebumen, Grobogan, Pemalang, Sragen, Wonosobo, dan Sukoharjo. Sebab belum terlihat muncul calon lain.  

Termasuk putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka yang telah direkomendasikan untuk maju sebagai calon Wali Kota Solo pada Pilkada 2020. PDIP memasangkan Gibran dengan kader partai, Teguh Prakosa, yang juga Ketua DPRD Solo periode 2014-2019. Kemungkinan besar pasangan Gibran-Teguh akan menjadi calon tunggal.

Sempat beredar kabar bahwa Partai Keadilan Sejahtera akan mengusung kandidat untuk menghadapi duet super kuat PDIP ini. Ketua DPD PKS Solo Abdul Ghofar kepada wartawan di Solo, Jumat (17/7/2020) menegaskan  bahwa sasaran pertama PKS adalah menjalin komunikasi dengan Purnomo yang sejak awal memang masuk dalam radar survei PKS. PKS yang hanya bermodal lima kursi DPRD Solo harus mencari tambahan empat kursi lagi.

Harapan PKS segera kandas karena dua partai yang diharapkannya yakni Partai Golkar dan PAN telah menetapkan pilihannya untuk mendukung Gibran-Teguh. Partai Golkar mendukung Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Surakarta periode 2020—2025, apalagi sejak awal partai berlambang pohon beringin ini berkeinginan keras mendukung putra sulung Presiden RI Joko Widodo itu menjadi orang pertama di Solo.

Gibran memenuhi kriteria Partai Golkar sebagai orang yang berani, cerdas, kreatif, milenial, dan punya wawasan kebangsaan yang luas. Andai tidak mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP, Partai Golkar tetap akan mengusung Gibran. Alhamdulillah, PDIP akhirnya memilih Gibran untuk berlaga pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta, 9 Desember mendatang. Hal itu ditegaskan Ketua Pemenangan Pemilu Jawa Tengah dan DIY DPP Partai Golkar Dr. H.M. Iqbal Wibisono, S.H., M.H.

Senada dengan Iqbal Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Surakarta Achmad Sapari menyampaikan pihaknya juga siap mendukung Gibran-Teguh Prakosa. Bahkan, DPD PAN mendapat perintah dari DPP untuk mendukung bakal calon yang diusung oleh PDIP.

Peta kekuatan berdasarkan hasil Pemilu DPRD Kota Surakarta 2019 totalnya 36 kursi, yakni PDIP meraih 30 kursi serta Partai Golkar dan PAN masing-masing tiga kursi DPRD setempat.

Jika menghadapi kotak kosong mekanisme pencoblosannya, mengacu ke Peraturan KPU Nomor 14 Tahun 2015 dan Keputusan KPU Nomor 144 Tahun 2016, bahwa Pilkada dengan satu pasangan calon dilaksanakan dengan surat suara berdesain pasangan calon dan kolom kosong. Pemilih dapat mencoblos kedua kolom, baik kolom bergambar pasangan calon maupun kolom kosong.

Sementara itu, untuk kriteria pemenang, hal tersebut telah diatur di Pasal 22 dalam peraturan KPU No. 14 tahun 2015 dimana pasangan calon wali dinyatakan menang jika memperoleh suara lebih banyak dari kolom kosong.

Sosok Gibran banyak dikritik terkait politik dinasti. Sejauh ini Gibran dikenal sebagai pengusaha dan tak ikut campur urusan politik.

Latar belakang pendidikan Gibran cukup mumpuni. Sekolah Menengah Atas (SMA) dijalaninya di Orchid Park Secondary School, Singapura. Pendidikan tinggi ditempuh Gibran di Management Development Institute of Singapore (MDIS) dan University of Technology Insearch, Sydney, Australia.

Sejak Desember 2010, ia membuka usaha katering yang diberi nama Chilli Pari. Ia juga merupakan pendiri perusahaan kuliner martabak yang disebut Markobar. Ia menjabat sebagai ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo. Gibran juga menjadi salah satu pendiri Kerjaholic sebuah aplikasi yang bisa menghubungkan para pencari kerja dengan pihak-pihak yang sedang mencari pekerja lepas dan paruh waktu.

Saatnya Gibran membuktikan bahwa langkahnya tulus dan bersih dari politik dinasti serta aji mumpung. Politik tentu tak sama dengan dunia bisnis yang selama ini digelutinya.