Kelas Menengah, Bekerja Keraslah!

Kelas Menengah, Bekerja Keraslah!
Ilustrasi foto/Net

Oleh. H.M. Muchlas Rowi │ Dosen IBM Bekasi

Kelas menengah adalah kunci pertumbuhan ekonomi, namun di tengah situasi sulit, mereka harus didorong agar mau belanja, melakukan konsumsi, bekerja lebih keras. 

 

PANDEMI Covid-19 belum juga usai. Situasinya malah makin membuat semua orang makin sulit dan tubuh jadi lunglai.

Berbagai cara sebetulnya sudah dilakukan, mulai dari program berbagi duit, untuk membantu masyarakat lepas dari situasi ekonomi yang makin menghimpit. Hingga stimulus ekonomi yang diharapkan bikin ekonomi berlari ngibrit.

Ada sekitar 13,8 juta orang pekerja swasta, diberi uang cash transfer Rp 600 ribu perbulan. Selama empat bulan. Kenapa pemerintah harus repot-repot merogoh kocek untuk menggaji pegawai swasta?

Alasan utamanya tentu seperti dikatakan John Maynard Keynes, dalam bukunya 'The General Theory of Employment, Interest, and Money (1993),' yang menggambarkan salah satu hubungan inti antara kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi. Bahwa konsusmsi kelas menengah yang stabil diperlukan untuk memacu investasi.

Ini juga sejalan dengan laporan Bank Dunia berjudul Aspiring Indonesia: Expanding The Middle Class, yang menyebut adanya pertumbuhan positif dari jumlah populasi kelas menengah di Indonesia. Menurut lembaga yang berbasis di Washington DC tersebut, kelas menengah punya pengeluaran Rp1,2-6 juta perorang perbulan.

Kelompok ini tumbuh 10% per tahun dan punya peran penting dalam perekonomian nasional. Kini jumlahnya 52 juta jiwa. Dimana satu dari lima warga negara Indonesia berstatus kelas menengah, yang dicirikan dengan status ekonomi yang mapan dan tidak rentan jatuh ke jurang kemiskinan.

Selain itu, menurut bank dunia, konsumsi kelas menengah naik 12 % sejak tahun 2002 dan saat ini mewakili separuh dari konsumsi rumah tangga di Indonesia. Hebatnya, pertumbuhan kelas menengah tersebut berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam setengah abad terakhir, ekonomi Indonsia tumbuh rata-rata 5,6% per tahun.

Bank dunia intinya mengatakan kunci mendorong pertumbuhan ekonomi adalah membuat kelas menengah ini mau belanja, mau melakukan konsumsi. Karena sejauh mereka mengeluarkan uang, terutama untuk membeli barang non kebutuhan pokok, maka ekonomi akan tumbuh.

Persoalannya, mendorong kelas menengah belanja di masa sulit memang sedikit repot. Rata-rata mereka menginjak rem konsumsi teramat dalam. Bukan cuma bikin pasar jadi sepi, tapi juga membuat bayang-bayang resesi malah jadi nyata. Faktanya, ekonomi saat ini minus 5,32%.

Memang ada banyak alasan kenapa ini terjadi, utamanya karena pandemi covid-19 membuat PHK marak. Banyak pegawai yang terpaksa dirumahkan. Efek turunannya tentu saja boro-boro belanja, untuk menyambung hidup saja sulit.

Dalam konteks inilah, program bantuan pemerintah sebetulnya menjadi penyambung nafas ekonomi masyarakat. Bantuan diharapkan memberi nafas tambahan, agar masyarakat bertahan.

Jika masyarakat tetap bisa berbelanja, maka perekonomian masih bisa berdenyut. Hanya saja, karena penanganan covid 19 belum juga bisa meredam penyebaran covid-19, bantuan apa pun akan habis sementara keuangan negara terbatas.

Satu bulan terakhir ini sebetulnya kita sudah mulai kembali bergerak, tapi klaster penyebaran makin meluas. Dan wacana PSBB kembali diterapkan membuat ekonomi kembali terancam morat-marit.

Kita mengapresiasi berbagai skema jaringan pengaman sosial itu. Tahun ini dianggarkan 203,9 triliun. Sebagian dibiayai dari utang. Masalahnya, sekali lagi soal penanganan covid-19 yang belum juga memberikan hasil nyata. Parahnya, kini ada 59 negara yang memberi kartu merah pada kita.

