Kerjasama Bogor dengan Beberapa Kota di Azerbaijan

Kerjasama Bogor dengan Beberapa Kota di Azerbaijan
Salah satu sudut Kota Baku/ wikipedia

MONDAYREVIEW.COM – Publik mungkin masih ingat pada kisah Walikota Bogor yang terjangkit Covid-19 sesaat setelah berkunjung ke Azerbaijan. Kini Sang Walikota muda ini sudah pulih dan bugar kembali. Bahkan menerima Duta Besar Azerbaijan Jalal Mirzayev untuk menindaklanjuti kerjasama dari hasil kunjungan tersebut.

Negeri dengan mayoritas penduduk penganut Syiah ini sedang mencapai kesepakatan damai dengan Armenia terkait konflik di Nagorno-Karabakh. Konflik klasik yang disisakan oleh imperium Uni Soviet yang sekian lama menguasai Kaukasus.

Kembali ke agenda Walokota Bima Arya dengan Dubes Jalal. Kepada Jalal Mirzayev, Wali Kota Bogor Bima Arya menyampaikan kembali kemungkinan ekspor teh dari Bogor. Saat kunjungan ke Kota Lankaran, saat bertemu dengan para pengusaha, Bima menyampaikan gagasannya untuk mengekspor teh dari Bogor. Karena IPB punya teh dengan kualitas bagus dan siap ekspor.

Gayung bersambut Jalal Mirzayev pun menegaskan sektor kerja sama yang akan dibangun, diantaranya urban farming, selain itu ada banyak project yang akan dikerjakan. Diharapkan setelah pandemi Covid-19 berakhir, kedua belah pihak akan mengimplementasikan berbagai macam project yang sudah didesain sebelumnya.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Dubes Azerbaijan untuk Indonesia, Jalal Mirzayev menyatakan kehadirannya ke Kota Bogor sebagai kunjungan balasan Wali Kota Bogor dan menindaklanjuti kunjungan yang telah dilakukan Wali Kota Bogor pada Maret lalu.

Pada kesempatan tersebut, Bima Arya mengharapkan bantuan dari Dubes Azerbaijan untuk Indonesia Jalal Mirzayev, terkait kerja sama Mal Pelayanan Publik (MPP) di Kota Baqu, Azerbaijan dalam hal pelatihan secara daring.

Wali Kota Bogor Bima Arya menaruh harapan kepada Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Jalal Mirzayev, dapat membantu kerja sama di bidang ekonomi antara Kota Bogor dengan kota-kota di Azerbaijan.

Wali Kota Bogor Bima Arya, di Kota Bogor, Selasa, mengatakan, saat dirinya bersama beberapa pejabat Kota Bogor melakukan kunjungan kerja ke Azerbaijan, pada Maret 2020, telah menyampaikan penawaran kerja sama dengan Kota Lankaran dan Kota Baqu.

Potensi kerjasama ekonomi terbula lebar antara Bogor dengan mitranya di kota-kota negeri itu. Misalnay dengan Baku atau Baqu yang merupakan ibu kota dan kota terbesar Azerbaijan, serta kota terbesar di Laut Kaspia dan wilayah Kaukasus.

Menurut situs wikipedia, Baku terletak 28 meter (92 kaki) di bawah permukaan laut, yang menjadikannya ibu kota negara terendah di dunia dan juga kota terbesar di dunia yang terletak di bawah permukaan laut. Baku terletak di pantai selatan Semenanjung Absheron, di sepanjang Teluk Baku.

Pada awal tahun 2009, populasi perkotaan Baku diperkirakan mencapai lebih dari dua juta orang. Secara resmi, sekitar 25% dari semua penduduk negara itu tinggal di wilayah metropolitan Baku. Baku adalah satu-satunya kota metropolis di Azerbaijan.

 

Kota Dalam Baku, bersama dengan Istana Shirvanshah dan Menara Perawan, ditorehkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2000. Menurut peringkat Lonely Planet, Baku juga termasuk di antara sepuluh tujuan teratas dunia untuk kehidupan malam perkotaan.

Kota ini merupakan pusat ilmu pengetahuan, budaya, dan industri Azerbaijan. Banyak lembaga Azerbaijan yang cukup besar bermarkas di sana. Pelabuhan Perdagangan Laut Internasional Baku mampu menangani dua juta ton kargo curah umum dan kering per tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, Baku telah menjadi tempat penting untuk acara internasional. Kota ini juga terkenal dengan angin kencang, yang tercermin dari julukannya, "Kota Angin".

Industri terbesar Baku adalah minyak bumi, dan ekspor minyak bumi menjadikannya penyumbang besar bagi neraca pembayaran Azerbaijan. Keberadaan minyak bumi sudah dikenal sejak abad ke-8. Pada abad ke-10, musafir Arab, Marudee, melaporkan bahwa minyak putih dan hitam diekstraksi secara alami dari Baku.

Pada abad ke-15, minyak untuk lampu diperoleh dari sumur permukaan yang digali dengan tangan. Eksploitasi komersial dimulai pada tahun 1872, dan pada awal abad ke-20 ladang minyak Baku adalah yang terbesar di dunia. Menjelang akhir abad ke-20, sebagian besar minyak bumi di darat telah habis, dan pengeboran meluas ke laut lepas pantai.

Pada akhir abad ke-19, para pekerja dan spesialis yang terampil berbondong-bondong ke Baku. Pada tahun 1900, kota ini memiliki lebih dari 3.000 sumur minyak, 2.000 di antaranya menghasilkan minyak di tingkat industri.

Baku digolongkan sebagai salah satu pusat produksi peralatan industri minyak terbesar sebelum Perang Dunia II. Pertempuran Stalingrad pada Perang Dunia II dilakukan untuk menentukan siapa yang akan menguasai ladang minyak Baku. Lima puluh tahun sebelum pertempuran, Baku menghasilkan setengah dari pasokan minyak dunia.

Ekonomi minyak Baku sedang mengalami kebangkitan, dengan pengembangan ladang besar Azeri-Chirag-Guneshli (Air dangkal Gunashli oleh SOCAR, daerah yang lebih dalam oleh konsorsium yang dipimpin oleh BP), pengembangan ladang gas Shah Deniz, perluasan Terminal Sangachal dan pembangunan BTC Pipeline.

Baku adalah salah satu tujuan wisata terpenting di Kaukasus, dengan hotel-hotel di kota itu menghasilkan 7 juta euro pada 2009. Banyak jaringan hotel dunia yang cukup besar hadir di kota ini.

Baku memiliki banyak tempat wisata dan hiburan populer, seperti Alun-Alun Air Mancur di pusat kota, Pantai Seribu Malam, Pantai Shikhov, dan Batu Minyak. Lingkungan Baku menampilkan Yanar Dag, tempat gas alam yang selalu berkobar.

Kota ini terdaftar ke-48 dalam daftar kota termahal di dunia tahun 2011 yang dilakukan oleh Mercer Human Resource Consulting. Jalan Nizami dan Neftchilar Avenue-nya termasuk di antara jalan-jalan termahal di dunia.

Kerjasama dengan negara-negara di Kaukasus dalam banyak bidang dengan skema sister city akan memberikan peluang terciptanya perdagangan dan wisata. Tentu dengan tujuan kemajuan bersama dan kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah fihak.