Kala Pencak Silat Mendapat Tempat Di Hati Masyarakat Mancanegara

Kala Pencak Silat Mendapat Tempat Di Hati Masyarakat Mancanegara
Peragaan Silat oleh Warga Negara Denmark di Acara Indonesian Bazaar and Cultural Day (Doc. Kemlu.go.id)
SAAT pencak silat yang merupakan salah satu warisan budaya asli Indonesia terkadang kurang digandrungi oleh generasi muda dan masyarakat Indonesia, malah sebaliknya terkadang budaya yang juga merupakan olahraga tradisional tersebut diminati dan ditekuni oleh warga negara lain. Seperti yang terlihat dalam acara "Indonesian Bazaar and Cultural Day" yang diselenggarakan oleh KBRI Kopenhagen bekerja sama dengan Dini's Restaurant dan masyarakat Indonesia di wilayah Jutland, Denmark, Sabtu (22/6).

Seperti dilansir laman resmi kementerian luar negeri disebutkan bahwa Martin Sangill, seorang warga negara Denmark, dan team-nya berhasil memukau warga kota Horsens saat tampilkan berbagai jurus silat Setia Hati Anoman, di Vitus Berings Plads yang merupakan alun-alun kota Horsens.

"Tahun ini kami menampilkan pencak silat yang merupakan warisan budaya Indonesia, namun uniknya didalami oleh warga Denmark," ujar M. Ibnu Said, Duta Besar RI untuk Denmark. "Acara bazaar dan hari budaya ini juga diselenggarakan untuk memperkuat dan meningkatkan people-to-people contact antara warga Indonesia dan Denmark," lanjutnya.

Tidak hanya dengan tangan kosong, Martin Sangill dan murid-muridnya juga menunjukkan kebolehannya dengan menggunakan tongkat dan golok. Setiap jurus yang diatraksikan menimbulkan decak kagum penonton yang juga sibuk merekam adegan dengan hand phone.

"Acara seperti ini sangat penting bagi kedua bangsa. Kita dapat saling mengenal dan menperkaya hidup kita dengan budaya lain. Seperti pencak silat sebagai bukti nyata, sebuah warisan budaya Indonesia, tetapi didalami oleh warga Denmark," ujar Peter Sinding Poulsen, Wakil Pemerintah Kota Horsens.

Martin Sangill sendiri telah mempelajari pencak silat lebih dari 30 tahun sejak tahun 1988. Pada tahun 2012 dia membuka klub pencak silat pertama di Denmark dan memiliki murid-murid warga Denmark.

Memperbincangkan perkembangan silat di luar negeri setidaknya ada beberapa faktor yang membawa warisan budaya Indonesia semakin go internasional dan diminati oleh warga negara asing sebagai pilihan olah bagi raga dan jiwanya.  Diantara  faktor itu tidak bisa lepas dari peranan pelatih dari Indonesia atau para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di berbagai negara Eropa dan Mahasiswa yang membawa bekal selain ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu silat. Pada umumnya ketertarikan orang asing dalam mempelajari pencak silat karena selain pencak silat dapat dipergunakan sebagai alat untuk membela diri, juga mereka tertarik dengan nilai estetika dalam aspek seni serta terkandungnya pendidikan budi pekerti dalam aspek mental spiritual.

Seperti dilansir laman silatindonesia.com menerangkan ada beberapa nama pelatih yang berperan mengembangkan silat di luar negeri ; Inggris: Aidinal Alrashid (PS. Gerak Ilham, Bugis -Makassar), M. Otto S. Soeharjono (Perisai Diri, Jawa Timur). Belanda: FransVeetman (HPS Panglipur) Spanyol: Juan Ignacio Barrenechea (Harimau Minangkabau), Gorka Atoiza Oruetxebarria. Belgia: Pieters Ludo, Pierers Jean, Pieters Patrick (PS Pukulan Bongkot). Austria: Eduard Linhart (Bongkot Harimau, PERPI Harimurti, Silat Gayong Fathani Malaysia). Perancis: Eric Chatelier (Setia Hati, Bongkot Harimau, Merpati Putih). Jerman: Joko Suseno (Tapak Suci). Swiss: Pascal Stiefenhoffer & Chantal Mattes (Perisai Diri). Itali: Emiliano Ruggeri (PGB Bangau Putih).

Selain itu, faktor merambahnya beladiri silat dalam industri perfilman dunia, Hollywood, ikut memperkenalkan warisan budaya Indonesia ini ke mata mancanegara. Setidaknya beberapa dekade sebelumnya saat membicarakan beladiri di dalam industri film, maka kebanyakan orang akan melihat teknik beladiri tradisional berasal dari wilayah Asia Timur seperti aliran beladiri Kungfu dan Karate. Karena dua beladiri ini telah jauh puluhan tahun merajai film action, diantaranya diperkenalkan aktor Bruce Lee atau Jet Li.

Beberapa tahun lalu, beladiri tradisional Silat untuk pertama kalinya memukau dan menjadi perhatian dunia, saat film The Raid  (2011) yang digarap oleh salah satu sutradara kelas dunia, Gareth Evans, diperkenalkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke beberapa negara lain. Dimana dua aktor Indonesia, Iko Uwais dan Yayan Ruhian berduel dalam film tersebut dengan menggunakan teknik beladiri silat asli Indonesia. Sehingga dengan bermodalkan silat itu, Yayan Ruhian sendiri hingga saat ini telah membintangi dua film hollywood, Star Wars: The Force Awaken (2015) dan John Wick 3 (2019).