Guru, Buku, dan Bangku

Guru, Buku, dan Bangku
ilustrasi/ net

MONDAYREVIEW.COM – Pendidikan sangat penting bagi sebuah bangsa. Kesadaran itu terpatri dalam konstitusi sebagai tujuan nasional. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita luhur yang mengikat sendi-sendi kebangsaan kita. Komitmen itu pun terwujud dalam gerak langkah Pemerintah dan masyarakat yang bahu membahu membangun dunia pendidikan Indonesia. Sekolah negeri dan swasta sama-sama penting dan nyata dibutuhkan.     

Indonesia bangsa besar penuh harapan. Bonus demografi di depan mata. Ukuran ekonomi cukup besar. Salah satu syarat agar kita dapat memanen keunggulan di masa depan adalah kualitas SDM yang sehat dan berkualitas. Berintegritas, kompeten, dan cakap. Sayang sekali jika kita kehilangan momentum tersebut. Apalagi jika kita gagal mengelola pendidikan dan berakibat pada ketertinggalan kita dalam kompetisi global.

Bagi masyarakat awam sekolah difahami secara sederhana menyangkut guru, buku, dan bangku. Posisi guru sangat penting hingga saat ini. Ketersediaan Guru yang berkualitas menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan. Buku dan bahan ajar memang lebih banyak tersedia. Bahkan dalam bentuk elektronik termasuk video pembelajaran. Bangku menjadi representasi dari ketersediaan atau daya tampung sekolah di suatu kawasan.

Berbeda dengan perbincangan di kalangan pengamat dan pengambil kebijakan dunia pendidikan yang mengkaji hal-hal yang pelik termasuk kurikulum. Sehingga muncul adagium setiap ganti menteri pendidikan akan ada pergantian kurikulum. Wacana teknologi pendidikan, link and match, standar PISA, dan Ujian Nasional hampir-hampir lebih gaduh di tingkat elit.

Baru-baru ini kita pun tersengat oleh wacana Program Organisasi Penggerak (POP), Guru Penggerak, Merdeka Belajar, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan soal sekolah negeri buat orang miskin. Bagi khalayak berbagai polemik itu melelahkan dan kurang produktif. Sementara kenyataan di lapangan menujukkan masih terbengkalainya hal-hal yang elementer.

Guru zaman kini pun ditantang untuk memiliki kecakapan digital. Suka tidak suka itulah kebutuhan hari ini apalagi di saat pandemi. Situasi ini tentu juga harus diimbangi dengan kesediaan orang tua untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Peran orang tua dalam membangun karakter anak dan membangkitkan motivasi sebagai pembelajar sangat penting.   

Jumlah SD saat ini 131,974 unit dengan sekira 90% diantaranya adalah sekolah negeri dengan jumlah siswa 22,153,241 orang. Jumlah SMP, SMU/K dan Perguruan Tinggi juga tidak sedikit. Semua sedang berjuang menghadapi situasi sulit. Termasuk kesulitan keuangan di sekolah-sekolah swasta. Dengan jumlah sebanyak itu tentu membutuhkan strategi yang handal dalam menyiasati pemeblejaran di tengah pandemi.

Ketersediaan buku dan bahan ajar yang berkualitas tetap menjadi tantangan. Banyak orang tua yang gelisah karena anaknya tertatlu akrab dengan gawai dan melupakan buku. Buku yang menarik menjadi niscaya tanpa menafikan dalam beberapa materi pasti mengandung hal-hal yang ‘berat’. Misalkan dalam mata pelajaran matematika, buku dengan penyampaian dan contoh menarik penting untuk dihadirkan.

Ketersediaan Infrastruktur pendidikan tak hanya sebatas gedung. Namun kapasitas atau daya tampung bagi peserta didik seringkali masih menjadi soal. Di daerah terpencil masih ada sekolah yang sangat terbatas jumlahnya. Tentu saja ketersediaan guru dan fasilitas penunjangnya juga demikian. Sementara di daerah perkotaan masih berhadapan dengan masalah ketidakmerataan kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain.    

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyelesaikan kurikulum pendidikan yang akan disesuaikan dengan kebijakan adaptasi kebiasaan baru yang diterapkan untuk mengendalikan pandemi COVID-19.

Dalam waktu dekat Kemendikbud akan segera meluncurkan paket kebijakan yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan di masa pandemi. Esensi dari kurikulum tersebut adalah untuk memberikan kepercayaan diri kepada guru untuk melakukan penyederhanaan, perampingan terhadap konten atau materi kurikulum, sehingga para guru bisa lebih fokus pada hal-hal yang lebih esensial dan mendasar. Pendalaman konsep menjadi salah satu titik beratnya.

Saatnya kita merekonstruksi pendidikan kita sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya peserta didik. Tak hanya menjadi anak pintar namun juga berkepribadian kuat.