Hilirisasi sebagai Solusi Mengatasi Rendahnya Harga Komoditas

 

MONDAYREVIEW.COM – Uni Eropa sedang mengembangkan minyak nabati dari bunga matahari untuk menggantikan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Kebijakan ini berimbas pada banned atau larangan impor komoditas CPO dari Indonesia. Parlemen Uni Eropa telah menyetujui rencana pengurangan secara bertahap (phase out) biodiesel berbahan minyak sawit mentah atau crude palm oil pada 2021.

Uni Eropa menegaskan terdapat tiga perhatian utama terkait dengan crude palm oil asal Indonesia yakni keberlanjutan, deforestasi hutan, dan diskusi energi terbarukan. Ketiganya merupakan pertimbangan utama Eropa dalam wacana mengurangin konsumsi CPO Tanah Air.

Minyak nabati dari bunga matahari dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan CPO. Disamping itu tentu ada alasan bisnis dimana negara-negara UE lebih memungkinkan untuk budidaya bunga matahari. Tanaman kelapa sawit adalah jenis tanaman yang hidup di kawasan tropis.

Permintaan dunia pun menurun. Tentu saja hal ini menekan harga komoditas ini di pasar global. Pasar yang terbentuk dari naik turunnya ketersediaan dan permintaan global. Pasar yang mustahil diintervensi sepihak oleh sebuah negara.   

Dari sisi ketersediaan komoditas kelapa sawit  jumlahnya sangat besar. Indonesia memiliki lahan kelapa sawit hingga 13 juta hektare, dengan produksi sebanyak 42 juta ton per tahunnya. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit berlangsung massif dan cenderung terus meningkat terutama di saat booming harga komoditas ini. Hal yang membuat tergusurnya hutan yang terkonversi menjadi lahan perkebunan.

Upaya Pemerintah RI untuk mendongkrak anjloknya permintaan CPO Indonesia dilakukan dengan berbagai langkah. Pemerintah telah berupaya melindungi harga sawit dalam negeri, salah satunya dengan melobi China agar mengimpor lebih banyak sawit Indonesia hingga 500.000 ton. Kebijakan itu tidak berpengaruh banyak bagi perbaikan harga sawit dunia.

Disamping produksi CPO yang terlalu melimpah Indonesia juga  tidak memiliki industri hilir komoditas sawit. Indonesia tidak mengekspor produk olahan kelapa sawit. Selama ini hanya mengekspor CPO apa adanya tanpa nilai tambah. Hal ini tentu menyebabkan ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi pada negara tujuan ekspor. Juga rentan saat terjadi fluktuasi harga di pasar global.

"Jadi, begitu ada problem ekonomi global, semua kena imbas. Harga turun, sawit, sakit semua," ujar Jokowi. Rendahnya harga komoditas sawit ini ditenagarai sangat berpengaruh pada menurunnya tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Pemerintah. Terutama rakyat di kawasan perkebunan kelapa sawit yang terkena dampak langsung atau tidak langsung atas menurunnya harga komoditas ini.

Pemerintahan Presiden Jokowi memahami persoalan ini sebagai salah satu tantangan yang harus dijawab melalui hilirisasi agar para petani sawit dan karet dapat sejahtera kembali. Produk olahan kelapa sait sangat banyak. Salah satu yang diharapkan mampu menyerap volume yang cukup besar adalah industri pengolahan sawit menjadi campuran bahan bakar minyak, yakni B20.

Presiden Joko Widodo optimis jika industri pengolahan kepala sawit menjadi B20 atau biodiesel bisa direalisasikan maka Indonesia bisa memiliki kekuatan yang signifikan dalam menentukan harga.