Integrasi Kilang dan Petrokimia, Solusi Masa Depan Industri Migas

Integrasi Kilang dan Petrokimia, Solusi Masa Depan Industri Migas
ilustrasi industri migas/ pixabay

MONDAYREVIEW.COM – Bahan bakar fosil secara perlahan tergantikan oleh energi baru terbarukan. Namun industri migas tetap menjadi salah satu tumpuan ekonomi dunia setidaknya dalam 50 tahun ke depan. Harga  minyak yang terus menurun, bahkan sebelum pandemi COVID-19 melanda karena kemajuan teknologi dalam produksi shale oil. Pemintaan yang menurun dari negara-negara pengimpor minyak akibat pandemi juga mempengaruhi permintaan minyak dunia.

Meski banyak pihak memprediksi permintaan minyak tidak akan setinggi sebelumnya, industri minyak dan gas harus berkembang. Minyak mentah juga memiliki beragam produk turunan yang sangat diperlukan bagi beragam jenis industri. Kompleks kilang terintegrasi dan petrokimia bisa jadi salah satu solusi. Kompleks kilang terintegrasi petrokimia merupakan salah satu solusi industri migas masa depan.

Petrokimia adalah bahan kimia apapun yang diperoleh dari bahan bakar fosil. Ini termasuk bahan bakar fosil yang telah dipurifikasi seperti metana, propana, butana, bensin, minyak tanah, bahan bakar diesel, bahan bakar pesawat.

Termasuk berbagai bahan kimia untuk pertanian seperti pestisida, herbisida, dan pupuk, serta bahan-bahan seperti plastik, aspal, dan serat buatan. Arab Saudi adalah salah satu negara yang mengekspor petrokimia dasar.

Pemerintah mendorong pengembangan industri petrokimia untuk mengoptimalkan produksi bahan kimia dari industri migas seperti yang dilakukan oleh Hengli dan Xinjiang Petrochemicals. Saudi Aramco juga sedang mengerjakan teknologi serupa yang lebih maju.

Industri petrokimia akan menyediakan bahan untuk berbagai produk seperti plastik, film, serat, mainan, suku cadang otomotif, wadah makanan, ban dan bahkan farmasi.

Pertamina berencana untuk jadi bagian dari industri petrokimia dan menargetkan untuk bisa jadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia pada 2030, di mana salah satu produk hasil industrinya mencakup produk farmasi.

Ini akan mendukung visi Indonesia untuk bisa memiliki kemandirian yang lebih luas akan bahan baku obat-obatan. Sektor dengan pasar farmasi 8 miliar dolar AS, di mana 11 persen obat-obatannya diimpor. Bahkan sebagian besar diimpor senilai 1,9 miliar dolar per tahun.

Produk-produk petrokimia merupakan produk strategis karena merupakan bahan baku bagi industri hilirnya seperti industri plastik, tekstil, karet sintetik, kosmetik, pestisida, bahan pembersih, bahan farmasi, bahan peledak, kulit imitasi dan lain-lain. Hampir semua produk petrokimia berasal dari tiga jenis bahan dasar yaitu olefin, aromatik dan gas sintesis.

Industri petrokimia secara umum dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar yaitu industri petrokimia hulu, yaitu mengolah produk dasar (produk primer) menjadi produk setengah jadi (produk antara) seperti Methanol, Ethylene, Prophylene, Butadiena, Benzene, Toluene, Xylene, Fuel Coproducts, Pyrolisis Gasoline, Pyrolisis Fuel Oil.

Sedangkan industri petrokimia hilir, yaitu mengolah produk setengah jadi menjadi produk jadi yang siap pakai seperti plastik, pelarut (solvent), zat peledak, karet sintetis, nilon dll. Secara umum untuk memperoleh produk petrokimia dilakukan dengan 3 (tiga) tahapan proses yaitu mengubah minyak dan gas bumi menjadi bahan dasar petrokimia, mengubah bahan dasar petrokimia menjadi produk setengah jadi dan mengubah produk setengah jadi menjadi produk akhir.

Pada satu sisi produk petrokimia sangat dibutuhkan manusia untuk berbagai keperluan, tetapi disisi lain karena bahan bakunya dari minyak dan gas bumi yang merupakan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) sudah barang tentu penggunaannya harus diperhatikan dengan seksama karena kalau tidak akan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.