Karate Tradisional dan Bela Negara

Karate Tradisional dan Bela Negara

MONDAYREVIEW.COM - Berita gembira datang dari Brasil. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Di ajang Kejuaraan Dunia Karate Tradisional ke-20  yang berlangsung di Kota Curitiba, Brasil prestasi diraih para karateka Indonesia dan keaktifan keanggotaan Indonesia dalam organisasi ITKF kembali dikokohkan.

Prestasi gemilang ditorehkan dua karateka Indonesia Muhammad Isra Muhyidin dan Rizkya Destiawati Putri Asrori, berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet gelar juara dunia. Atlet lain yang berlaga juga mendapat apresiasi dari komunitas karate tradisional. Seluruh atlet dan official telah menunjukkan peran dan upaya maksimalnya. Prestasi yang menunjukkan bahwa karate tradisional di Indonesia dikembangkan secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan cabang olah raga ini.

Eksistensi Indonesia pun kembali menguat dengan secara resmi masuk keanggotaan ITKF setelah pasif sejak 2008. Sebelum pengukuhan itu Pimpinan FKTI diundang bersantap malam oleh Professor Gilberto Gaertner selaku Presiden ITKF. Di kesempatan tersebut, menurut Ketum FKTI Muchlas Rowi, Sensei Gilberto memperkenalkanya kepada para anggota ITKF dari berbagai negara, termasuk Sensei Shihan Arai  dan Watanabe San dari ITKF Jepang.

Sepulang ke Tanah Air tentu kerja keras akan terus dilanjutkan. Lebih dari soal prestasi dan eksistensi FKTI melihat bahwa olahraga beladiri amat dekat dengan agenda pendidikan karakter bangsa. Hal yang sangat memprihatinkan sekaligus krusial diperhatikan oleh Indonesia adalah ancaman kerusakan karakter anak bangsa. Hal itulah yang dapat diantisipasi melalui partisipasi masyarakat dalam beladiri.

Karate tradisional menjadi salah satu cabang olahraga yang sangat menekankan pada aspek pembinaan karakter melalui filosofi budo. Nilai yang bersifat universal berdasarkan prinsip kebenaran dan kemanusiaan. Nilai yang menegaskan pentingnya integritas dan kejujuran serta kerja keras dalam membentuk kepribadian tangguh.     

Beladiri karate tradisional juga sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positip dalam dunia pendidikan. Sehingga para peserta didik dapat meneguhkan sikap mental yang mandiri dan tangguh. Juga berani dalam mempertahankan kebenaran.  

Beladiri karate tradisional juga sangat strategis dalam pendidikan Bela Negara. Bahkan karate tradisional sangat lekat dengan sejarah tumbunnya semangat patriotisme dan nasionalisme. Jiwa ksatria dan semangat untuk mempertahankan keutuhan bangsa selaras dengan semangat dan nilai-nilai beladiri.

Tak dapat dipungkiri bahwa ITKF adalah ajang unjuk prestasi, eksistensi, dan sosialisasi di level internasional. Sejalan dengan itu hal-hal yang bersifat substansial dalam pengembangan olahraga beladiri adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun bangsa khususnya dalam pengembangan SDM yang berkualitas prima. Yang sehat secara jasmani dan rohani.

Ketua Umum FKTI Muchlas Rowi menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti catatan sejarah di Curitiba, Brasil ini dengan inisiatif untuk membangun jembatan kolaborasi dengan Pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tujuannya jelas yakni membangun SDM unggul bangsa Indonesia melalui pendidikan karakter khususnya melalui pembinaan atlet karate tradisional.