Global On Board Training 2018 : Perlu Inovasi dalam Penguatan Lembaga Pendidikan Maritim

Global On Board Training 2018 : Perlu Inovasi dalam Penguatan Lembaga Pendidikan Maritim
Narasumber bersama Taruna STIP Jakarta

 

MONDAYREVIEW.COM- Bagaimana kebutuhan dan ketersediaan pelaut yang memenuhi standar kompetensi sesuai regulasi IMO dalam industri pelayaran internasional saat ini? Hal inilah yang  menjadi salah satu perhatian para peserta forum Global On Board Training (GOBT)  yang diselenggarakan di Jakarta oleh Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) pada  tanggal 14-16 Nopember 2018. Forum GOBT kali ini diinisiasi oleh empat negara yaitu Indonesia, Bangladesh, Mozambique dan Tanzania untuk memperkuat kompetensi pelaut sesuai dengan standar yang ditetapkan secara internasional.

Konferensi dan pelatihan  ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan, terutama yang berkaitan dengan praktik lapangan sesuai  SCTW, mempererat kerja sama, dan meningkatkan kesempatan pelatihan di atas kapal dengan mengerahkan dan penyebaran kapal latih secara global didukung dengan sistem manajemen yang baik.

Melalui forum ini, ada semangat yang kuat untuk meningkatkan daya saing  dalam pengembangan pendidikan maritim di negara-negara peserta dengan beberapa negara lainnya. Indonesia, Bangladesh, Mozambique dan Tanzania tidak memiliki Universitas Maritim. Pendidikan maritim diselenggarakan di level  sekolah tinggi, akademi, politeknik, dan balai pendidikan dan pelatihan pelayaran.  Berbeda dengan India dan Ukraina misalnya yang telah memiliki Universitas Maritim dengan dukungan negara.

“Kita baru mulai dan kita akan semakin berkembang di masa yang akan datang dengan semakin banyak negara yang bergabung atau terlibat dalam GOBT. Dengan mulai dari kecil akan banyak keputusan yang cepat diambil. Prinsipnya Start Small Think Big . Butuh waktu dari rekomendasi menuju implementasi. Kita harus menunggu bagaimana efektifitas rekomendasi forum ini, “ kata Anish Wankhede, COO Marine Insight yang menjadi salah satu keynote speaker dalam acara tersebut. 

Wankhede mengungkapkan perspektif personalnya terkait industry 4.0 dalam dunia pelayaran.   “Kita bisa melangkah ke industry 4.0 jika kita sudah mampu menyelesaikan persoalan besar yang ada di depan mata. Ada kebutuhan tenaga pelaut, namun dalam 5 tahun terakhir jumlahnya semakin menurun, ” ungkapnya. Pelaut yang tidak kompeten tentu akan tersisih dari pasar kerja industri pelayaran.      

Maka, menurut Wankhede yang dalam paparannya mengupas tentang dampak otomasi kapal mengungkapkan bahwa salah satu agenda penting forum semacam GOBT ini adalah menggagas  revisi atau penyesuaian jenis dan materi training selaras dengan perkembangan teknologi.  Materi pelatihan terkait pengenalan teknologi informasi, cyber security, dan cyber safety perlu diberikan pada pada taruna dan pelaut.

Kapal-kapal modern memiliki teknologi mutakhir yang canggih (advanced technology) sementara laboratorium simulator yang digunakan di sekolah-sekolah pelayaran menggunakan teknologi yang setidakya telah berusia 5-6 tahun bahkan lebih . Perkembangan teknologi sangat cepat,  dalam 3 tahun kadang ada perkembangan baru teknologi di kapal modern, bahkan di masa mendatang akan dimungkinkan kapal-kapal mutakhir dapat digerakkan secara remote tanpa awak. Untuk itu kita sekarang  menggunakan virtual simulator yang sangat  ringkas. Piranti lunaknya dapat disesuaikan dengan kapal-kapal berteknologi terkini.

Terkait pembelajaran jarak-jauh (long-distance learning), Wahkende mengatakan bahwa model itu hanya efektif untuk micro model learning. Misalnya untuk memperdalam suatu topik melalui video. Materinya sesuai pilihan dan kebutuhan pembelajar.  Sementara basic training adalah macro model learning. Dalam macro-model learning masih dibutuhkan kelas tatap muka, ada interaksi dengan instruktur, dan ada kesempatan untuk mendalami materi training dalam kelas tersebut.