Indonesia Bisa Lepas dari Resesi. Ini Hitungannya!

Indonesia Bisa Lepas dari Resesi. Ini Hitungannya!
Sri Mulyani Indrawati/ Antara

MONDAYREVIEW.COM – Pertumbuhan ekonomi menjadi niscaya bagi setiap negara. Perlambatannya saja mengakibatkan kalang kabut apalagi jika terjadi penurunan. Resesi ekonomi digambarkan seperti jurang yang dalam. Yang tergambar di depan mata adalah proyek baru batal, usaha yang sudah berjalan merosot bahkan gulung tikar, gelombang PHK, dan angka kemiskinan meningkat.     

Pertumbuhan ekonomi biasa dihitung per kuartal dan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka-angka pertumbuhan ekonomi dari beberapa negara maju cukup memprihatinkan. Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Jerman, Jepang, dan Prancis telah masuk dalam kondisi resesi ekonomi. Perekonomian Korea Selatan pada kuartal pertama dan kedua tahun ini mengalami kontraksi hingga 3,3 dan 2,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy).  Dua kali penurunan ekonomi ini membuat Korsel secara teknis sudah masuk dalam masa resesi ekonomi.

Sementara ekonomi Hong Kong juga mengalami resesi setelah dikalkulasi akan mengalami kontraksi hingga 3,2 persen pada kuartal III/2019. Hal yang senada terjadi pada Singapura dimana Departemen Perdagangan dan Industri Singapura melaporkan produksi domestik bruto (PDB) terkontraksi 41,2 persen pada kuartal II/2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Ekonomi terbesar ketiga dunia yakni pun Jepang menyusut 2,2 persen tahunan pada Januari-Maret pun membawa mereka ke jurang resesi.  

Di Eropa Prancis memasuki fase resesi teknis setelah pada kuartal IV/2019 mencatat kontraksi sebesar 0,1 persen. Ekonomi negara tersebut bakal anjlok hingga 11 persen, atau lebih buruk dari prediksi sebesar 8 persen, hingga akhir 2020. Jerman yang turun 2,2 persen pada kuartal pertama 2020 sudah diklaim mengalami resesi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 bisa kembali ke tren positif hingga 0,4 persen (year on year/yoy) setelah di kuartal II 2020 laju Produk Domestik Bruto diperkirakan terkontraksi hingga negatif 4,3 persen (yoy).

Sri Mulyani dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Selasa, mengatakan ekonomi Indonesia bisa kembali positif di kuartal III 2020, jika penanganan pandemi COVID-19 berjalan efektif, sehingga kegiatan-kegiatan ekonomi di Tanah Air dapat dibuka kembali.

Resesi merupakan keadaan di mana ekonomi suatu negara terkontraksi selama dua kuartal (periode) atau lebih. Di kuartal II 2020, yang diperkirakan sebagai fase terberat dari pandemi COVID-19 sejauh ini, pemerintah memproyeksikan laju ekonomi akan negatif ke 4,3 persen. Jika ekonomi Indonesia di kuartal III 2020 mampu berbalik ke tren positif, maka Indonesia lolos dari jeratan resesi ekonomi.

Kalau penanganannya efektif, dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka kondisi ekonomi bisa recover (pulih) pada kuartal III dengan ‘positive growth’ (pertumbuhan ekonomi positif) 0,4 persen.

Di masa pandemi global COVID-19, Singapura dan Korea Selatan sudah terlebih dahulu mengalami resesi setelah laju ekonomi di kuartal I dan II terkontraksi.

Sri Mulyani menambahkan jika penanganan COVID-19 di Indonesia optimal, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV bisa kembali positif dan mencapai tiga persen. Dengan begitu, untuk 2020 secara keseluruhan, laju ekonomi Indonesia masih bergerak di level positif.

Inilah yang sedang terus diupayakan oleh pemerintah untuk ditekankan kepada semua menteri dan pemerintah daerah agar kita tetap berada di skenario di mana pemulihan ekonomi tetap bisa berjalan pada zona positif di kuartal III antara 0-0,4 persen dan kuartal IV pada zona positif lebih tinggi antara 2-3 persen.

Sedangkan untuk 2021, pemerintah dan DPR masih menyepakati asumsi makro pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5-5,5 persen.

Sementara itu  Ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri memprediksikan Indonesia akan masuk dalam jurang resesi sebagaimana yang dialami banyak negara dunia sehingga perlu upaya mempersiapkan diri atas kondisi terburuk.

Faisal dalam webinar Kajian Tengah Tahun Seri 3 Indef yang ditayangkan secara daring, Selasa, mengatakan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memprediksi Indonesia tumbuh minus di kuartal II dengan kisaran -2,8 persen hingga -3,9 persen.

Faisal mengatakan krisis kali ini akan berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, maka formula baku tidak memadai untuk mengatasinya. Ia menambahkan semua negara juga melakukan penanganan yang sama mulai dari melakukan pelebaran defisit hingga paket stimulus serta menurunkan suku bunga.