I Made Jaya Jemena: Regenerasi Guru Seni Rupa Butuh Afirmasi

I Made Jaya Jemena: Regenerasi Guru Seni Rupa Butuh Afirmasi
Foto: FB Jaya Jemena

BERSAHAJA dan khas, begitu kesan pertama yang muncul kala melihat sosok I Made Jaya Jemena. Guru seni rupa SMKN 1 Sukawati, Kabupaten Gianyar Provinsi Bali. Tas ransel seolah tak pernah lepas dari punggungnya. Plus gulungan kanvas putih yang menyembul dari dalam tasnya.

“Bukan untuk gaya-gayaan, sekadar untuk melepas penat di sela-sela mengajar murid-murid seharian,” tutur Jaya Jemena saat ditanya soal kebiasaannya menyimpan kanvas putih di tas ranselnya kemana-mana.

Sebetulnya, bila berpikir untuk diri sendiri, Jaye bisa saja memilih untuk menggeluti karirnya sebagai seorang seniman. Baik membuat lukisan, maupun membuat barong. Tinggal tunggu di rumah, orderan pun mengalir setiap saat. Karena lukisan dan barong seperti tak bisa lepas dari kesenian Bali.

Namun, tidak begitu dengan Jaye Jemena, pemuda kelahiran Gianyar 39 tahun silam ini memilih untuk ikut ambil bagian menjadi penjaga kelestarian seni dan budaya bali; terutama seni lukis batuan dan kerajinan barong dari daerah aslinya Batuan, Gianyar-Bali. Setelah selesai menyelesaikan kuliahnya di Institute Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Jaye memutuskan untuk mengabdi di almaternya SMKN 1 Sukawati. Tentu saja ini berangkat dari keresahannya karena minimnya guru seni di sekolah yang membesarkannya tersebut.

Menurut Jaye, di SMKN 1 Sukawati saat ini disamping para guru senior, hanya ada 4 guru yang tergolong masih muda. Sementara yang lainnya tinggal menunggu bulan saja untuk menyelesaikan tugasnya sebagai pendidik.

 “Saya sebagai guru, merasa prihatin. Karena bagaimana budaya bali bisa dilestarikan sementara saat ini guru-guru senior segera akan pension. Sedangkakan pengangkatan juga belum maksimal,” keluh Jaye Jemena saat berbincang di Ruang Kepala Sekolah.

Dari empat guru tersebut, sayangnya yang dua sudah mengambil sertifikasi untuk program guru keahlian Teknik Informatika, bukan seni rupa. Sehingga realnya, untuk guru seni rupanya hanya ada dua guru yang berusia muda. Itu pun hanya untuk seni rupa murni (lukis), sementara jurusan untuk jurusan patung, kriya, dan DPIL itu belum ada sama sekali.

Inilah yang mestinya bisa difasiliasi oleh para pengemban kebijakan. Mestinya ada kebijakan dari Komite sekolah untuk melanjutkan generasi seni rupa di SMKN 1 Sukawati.

Bila saja bukan karena bantuan para guru senior, maka bisa saja proses belajar mengajar di SMKN 1 Sukawati ini bisa terganggu. Namun nyatanya mereka masih sangat semangat, dan tanpa mengenal lelah. Kalau pun memang ada guru honorer tambahan, namun itu tidak dapat menjamin masa depan regenari pendidik seni di SMKN 1 Sukawati.

Seni rupa memang jurusan yang tak bisa disamakan dengan jurusan-jurusan lainnya di sekolah manapun. Karena sifatnya langka, dalam artian peminat dan potensi memang khas. Meski memang ke depan, jurusan ini sudah sekahirnya dilakukan perubahan. Terutama dengan perkembangan wisata terkini baik di Bali, maupun Indonesia secara lebih luas.

Sebut saja misalnya untuk seni dekorasi, itu amat luas lahan garapannya. Mulai dari dekorasi perhotelan, boga, maupun party dan wedding, itu sangat membutuhkan art dari seni rupa. Pun demikian dengan dunia digital, itu juga sangat luas lahan garapannya. Ada banyak cara misalnya proses seni yang bisa membantu seni lukis. Misalnya saja dalam proses pembuatan pola lukisan, itu dengan bantuan teknologi bisa ditembakan ke sebuah kanvas.

Jaye Jemena menuturkan, perkembangan teknologi yang sedikit banyak akan mengubah cara orang berkesenian, sebetulnya tidak serta merta akan membuat seni itu habis. Sebaliknya, akan terus berkembang, terutama kesenian di bali yang kian hari kian berkembang.

“Kesenian tak akan habis akibat perubahan digital, justru kian berkembang terutama di bali. Apalagi di bali budaya itu sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat bali. Jadi selama orang bali masih ada, maka seni bali akan tetap ada dan berkembang,” pungkas pengrajin barong ini.

Itulah sebabnya, kita butuh ada afirmasi dari pemegang kebijakan untuk menjaga dan mengembangkan seni dan kebudayaan. Termasuk soal fenomena digitalisasi kehidupan saat ini, itu juga perlu ada kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan. Harus ada dasar yang dijaga dan diajarkan kepada anak didik, supaka ada yang terjaga.

“Jika suatu saat data digital itu bermasalah, maka bisa jadi hilang pula kesenian kita. Namun, bayangkan bila anak-anak didik kita masih diajarkan secara tradisional, maka turun temurun itu akan bisa dipertahankan,” pungkas Jaye Jemana. [ ]