Jamuan Negeri Para Raja, Berkhasiat Namun Tertatih

Jamuan Negeri Para Raja, Berkhasiat Namun Tertatih

MONDAYREVIEW.COM - Indonesia yang dikenal sebagai jalur rempah yang melimpah. Bahkan, diskusi rempah nusantara menjadi bahan perbincangan di hampir seluruh kedai kopi benua biru.

Dahsyatnya rempah negeri katulistiwa telah mencuri perhatian para bangsawan hingga cendekia Eropa dan negara Asia lainnya untuk bisa menginjakkan kaki, meminum air nusantara, menghirup udara negeri para raja hingga menyelam lebih dalam, tidak lain hanyalah memastikan khasiat rempah yang tiada tandingan dari negeri manapun di bumi ini.

Abad berganti abad, tahun berganti tahun, rempah nusantara tetap menjadi primadona yang selalu dirik oleh siapapaun dan negara manapun karena mereka tahu, rempah yang diracik kemudian menjadi minuman berkhasiat adalah jamuan para raja negeri nusantara.

Demikian disampaikan Apoteker di UMKM Jamu Herbalindo, Ariel Dwi Puspitawati, S.Si., Apt kepada mondayreview.com, juma'at (12/6/2020) 

Menurut Ariel, ada anomali yang begitu mencolok, rempah negeri ini begitu tenar di mancanegara namun jati dirinya kurang mendapat tempat. Seiring waktu, masifnya produk dari negara lain yang awalnya hanya ikut meramaikan, namun pelan tapi pasti menggeser rempah asli Indonesia.

Dikatakan Ariel, dari sabang hingga merauke memiliki berbagai khasiat tanaman. Salah satu tanaman berkhasiat yakni jahe, yang merupakan ingredient yang tidak terpisahkan dari secangkir jamu.

Sejarah Singkat

Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. 

Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Nama daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), guraka (Ternate), dsb.

Ariel yang juga sebagai Pemilik UMKM Puspita Naura (handmade produk Indonesi) mengakui terdapat hambatan memperkenalkan produk berbahan rempah Indonesia yakni jamu dalam waktu yang cukup lama, tapi semua itu dilalui dengan berbagai terobosan. Dari situ, ada pelajaran berharga. Diakui, memang tidak mudah, tapi selama niatnya baik, selalu ada solusi.

"lumayan lama yah, awal kami mengembangkan jamu menjadi bentuk sediaan kapsul dalam Industri kecil, begitu susah sekali regulasinya. Meski  berkhasiat tapi masyarakat belum begitu yakin dengan produk Indonesia," ujarnya.

Dikatakannya, banyak permintaan ekspor untuk bahan baku jamu semisal jahe, kunyit dan sereh. Namun selama ini permintaan tanaman berkhasiat ini kurang ditopang secara serius oleh pemangku kebijakan.

Pride dan symbol of identity

Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Joko Widodo diharapkan lebih mendorong jamu menjadi sebuah pride dan symbol of identity negeri ini. Jamu tidak boleh menjadi minuman kelas 2, setelah herbal asing yang mendompleng di perusahaan MLM yang kian masif. 

Dia berharap agar Pemerintah serius membantu pengembangan regulasi rempah asli Indonesia karena sangat berdampak pada dirinya dan rekan sejawat lainnya yang tetap memproduksi Jamu  sebagai  produk terpercaya (aman, berkualitas,  berkhasiat) di Negeri sendiri.

Momentum Indonesia untuk membuktikan senjata pamungkasnya

Menghadapi tantangan Covid-19, kata Ariel, inilah momentum Indonesia untuk membuktikan senjata pamungkasnya. Disaat dunia sedang berjibaku mencari vaksin terbaik yang berbahan kimia. Indonesia tidak perlu gagap dengan mengikuti trend global. Sejatinya negeri para Raja ini sudah memiliki vaksin terbaik yang tertanam di bumi pertiwi. Apa itu, yah  jamu.

Ia menilai trend herbal luar negeri yang sempat membanjiri pangsa pasar dalam negeri kini berkurang, seiring dengan mewabahnya corona sehingga setiap negara berusaha memproteksi warganya dengan herbal berkhasiat. Sebut saja China, Korea Selatan, Vietnam dan beberapa negara Asia lainnya. Beberapa importir telah menyatakan minatnya untuk membangun fasilitas produksi di dalam negeri.

Ditengah permintaan masyarakat yang belum kuat, pemerintah sebaiknya gencar melakukan pembinaan kepada industri obat tradisional untuk memenuhi standar good manufacturing process (GMP) atau cara membuat obat tradisional yang baik (CPOTB). Selain itu, juga jamu harus membudaya dalam bentuk minuman atau minuman millenial untuk lebih dimasukkan dalam Rumah Sakit, Puskesmas dan Food Court lainnya.

Selain itu, peran riset dan pengembangan untuk inovasi produk atas bahan baku yang tersedia di Tanah Air akan menjadi prioritas. Peran lembaga riset dan perguruan tinggi, sambung dia, juga harus ikut serta meningkatkan pengembangan industri tradisional tersebut.

Untuk mendukung itu,  pemerintah perlu memberikan insentif berupa tax allowance. Di samping itu, pihaknya mengharapkan sistem perpajakan juga memberikan kemudahan dan keringanan bagi industri obat tradisional.

Pasalnya, sektor tersebut menyerap tenaga kerja langsung hampir mencapai 3 juta orang. Belum lagi industri jamu yang berkembang ke arah makanan minuman, food suplement, kosmetik dan aroma terapi.

Jamu di dalam negeri memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh sebab didukung ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah. Ada lebih dari 30.000 varietas yang tergolong tanaman obat dan berkhasiat yang dapat dimanfaatkan ke dalam berbagai formulasi dan varian produk jamu.