Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup

Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup

MONDAYREVIEW.COM - Persoalan lingkungan, merupakan permasalahan yang dihadapi oleh seluruh dunia, sehingga memerlukan perhatian dari semua pihak. Oleh karena itu, isu dan problematika lingkungan tidak mungkin teratasi tanpa adanya pendekatan strategis bervisi global-holistik di tingkat pengambil kebijakan dan tersedianya solusi-solusi lokal pada tataran pelaksanaan praktis.

Pencerahan pandangan yang dapat 'membaca' isu - isu praktis lingkungan akan menjadi jembatan, andai saja kita sanggup memberikan penjabaran-penjabaran yang luas tentang posisi diri dan fungsi diri manusia yang berkehendak untuk mengambil sikap dan perlakuan alam dan lingkungannya.

Islam merupakan agama yang di anut satu miliar lebih manusia yang tersebar di permukaan bumi, atau lebih dari seperenam penduduk dunia sekarang ini, dan tetap dipeluk serta diamalkan ajarannya oleh hampir di setiap negara yang mempunyai penduduk muslim.

Dunia Islam, yang juga ditimpa oleh persoalan-persoalan lingkungan di tengah kompetisi globalisasi dunia, serta pembangunan ekonomi setelah lama terjajah oleh kolonialisasi barat, yang kini mencoba mulai bangkit dan menemukan kembali identitas mereka. Dunia Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi, membangun dunia dan peradaban kemanusiaan termasuk menggali kembali khasanah landasan etika dan praktis ajaran Islam dalam menghadapi problematika lingkungan yang mengancam bumi kita.

Di Alquran ada banyak ayat yang mengisyaratkan agar manusia memerhatikan lingkungan hidup, di antaranya Al Araf 10, Al Mukminun 17, Ar Ruum 41. Dalam praktiknya, pelestarian lingkungan hidup dikaitkan dengan syarat ibadah, misalnya saja: untuk salat, orang harus berwudu; untuk berwudu, orang harus mengunakan air bersih; supaya persediaan air bersih terjamin, orang harus merawat sumbernya seperti mata air, sungai, hutan, dst. Belum ada pembaharuan tafsir mengenai ayat-ayat yang berhubungan dengan lingkungan yang di kontekskan dengan keadaan lingkungan hidup pada saat ini.

Dibeberapa negara muslim upaya pelestarian lingkungan hidup mendapat antipati karena dianggap sebagai agenda Barat yang sekuler, yang hendak memanfaatkan agama untuk menjalankan kepentingannya. Padahal, banyak negara muslim yang kaya akan sumber daya alam namun mengalami kerusakan lingkungan yang berat. Kiranya antipati tersebut bukan sekadar isu agamis-sekularis, melainkan karena dari Barat pulalah datangnya perusahaan-perusahaan kapitalis yang mengeruk sumber daya alam di negara berkembang (seperti yang ada di Indonesia).

Meski begitu, di Indonesia yang iklim kebudayaannya cukup toleran, gagasan pelestarian lingkungan hidup diterima dengan baik di beberapa pesantren dan dipadukan dengan fungsi lembaga tersebut sebagai pusat kegiatan sosial masyarakat. Bagaimanapun juga, siapa pun yang memberi gagasan, entahkah Islamis, pluralis, atau sekularis, jika itu dapat membawa kemaslahatan, kenapa tidak? 

Jika telah tiba waktunya kiamat, sementara di tanganmu ada sebiji kurma, maka tanamlah segera!” (HR Ahmad).

Hadits diatas mengindikasikan betapa aktivitas konservasi alam sekecil apapun merupakan perbuatan yang baik, dan bahwa perbuatan baik tersebut tak bisa diukur semata-mata pada efek yang ditimbulkan (sebagaimana dalam etika konsekuensialisme). Tapi karena perbuatan itu sendiri memang pada dasarnya baik, apalagi bila diiringi dengan niat yang baik pula, atau dalam istilah islam niat yang ikhlas.

Niat yang baik dalam istilah Kant, atau niat yang ikhlas dalam istilah islam, adalah niat melakukan sesuatu semata-mata demi kebaikan itu sendiri atau demi Allah semata. Walaupun diungkapkan secara berbeda, namun ide deontologi Kant dan etika-ketuhanan Islam memiliki spirit dan prinsip yang sama. Satu lagi persamaan di antara keduanya adalah Kant dan Islam sama-sama memandang kebahagiaan yang sejati terdapat di kehidupan setelah mati!

Oleh : Afrizky Fajar Purnawan (Kader Hijau Muhammadiyah)