Kebiasaan dan Harapan Baru

Kebiasaan dan Harapan Baru
Ilustrasi foto/Net

EVI SUNDARI baru saja selesai mengajar kelas daring via google classroom. Sebelum kembali ke ruang kerjanya, ia sempatkan sejenak melihat si putri kecilnya, ternyata ia masih tidur manis. Lama menunggu, ibu 2 orang anak ini ternyata terlelap di ruang kerjanya.

Ketika terbangun, Evi kaget bukan main, karena acara diskusi Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru yang dihelat Kemendikbud bersama Gugus Tugas Percepatan Penangana Covid-19 dan Kementrian Terkait lainnya ternyata telah dimulai. Belum lama, tapi ia tidak sempat melihat diskusi tersebut dibuka oleh siapa. Syukurnya, acara inti baru saja dimulai, ada Mas Menteri yang mulai menyampaikan kalimat pembuka.

Evi memang tengah menunggu keputusan Pemerintah terkait kapan dimulainya tahun ajaran baru. Dan akhirnya Mas Menteri pun buka suara: “Meski pandemi Covid-19 belum juga usai, namun dengan berbagai pertimbangan dan skenario new normal, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya menetapkan tahun ajaran baru dimulai pada 13 Juli 2020. Penetapan tanggal tersebut berlaku untuk seluruh jenjang PAUD/TK, SD, SMP dan SMA/SMK.”

Evi menghela napas panjang, bukan tak setuju dengan apa yang diputuskan pemerintah. Namun seperti kebanyakan orang di seluruh dunia, pandemi COVID-19 memang telah mendorong hidup ke ruang virtual. Dan selain mengajar jarak jauh, ia sudah bisa membayangkan jika ke depan hari demi hari hidupnya tak jauh dari menghadiri rapat sekolah, bisnis kuliner, juga berkomunikasi dengan teman-temannya melalui aplikasi video conference. Alasan utamanya, pandemi Covid-19 tak kunjung usai.

“Zoom Fatigue’, begitu orang-orang saat ini menyebutnya. Rasa lelah berlebih yang kerap dirasakan ketika beraktivitas menggunakan video conference semacam Zoom, Google, Skype, FaceTime dan sejenisnya.

Meskipun melelahkan, tapi sebetulnya kita juga punya harapan (hope) baru. Karena Covid-19 yang melanda Indonesia telah memasuki tatanan atau babak baru. Ya, Era itu adalah New Normal atau Kenormalan Baru. Di Era Kenormalan Baru, Pemerintah lantas mempercepat penanganan dampak Covid-19 pada berbagai sektor kehidupan manusia tidak terkecuali pada sektor pendidikan dan Ekonomi.

Untuk dua sektor ini, kita sangat berharap kepada sosok muda nan punya sejumlah catatan yang sangat positif selama ini. Untuk sektor ekonomi kita punya Menteri BUMN Erick Thohir. Sementara di sektor pendidikan kita ada mantan Bos Gojek Nadiem Anwar Makarim.

Keduanya, memiliki catatan maupun kemampuan yang tak bisa diragukan. Erick Thohir adalah pebisnis handal, gaya komunikasinya luwes, pergaulannya amat luas baik nasional maupun internasional. Sejarah mencatat, bagaima Erick mampu membuat penyelenggaraan ASEAN Games 2018 sukses dan spektakuler.

Sementara Nadiem, sebelum menjadi Mendikbud telah lebih dulu meraih sukses sebagai seorang pengusaha. Nadiem sukses mendirikan nperusahaan transportasi online Gojek. Nilai valuasinya sempat disebut mencapai US$ 10 miliar atau berstatus decacorn.

Dengan sejumlah prestasi dan catatan impresif keduanya, maka harapan pun terpangku pada keduanya. Sejauh mana mereka bisa mendorong program pemulihan ekonomi dan pendidikan berjalan secara cepat. Ya, karena problem saat ini baik di sektor ekonomi maupun pendidikan adalah soal kecepatan.

Di sektor ekonomi, kita sadari atau tidak saat ini semua berjalan begitu lambat. Pertumbuhan konsumsi dan investasi begitu lemah di kuartal II tahun 2020. Kita bisa lihat dari tekanan inflasi yang rendah selama bula puasa dan penjualan ritel yang meluncur turun.

Di sektor pendidikan, kita juga lihat bagaimana hingga saat ini, belum ada kebijakan yang secara cepat mengantisipasi problem kelelahan dan kejenuhan anak dalam mengikuti belajar dari rumah. Jika tidak segera diantisipasi, maka para orangtua yang selama ini jadi tumbuan belajar dari rumah akan apriori. Jika sudah apriori, maka pebelajaran jelas terhenti.

Akhirnya, kita sangat berharap dua sosok fenomenal (Erick Thohir dan Nadiem Makarim) ini dapat segera menemukan cara untuk mendorong percepatan pelaksanaan Pemulihan Ekonomi Nasional dan Pembelajaran di Era Kebiasaan Baru. Karena walaubagaimanapun baik ekonomi maupun pendidikan harus tetap berjalan. Jika satu diantaranya saja tidak berjalan, maka yang lainnya juga dipastikan terhambat.