Jaga Nama Baik Bangsa

Jaga Nama Baik Bangsa
Jaga Nama Baik Bangsa

MONDAYREVIEW - Dunia yang ditempati manusia ini jauh dari kata sempurna. Betapa tidak, berbarbagai permasalahan hidup yang membebani kehidupan, dari permasalahan ekonomi, politik, keamanan, hingga gesekan sosial di masyarakat.

Begitupun Indonesia, negeri nan elok yang sempat diperebutkan bangsa-bangsa besar di Eropa, tidak terlepas dari pergumulan dinamika berbangsa dan bernegara.

" Sebagai bangsa besar yang sangat ragam, baik secara etnis, ras, budaya dan agama, Indonesia tidak terbebaskan dari gesekan-gesekan sosial itu," demikian pesan tertulis oleh Presiden Nusantara Foundation Amerika Serikat, Shamsi Ali kepada mondayreview.com, sabtu (13/6/2020)

Masa depan bangsa ini menjadi tantangan terbesar, di satu sisi terganggu, bahkan mungkin pada tataran tertentu, dikhawatirkan keresahan setiap anak bangsa tidak dapat terbendung dengan berbagai akrobat  kepentingan yang sempit dan parsial.

Di saat-saat saperi itulah yang seharusnya disadari adalah bahwa masa depan bangsa ini akan banyak ditentukan oleh cara pandang (mindset) dan karakter kebangsaan yang kita bangun bersama dalam melihat permasalahan-permasalahan Kebangsaan kita. 

Dalam suasana seperti saat ini, dimana setiap bangsa berjibaku melawan COVID-19. Kiita dihadapkan dengan kemungkinan dan pilihan. Apa itu, membangun pandangan positif yang konstruktif. Atau sebaliknya membangun pandangan negatif yang destruktif. 

Modal Kebangsaan 

Selain pandangan dan karakter positif yang konstruktif di atas, kita juga harusnya disadarkan oleh kenyataan bahwa bangsa ini memilki modal kebangsaan yang solid. Itulah jiwa dan karakter kebersamaan, gotong royong dan semangat kekeluargaan yang mengakar dalam kehidupan kita sebagai bangsa. 

Indonesia, dengan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan itu memilki tabiat asli (genuine character) yang harusnya menjadi dasar dalam membangun interaksi kebangsaan itu. Yaitu merangkul keragaman sebagai bagian dari nilai dan karakter kebangsaan yang mahal. 

Konsep Bhinneka Tunggal Ika menjadi bingkai Kebangsaan yang merajut keragaman itu. Bahwa perbedaan ras, suku, bahasa, budaya dan keyakinan agama, tidak dilihat sebagai kekurangan dan ancaman. Tapi aset dan kekayaan yang harus dijaga dan ditumbuh suburkan. 

Kesadaran seperti itulah yang seharusnya membangun cara pandang dan sikap toleransi. Itu pula yang akan menguatkan kerukunan yang seharusnya terjadi di antara elemen-elemen bangsa yang ragam itu. 

Lebih dari itu dalam tatanan bangsa, dan di tengah eksistensi partikularitas elemen-elemen bangsa, Indonesia memiliki acuan yang telah teradopsi secara matang dan dalam kesepakatan bersama oleh founding fathers bangsa ini. Itulah Pancasila dan UUD 45. 

Siapapun anda yang lahir di bumi nusantara ini, wajib memiliki cara pandang positif dan karakter positif untuk dijaga bersama-sama juga berupaya  memperbaiki hal-hal yang masih kurang baik. Bukan sebaliknya justeru menggali-gali sesuatu yang dianggap sebagai kekurangan bangsa sendiri. 

Aksi salah satu orang Indonesia yang ikut mendeskreditkan Bangsanya saat berorasi pada aksi protes kematian warga kulit hitam Amerika Serikat. Sungguh sangat disayangkan, isi orasi tersebut sangat melukai bangsanya sendiri.

Tentu lebih runyam lagi, dengan sengaja atau tidak, membuka kekurangan yang ada ke mata dunia yang kerap kali bertepuk dengan kekurangan dan kelemahan negeri ini.

"Saya mengajak kita semua untuk selalu berpikiran positif, berkarakter positif, dan mengedepankan i’tikad positif kepada bangsa kita. Kekurangan pada masing-masing elemen bangsa seharusnya tidak dijadikan alasan untuk semakin menggali lobang dan mencampakkan nilai-nilai mulia kebangsaan kita" ungkapnya. 

Kekurangan Bangsa ini seharusnya menjadi motivasi untuk setiap element Negeri untuk bersama-sama menyadarinya, sekaligus berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Bukan dipromosikan dan/atau dijadikan alat untuk mengail ikan di air keruh. 

Bagi dispora yang berada di luar Indonesia, baik yang masih berpaspor Indonesia atau sudah berpaspor lain, hendaknya berusaha menjaga nama baik bangsa. Salah satunya dengan selalu mempromosikan hal-hal yang baik dan positif dari bangsa ini. 

"Saya ingin mengingatkan satu hal untuk bangsa ini. Bahwa agama itu secara sosial semua baik dan mengajarkan kebaikan. Karenanya agama seharusnya merekatkan, bukan memporak porandakan bingkai kebangsaan kita," jelasnya. 

Tapi semua itu memerlukan ketulusan dan kejujuran. Kejujuran dan ketulusan dalam menjunjung nilai-nilai agama dalam bingkai kebangsaan itulah yang akan membangun toleransi sejati dalam kehidupan berbangsa. 

Akhinya, sekali lagi  untuk saling mengingatkan agar tidak melihat keragaman ras, etnis, budaya dan agama sebagai alasan untuk saling menjauh, menyalahkan, bermusuhan dan berpecah belah. Tapi hendaknya dirangkul sebagai bagian dari sunnatullah (hukum Tuhan) dan karuniaNya bagi bangsa ini. 

Dan lebih spesifik lagi, hendaknya dijadikan sebagai modal utama yang sangat berharga dalam merakit dan merajut kehidupan berbangsa dalam tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.