Hilman Latief : Transformasi Lembaga Filantropi Islam Mengisi ‘Ruang Kosong’ Pembangunan

Hilman Latief : Transformasi Lembaga Filantropi Islam Mengisi ‘Ruang Kosong’ Pembangunan
Prof. Hilman Latief, MA/ zoom

MONDAYREVIEW.COM - Organisasi filantropi Islam yang terus tumbuh dan berkembang tidak lagi ditempatkan sebagai organisasi yang harus selalu dicurigai dan dipandang sebagai ‘musuh’, melainkan juga sebagai mitra strategis pembangunan. Hal ini diungkapkan oleh Hilman Latief dalam Orasi Ilmiahnya pada Sidang Senat Terbuka Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu (30/1/2021).

Orasi ini punya arti tersendiri bagi dunia filantropi di Indonesia yang tengah hangat dengan wacana keterlibatan negara dalam penghimpunan dana berbasis filantropi. Publik sedang kritis bertanya tentang kebijakan terkait wakaf yang kini digulirkan Pemerintah.  

Dalam kesempatan tersebut Hilman Latief menyampaikan pemikirannya di bawah judul  “Etika Islam dan Semangat Filantropisme: Membaca Filantropi sebagai Kritik Pembangunan."

"Di luar kritik dan sikap kehati-hatian terhadap gerakan filantropi Islam, fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini justru menunjukkan bahwa organisasi filantropi Islam kerap terlibat dan dilibatkan oleh negara dalam berbagai misi sosial dan kemanusiaan di berbagai peristiwa," kata Hilman. 

Masalah krisis di Timur Tengah dan beberapa negara lain, telah mendorong lembaga filantropi Islam yang mendapatkan dukungan dari negara untuk berpartisipasi untuk dalam menjalankan misi kemanusiaan seperti di Palestina, Yaman, Syria, Thailand Selatan, Myanmar, Filipina dan lain-lain.

“Perubahan juga telah mewarnai karakter lembaga filantropi Islam di Indonesia yang melihat pembangunan sebagai satu tujuan mereka. Interpretasi keagaman telah diberikan secara kontekstual dan diselaraskan dengan narasi kesejahteraan yang berkembang di dunia internasional,“ lanjut Hilman.

Transformasi lembaga filantropi Islam di Indonesia dan peran yang mereka mainkan untuk mengisi ‘ruang kosong’ dalam program pembangunan di berbagai bidang seperti pengentasan kemiskinan, penyediaan sarana pendidikan, layanan kesehatan, kelestarian lingkungan, ketahanan pangan, penanggulangan bencana alam dan sebagainya menjadi alasan mengapa UNDP dan BAPPENAS menggandeng lembaga filantropi Islam sebagai mitra mereka.

Diluncurkannya naskah Zakat on SDGs oleh BAZNAS (2017) dan pengarusutamaan SDGs menjadi faktor penting untuk mengikat lembaga filantropi Islam dalam mempercepat pembangunan. Lembaga Amil Zakat Nasional sudah semakin akrab dengan pencapaian SDGs. Di belahan dunia lain, the International Council of Voluntary Agencies (ICVA 2018) sedang merumuskan “Islamic Social Financing” untuk “Islamic humanitarian financing”, untuk merespons berbagai keterbatasan dalam mendanai kegiatan kemanusian di berbagai belahan dunia.

“Begitu pula dengan Harvard Medical School, Dubai Global Health Delivery, yang membuat policy paper tentang Muslim Philanthropy and Sustainable Healthcare Delivery (2016), untuk mengefektifkan peran filantropi Islam dalam menanggulangi penyakit-penyakit menular dan tidak menular di berbagai negara,“ imbuh Hilman.  

Hal ini menunjukkan bahwa filantropi Islam sudah menjadi salah satu alternatif pendanaan global untuk kegiatan kemanusiaan. Ada banyak kelemahan dari aktivis Muslim dalam merumuskan secara konseptual kritik mereka terhadap pembangunan dan persoalan-persoalan ketidakadilan global.

Hilman Latief yang lahir di Tasikmalaya adalah seorang santri tulen. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ma'had Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, dan melanjutkan studi sarjananya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1999). Hilman tumbuh dalam keluarga akademis. Ayahnya - Prof. Dr. H. M. Abdurrahman, M.A. - juga seorang Guru Besar.

Kombinasi aktivis dan akademisi ada pada sosok yang semasa mudanya aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini.  Ia juga terlibat di beberapa lingkaran aktivis lainnya. Sebagai aktivis, Hilman hingga kini aktif sebagai Ketua Badan Pengurus LazisMU.

Ketekunannya sebagai akademisi dan periset mengantarkannya meraih gelar MA (Master of Arts) dari Center for Religious and Cross Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada dan dari Department of Comparative Religion, Western Michigan University-Amerika Serikat masing-masing pada tahun 2003 dan 2005.

Hilman memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Utrecht-Belanda pada tahun 2012. Pegiat beladiri karate ini pada 2013 tercatat sebagai peneliti di KITLV (Institut Kerajaan Belanda Studi Asia Tenggara dan Karibia/ Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

Pada tahun 2014, ia dianugerahi Penghargaan Prestasi Alumni dari School of Arts and Sciences, Western Michigan University. Ia telah menjadi staf pengajar selama bertahun-tahun di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).