Kita betul-betul sangat berharap pada kelas menengah. Tak sekadar agar roda ekonomi kembali bisa dipacu, dan keluar dari ancaman badai resesi, tapi juga bisa melesat jauh. Seperti kawanan kuda, yang dilepas dari istalnya, lari tunggang langgang.

Pelajaran utamanya sangat jelas; untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kelas menengah perlu melakukan belanja, melakukan konsumsi. Dan untuk memastikan itu, mereka perlu melihat pendapatan mereka meningkat.

Memang sulit untuk meyakinkan orang-orang dalam masyarakat yang sangat bertingkat secara pendapatan, namun menghadapi kesulitan dan motivasi yang sama di tengah ancaman resesi.

Pekerjaan rumahnya teramat sulit. Sesulit menemani anak belajar dari rumah gegara pandemi. Bawaannya selalu emosi. Baik Aristoteles atau bahkan James Madison sebetulnya sudah mengingatkan, jika kita perlu mendorong tata kelola yang lebih baik untuk memastikan pemerintah dijalankan dengan baik. Kita juga perlu meningkatkan partisipasi masyarakat, meminimalkan kegaduhan baik di kanal digital maupun di dunia nyata. Paling terpenting, mempromosikan kebijakan untuk kepentingan semua kalangan, bukan golongan.

Disamping itu, penting juga untuk kembali mengingatkan soal keterkaitan kuat antara etika/keyakinan masyarakat dan perilaku ekonomi dalam tesis Weber. Untuk konteks Indonesia, Sukidi Mulyadi menyebut keterkaitan itu sudah dibuktikan oleh Cliford Geertz ketika melakukan studi agama di Jawa. Bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembaharuan Islam berjalan beriringan.

Lebih lanjut, kata Sukidi, keterkaitan ini juga mirip dengan tahapan intelektual yang dialami Kiai Haji Ahmad Dahlan. Dia menangkap ada momentum perubahan yang dialami Ahmad Dahlan setelah berhaji ke Mekkah.

Sesudah berhaji, Ahmad Dahlan menjalani hidup sebagai sebuah panggilan. Disamping menjadi khatib di Kraton Yogyakarta, ia juga menjadi saudagar batik. Haji pun jadi kekuatan penggerak Dahlan menumbuhkan kebajikan dan etos kerja keras dalam aktivitas bisnis. Asketisme dan disiplin diri dipadukan secara sistematis.

Dari sini, kita pun paham, kenapa mantan presiden keempat Megawati Soekarnoputri ketika bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah berhasil memenangkan pemilu tahun 2014 menyarankan agar memilih kader Muhammadiyah untuk menjadi menteri perdagangan.

Saran Bu Mega tersebut bukan tanpa alasan, namun karena pemahaman dan pengalamannya terhadap Sang Kakek, Hasan Din. Awalnya, Hasan Din adalah seorang juru tulis di perusahaan Borneo Sumatra Maatscappij (Bosrsumij) di Bengkulu. Namun ia memilih untuk berhenti dan lebih aktif di Muhammadiyah dan menjalankan bisnis.

Hingga akhirnya ia bertemu Abdul Karim Oi dan mendirikan usaha dagang cengkeh. Usahanya ia mulai dengan modal yang tak terlalu besar. Namun kemudian berkembang. Nama usaha dagang itu adalah NV Mega. Mega yang dimaksud tentu saja adalah Megawati Soekarnoputri, anak dari Sukarno dan Fatmawati. Sementara Fatmawati adalah putri dari Hasan Din sendiri. Baik Hasan Din, maupun Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah sosok pekerja keras.

Suatu ketika, Nyai Siti walidah menasihati suaminya Ahmad Dahlan untuk beristirahat di usia senjanya. Bukannya mengiyakan, Dahlan malah mejawab, “Saya harus bekerja keras sebagai upaya meletakan batu pertama dalam gerakan mulia ini. Jika saya terlambat atau berhenti bekerja keras maka tidak akan ada yang membangun fondasi ini.”

Ya, meski saat ini kita dalam situasi sulit, tapi tidak pernah ada kata terlambat. Kita hanya perlu sedikit bekerja lebih keras!