Gratifikasi Mantan Raja Ancam Spanyol Ubah Bentuk Negara

Gratifikasi Mantan Raja Ancam Spanyol Ubah Bentuk Negara
Raja Spanyol dan permaisuri/ net

MONDAYREVIEW.COM – Sejarah bagai roda berputar. Spanyol yang pernah mengubah bentuk negaranya dari republik menjadi kerajaan berhadapan dengan jajak pendapat rakyatnya yang menginginkan kembalinya bentuk republik. Mantan Raja Juan Carlos yang dulu menghentikan kekuasaan otoriter korup kini justru menjadi buron karena tuduhan gratifikasi yang memicu opini publik untuk mengubah bentuk negara Spanyol.  

Pengadilan Mahkamah Spanyol pada Juni lalu membuka hasil penyelidikan awal tentang Juan Carlon menerima gratifikasi senilai US$ 100 juta dari Raja Arab Saudi sebelum Raja Salman. Dana itu diduga terkait dengan kontrak pembangunan rel kereta cepat di Arab Saudi.

Surat kabar Swiss, La Tribune de Geneve melaporkan uang yang diterima Juan Carlos. Aparat berwenang Swiss telah melakukan penyelidikan atas kasus ini.

Skandal keuangan Juan Carlos, ayah dari raja Spanyol yang saat ini berkuasa, mengagetkan warga Spanyol. Bukannya menjalani proses hukum, Juan Carlos memilih kabur ke Uni Emirat Arab pada Agustus lalu.

Juan Carlos lahir di Roma, Italia, 5 Januari 1938; umur 82 tahun) adalah Raja Spanyol yang memerintah dari 1975 hingga 2014. Ia turun takhta sebagai raja dan digantikan oleh anaknya Raja Felipe VI. Setelah abdikasi tersebut, Juan Carlos dan istrinya Sofía mempertahankan gelar mereka Raja dan Ratu.

Begini sejarahnya hingga Spanyol berubah dari republik ke kerajaan. Diktator Francisco Franco mengambil alih pemerintahan Spanyol dari Republik Spanyol Kedua dengan kekerasan pada tahun 1939. Pada tahun 1969 ia menominasikan Juan Carlos, cucu dari Raja Alfonso XIII, untuk menjadi kepala negara berikutnya, melewati ayahnya, dan mengharapkan dia untuk melanjutkan rezim otoriternya sendiri.

Juan Carlos menjadi Raja pada 22 November 1975, dua hari setelah kematian Franco, pemerintahan monarki pertama sejak 1931. Segera setelah penobatan, Juan Carlos memperkenalkan reformasi untuk membongkar rezim Francisco Franco dan memulai transisi Spanyol menuju demokrasi.

Hal ini menyebabkan persetujuan dari Konstitusi Spanyol 1978 dalam sebuah referendum, yang mendirikan monarki konstitusional. Juan Carlos juga memainkan peran utama pada tahun 1981 dalam mencegah kudeta yang berusaha untuk kembali ke pemerintahan Francisco Franco.

Selama pemerintahannya Juan Carlos menjabat sebagai presiden Organisasi Negara Ibero-Amerika, yang mewakili lebih dari 700 juta orang di 24 negara-negara anggota yakni Spanyol, Portugal, dan bekas koloni mereka di Amerika. Pada tahun 2008, ia dianggap sebagai pemimpin paling populer di seluruh Ibero-Amerika