Kim dan Trump : Dari Enemy ke Frenemy?

Kim dan Trump : Dari Enemy ke Frenemy?

 

MONDAYREVIEW.COM - Hanoi Vietnam menjadi tuan rumah KTT kedua antara Korea Utara dan Amerika Serikat pada 27-28 Februari. Banyak yang optimis. Banyak pula yang skeptis. Setelah perang kata di awal Trump menjabat Presiden, mereke kini saling menjabat tangan. Pertemuan KTT yang kedua setelah Juni 2018 lalu di Singapura.  

Hubungan tarik-ulur antara dua pemimpin ini digambarkan dengan istiolah frenemy. Seperti kawan yang membuat jengkel satu sama lain. Dalam salah satu kamus disebutkan bahwa frenemy adalah seseorang dalam hidup kita, biasanya teman dari teman atau rekan kerja,  yang bergaul dengan kita dan menikmati kebersamaan secara keseluruhan.

Pujian Trump bahwa Korut akan menjadi negara yang sangat maju, diiringi dengan tekanan agar mereka melakukan denuklirisasi. Potensi Korut sebagai pengubung antara Semenanjung Korea dengan Cina dan bahkan Eropa sangat menjanjikan. Namun dugaan bahwa denuklirisasi akan disepakati dengan mulus serasa masih jauh panggang dari api.  

Begitupun Kim memuji Trump yang dinilainya bernyali besar karena bersedia hadir di KTT kedua setelah KTT Singapura. Ia pun dipandang para pengamat akan mengambil keuntungan pencitraan dirinya sebagai ahli strategi ulung yang akan mampu mengakhiri Perang Korea 1950-1953 yang secara teknis masih berlangsung hingga hari ini.

Denuklirisasi Semenanjung Korea dan berakhirnya sanksi internasional terhadap Pyongyang diharapkan menjadi pokok utama dalam agenda diskusi antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump.

Kedua pemimpin itu mengadakan pertemuan puncak penting di Singapura tahun lalu, yang pertama antara presiden AS dan pemimpin Korea Utara.

Pertemuan Juni 2018 menghasilkan pernyataan yang tidak jelas di mana Kim dan Trump menguraikan empat komitmen tanpa jadwal yang pasti yakni membangun "hubungan baru" untuk perdamaian dan kemakmuran,  membangun "rezim perdamaian abadi dan stabil di Semenanjung Korea", bekerja "menuju denuklirisasi", dan memulihkan serta memulangkan sisa-sisa tentara yang terbunuh selama Perang Korea 1950-1953.

Kali ini, taruhannya tampaknya lebih tinggi di tengah meningkatnya harapan bahwa kedua pemimpin perlu membuat perjanjian yang lebih rinci yang akan menghasilkan kemajuan nyata.