Islamophobia dan Pentingnya Dialog Antar Peradaban

Islamophobia dan Pentingnya Dialog Antar Peradaban
Kerusuhan pecah di Kota Malmo-Swedia usai pembakaran Al Quran (ANTARA via REUTERS)

MONDAYREVIEW.COM – Peristiwa pembakaran Al Quran yang dilakukan oleh demonstran anti Islam di Norwegia dan Swedia memancing kecaman umat Islam se-dunia. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan kecaman terhadap aksi tersebut. Indonesia juga mengecam rencana penerbitan kembali karikatur Nabi Muhammad SAW oleh Media Charlie Hebdo asal Perancis. Sikap ini senada dengan berbagai ormas Islam di Indonesia seperti MUI dan Muhammadiyah. Aksi pembakaran Al Quran bukan yang pertama kali terjadi, satu decade silam seorang pendeta di Amerika Serikat melakukan aksi yang sama.

Peristiwa pembakaran Al Quran merupakan ekspresi kebencian sekelompok masyarakat di barat terhadap umat dan ajaran Islam. Alasannya adalah mereka menganggap ajaran Islam bukanlah ajaran yang baik melainkan ajaran terror. Banyak juga yang merasa terancam dengan adanya imigran muslim baik ancaman secara ekonomi, sosial, politik maupun ideology keagamaan. Kita tahu bahwa umat Islam memiliki pertumbuhan demografi yang cepat dibandingkan dengan masyarakat barat. Hal ini karena tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk bereproduksi melahirkan keturunan, bukan semata-mata rekreasi.

Sikap masyarakat barat tersebut tentu saja tidak bisa dibenarkan. Jika alasannya memang ketidaktahuan dan kesalahpahaman, maka masih bisa diluruskan dengan upaya edukasi tentang ajaran Islam yang sebenarnya. Namun apabila alasan tidak suka dengan umat Islam berupa sentiment kebencian atau benturan kepentingan, hal ini akan sulit untuk diluruskan. Karena sudah terkait dengan konflik kepentingan. Perlu ada metode resolusi konflik yang lebih tinggi guna menyelesaikan problem ini.

Tentu saja kita tidak ingin melihat gelombang islamophobia terus meningkat di barat. Kita juga tidak ingin melihat umat Islam di barat mengalami diskriminasi dan perlakuan yang tidak baik. Maka dari itu diperlukan solusi guna menyelesaikan permasalahan itu, salah satunya adalah dialog antar peradaban. Hal ini pernah digagas oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA dengan mendirikan lembaga yang dinamai dengan Center for Dialog Among Culture and Civilization (CDCC).

Perlu ada upaya-upaya konkret bertukar pikiran antara representasi umat Islam dengan peradaban barat guna menyudahi konflik yang dipelihara selama berabad-abad. Umat Islam perlu meyakinkan bahwa tidak semua umat Islam mencerminkan ajaran Islam yang otentik, yakni yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Ada sekelompok umat Islam yang bersikap ekstrem karena kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Persoalannya masyarakat barat sering menjadikan para muslim ekstremis sebagai gambaran dari ajaran Islam. Padahal umat Islam sendiri tidak mengakui mereka.

Masyarakat barat pun perlu bersikap terbuka untuk menerima umat Islam dalam lingkungan mereka. Biar bagaimanapun di era globalisasi seperti sekarang ini sikap tertutup hanya akan merugikan suatu bangsa. Perlu dibangun pemahaman multikulturalisme bahwasanya hidup berdampingan dalam beragam budaya adalah sebuah keniscayaan. Memang agak rumit jika masyarakat barat sudah merasa terancam terkait soal ekonomi. Seperti halnya masyarakat Indonesia juga sering merasa terancam dengan kehadiran tenaga kerja asing. Namun soal ini jangan sampai menimbulkan sentiment kebencian. Bersainglah secara sehat saja, jika memang kualitas individu tinggi, maka sumber daya ekonomi tidak akan bisa direbut oleh siapapun.

Dialog antar peradaban bisa dimulai dari para tokoh, namun jangan berhenti hanya dalam tataran tokoh, perlu ditransformasikan sampai tataran akar rumput. Dialog antar Paus Vatikan dengan Syaikh Al Azhar dapat menjadi contoh bagaimana upaya perdamaian agama-agama mulai dirintis. Tentu saja dalam perihal penghargaan terhadap symbol-simbol agama, Indonesia bisa menjadi salah satu contoh negara yang toleran. Di Indonesia tidak ada aksi membakar symbol suci dari suatu agama, hal ini patut disyukuri. Walaupun bukan berarti Indonesia tidak mempunyai pekerjaan rumah soal toleransi, tentu masih ada peristiwa intoleransi yang terjadi.