Kesadaran Generasi Muda Terhadap Perubahan Iklim

Kesadaran Generasi Muda Terhadap Perubahan Iklim
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Perubahan Iklim merupakan isu lingkungan yang merupakan kelanjutan dari pemanasan global. Perubahan iklim merupakan suatu peristiwa dimana di masa depan dunia akan menjadi lebih panas dari hari ini yang akan berdampak pada banyak hal, misalnya cairnya es yang berada di kutub utara dan selatan. Perubahan iklim juga merupakan tanda nyata bahwa manusia tidak bisa menjaga lingkungan sekitar. Manusia lebih mementingkan ekonomi dibanding kelestarian lingkungan.

Upaya-upaya edukasi masyarakat mengenai perubahan iklim dan kesadaran lingkungan senantiasa terus dilakukan. Salah satu yang menjadi target utama kampanye utama perubahan iklim adalah generasi muda. Penelitian Anthony Leiserowitz, Nicholas Smith, dan Jennifer R. Marlon, tahun 2011, menunjukkan relatif sedikit remaja Amerika (berusia 13–17 tahun) yang memiliki pemahaman mendalam tentang perubahan iklim.

Sementara, hasil riset di Norwegia, tahun 2016, hanya 38,7% generasi muda menyatakan memiliki pengetahuan yang baik tentang perubahan iklim. Kedua riset tersebut setidaknya memberikan gambaran kesadaran kognitif Gen-Z di negara-negara Amerika Utara dan Eropa, negara-negara Barat yang kaya, atas perubahan iklim belum baik.

Penelitian Angga Ariestya di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara menunjukkan hal yang berbeda. Hasil penelitian awal Angga menunjukkan kesadaran kognitif kaum muda sangat tinggi terhadap perubahan iklim. Angga meneliti respons mahasiswa generasi Z (kelahiran sesudah atau pada tahun 1997) yang tinggal di perkotaaan terkait dengan pemberitaan perubahan iklim.

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesadaran kognitif (pengetahuan yang terbentuk tentang perubahan iklim), afektif (perasaan cemas atau takut atas pengetahuannya tentang perubahan iklim), dan konatif (keinginan atau komitmen untuk segera bertindak karena kesadaran kognitif dan afektifnya tersebut) atas perubahan iklim yang mereka baca dari berita daring.

Penelitian awal Angga mendapati bahwa nilai kesadaran perubahan iklim gen-Z >80%. Yang menarik adalah kesadaran kognitif kaum muda ini tidak berkorelasi kuat dengan kesadaran konatif mereka. Berdasarkan uji statistik, nilai korelasi antara kesadaran kognitif dan konatif adalah 0.471. Semakin tinggi nilai (mencapai 1) semakin kuat korelasi.

Artinya, kaum muda Indonesia masih enggan melakukan sesuatu untuk mengurangi masalah perubahan iklim walaupun memiliki kesadaran kognitif yang tinggi. Dalam penelitian ini, peneliti memilih partisipan secara acak dari mahasiswa UMN, rata-rata tinggal di kota Tangerang Selatan. Sampel yang diambil homogen, artinya memiliki karakter demografi yang sama, baik dari segi usia, pendidikan, dan rata-rata pendapatan.

Peneliti membagi 110 responden ke dalam dua kelompok, masing-masing 55 orang. Peneliti memberikan partisipan kelompok pertama berita daring yang “dimanipulasi” dengan memberitakan tentang bencana kekeringan, kelaparan, dan banjir sebagai dampak perubahan iklim. Sementara, partisipan kelompok kedua mendapatkan berita daring tentang perubahan iklim tanpa “dibingkai” dengan bencana.

Peneliti mengumpulkan responden ke dalam ruangan dan waktu yang bersamaan dan memberikan artikel-artikel yang memiliki pembingkaian manipulatif secara bergantian. Artikel-artikel tersebut dimuat dalam website fiktif, seakan-akan merupakan portal media daring. Setelah itu, para responden mengisi kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang kali.

Pertanyaan mengandung unsur-unsur pertanyaan tentang pengetahuan, hal yang dirasakan, dan komitmen untuk bertindak terkait perubahan iklim. Tanpa pembingkaian berita, kaum muda ini sudah menyadari perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia dan menjadi ancaman serius bagi mereka.

Apakah karena Indonesia merupakan negara yang rawan bencana sehingga kesadaran mengenai perubahan iklim terbangun sangat kuat di kalangan muda Indonesia? Hasil studi ini masih perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana faktor geografis, sosial, dan budaya mempengaruhi kesadaran perubahan iklim.