Jakarta dan Pemimpinnya yang Baru

Jakarta dan Pemimpinnya yang Baru
Anies-Sandiaga (PKS Jakarta)

MONDAYREVIEW.COM – Hasil quick count dari berbagai lembaga survei mencatatkan kemenangan bagi Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta. Secara legal formal tentu hasil dari KPUD DKI Jakarta yang resmi dan sah sebagai landasan. Namun dengan keseragaman hasil quick count dan margin yang jauh antara kedua kandidat maka normalnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno akan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2017.

Apa yang terjadi di Jakarta menunjukkan dinamisme politik. Bagaimana dalam 2 pilkada DKI Jakarta terakhir, konfigurasi sang pemenang dicatatkan oleh pihak yang menantang petahana. Pada tahun 2012, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama berhasil menaklukkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Awalnya Fauzi Bowo bahkan diprediksi akan menang satu putaran. Namun, dinamisme itu terjadi ketika Joko Widodo menghadirkan kekhasan melalui blusukan dan gayanya yang begitu merakyat. Genuine-nya Jokowi dipadukan dengan Ahok yang meletup-letup menjadi kombinasi yang menyeruak diantara 6 pasangan kandidat ketika itu. Jokowi-Ahok mampu menjadi pemenang Pilkada DKI Jakarta di putaran pertama dan kedua. Sementara Foke berada pada titik stalemate di tengah keriuhan haru biru pasangan Jokowi-Ahok.

Pasang naik elektabilitas Jokowi bahkan tak hanya berhenti di ranah DKI Jakarta. Ia bahkan mampu memenangkan kontestasi pemilihan presiden. Lagi-lagi ia mengalahkan kandidat yang sebelumnya diprediksi menjadi pemenang. Kali ini Jokowi mengalahkan Prabowo Subianto yang sebelumnya menjadi nomor satu dalam berbagai survei pemilihan presiden.

Pilkada 2017, Kemenangan Sang Penantang

Pilkada DKI Jakarta 2017 semula diperkirakan dengan superioritas Ahok. Teman Ahok bahkan mengklaim telah mengumpulkan 1 juta KTP. Dalam sebuah survei tingkat kepuasan terhadap kinerja Ahok-Djarot mencapai di atas kisaran 70%. Ahok menjadi sosok kuat, dimana partai politik lainnya terlihat kelimpungan dan kebingungan mencari sosok penantangnya. Akhirnya muncullah nama Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan sebagai calon gubernur penantang Ahok.

Dinamisme di DKI Jakarta kembali terjadi. AHY yang cabut dari militer dan memilih jalur politik, mencatatkan hasil yang lumayan yakni pada kisaran 17% di pilkada putaran pertama. Sedangkan Anies Baswedan menjadi kandidat penantang serius dalam pilkada. Semula nama Tri Rismaharini dan Ridwan Kamil en sich saja yang diperkirakan mampu menjadi penantang serius Ahok. Namun Tri Rismaharini dan Ridwan Kamil memilih untuk berfokus di daerah kepemimpinannya dan tidak tergoda untuk mengadu nasib di Pilkada DKI Jakarta.

Pasangan Anies-Sandi nyatanya hanya bermargin tipis dengan pasangan Ahok-Djarot di pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Selisih kisaran 4% membentang diantara mereka. Sementara itu Anies Baswedan secara personal dan “kemasan” juga genuine dan menjadi antitesis dari Ahok. Kesantunannya, pilihan katanya, serta citra cerdas dan religius berhasil melekat pada sosok Anies Baswedan.

Dinamisme pemilih di ibu kota kembali menyata di hari-H 19 April 2017. Bagaimana Anies-Sandi berhasil menyalip ketertinggalannya dan berhasil unggul pada kisaran 10-15% dari hasil hitung cepat berbagai lembaga survei. Dengan demikian Jakarta menunjukkan dinamika dan dinamisme yang terus bergerak dimana sang penantang pun bisa menaklukkan petahana.