Kisah Sukses Pendidikan Vokasi bagi Perempuan

Kisah Sukses Pendidikan Vokasi bagi Perempuan

 

MONDAYREVIEW.COM – Belajar dari kisah sukses  di beberapa negara tentang pendidikan vokasi  kita bisa menyerap inspirasi sekaligus motivasi. Sebagai negara dengan jumlah angkatan kerja yang relatif tinggi sebagai dampak dari bonus demografi, Indonesia membutuhkan lapangan kerja sekaligus produktifitas yang semakin meningkat secara signifikan.

Kesan bahwa sekolah vokasi atau kejuruan hanya diminati oleh siswa yang kurang pandai tidak saja terjadi di Indonesia. Di Bangladesh pun demikian. SMK dan Poltek di sana juga terkesan demikian. Peran guru sangat penting dalam menjelaskan dan membantu seorang perempuan bernama Suma Begum menetapkan pilhannya untuk menekuni pelatihan atau pendidikan di bidang vokasi.  

Dengan bekal skill dan kompetensi yang dimilikinya, Suma mendapat pekerjaan dan penghasilan yang sangat menjanjikan. Tidak banyak wanita bisa mendapatkan posisi supervisor  di industri makanan seperti yang disandang Suma.  Baik majikan dan anggota keluarga cenderung menghalangi atau membatasi mereka. Di tengah iklim budaya yang demikian, Suma menjadi istimewa.

Saat ini bekerja sebagai Asisten Operasi Insinyur, mengawasi kontrol kualitas di Mymensingh Agro Ltd di Gazipur, Suma adalah bukti bagaimana perempuan dapat sejahtera melalui pelatihan kejuruan. Pendidikan vokasi telah memperbaiki nasibnya sekaligus memerdekakannya dari keterkungkungan budaya dan keterpurukan sosial ekonomi.

Untuk mencapai posisinya Suma harus melalui tahapan pendidikan vokasi yang jarang diikuti perempuan di negerinya. Suma belajar dan menyelesaikan Sertifikat Sekolah Menengah (SSC) di distrik Thakurgaon di barat laut Bangladesh.

Ketika dia memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi untuk mengambil Higher Secondary Certificate (HSC), seorang guru menyarankan agar dia mengambil kursus diploma kejuruan.

Gurunya menjelaskan bahwa banyak siswa memilih untuk diploma kejuruan setelah menyelesaikan HSC mereka ketika mereka menemukan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

Gurunya menyarankan agar dia tidak membuang-buang waktu dengan HSC karena ada lebih banyak permintaan untuk keterampilan dan ijazah dapat membuka peluang untuk pekerjaan dengan gaji mulai 10.000-15.000 taka.

Termotivasi oleh saran ini, ia memutuskan untuk melanjutkan program diploma empat tahun. Sebagai mahasiswa diploma, Suma menghadapi tentangan dari masyarakat. Teman-temannya mengatakan bahwa dia telah membuat keputusan yang buruk. Standarnya akan terlalu tinggi kala ingin menentukan pasangan hidupnya kelak.

Suma sekarang tinggal di asrama perempuan yang disediakan oleh perusahaan tempat dia bekerja. Dia mengatakan diploma menempatkannya di depan rekan-rekannya, banyak dari mereka juga melanjutkan untuk mengejar diploma setelah menyelesaikan HSC mereka ketika mereka tidak dapat menemukan pekerjaan.

Melalui kerja keras dan pengabdian, dia bisa naik pangkat untuk mencapai posisi pengawasan seperti sekarang ini. Dia berkontribusi untuk pengeluaran rumah tangga orangtuanya dan menabung untuk masa depannya sendiri. Dia yakin bahwa ketika dia memilih untuk menikah, dia akan terus memelihara kemandirian keuangannya sendiri sehingga dia selalu diperlakukan setara oleh pasangannya.

Selama dekade terakhir, Pemerintah Bangladesh telah menunjukkan komitmen kuat untuk membawa perempuan ke dalam angkatan kerja.

Kebijakan Pengembangan Keterampilan Nasional (NSDP) yang disahkan pada 2012 mengakui rendahnya tingkat partisipasi perempuan dalam pengembangan keterampilan dan menyatakan bahwa upaya khusus diperlukan untuk memperbaiki ketidakseimbangan gender ini, khususnya dalam sistem pelatihan formal.

Proyek ILO untuk Ketrampilan Ketenagakerjaan dan Produktivitas (B-SEP), yang didanai oleh Pemerintah Kanada, bekerja dengan pemerintah untuk membuat keterampilan di Bangladesh dapat diakses oleh semua orang.

ILO mengambil beberapa langkah seperti mempromosikan inklusi perempuan dalam kursus “non-tradisional” untuk kesempatan kerja yang lebih baik; pemasaran sosial dan peningkatan kesadaran; advokasi untuk kamar kecil terpisah untuk wanita; dan perekrutan instruktur perempuan sedapat mungkin.

Untuk meningkatkan partisipasi anak perempuan dalam program pelatihan teknis dan kejuruan, upaya juga perlu melibatkan keluarga, masyarakat, penyedia pelatihan, pengusaha dan pemerintah.

Kebijakan ambisius dan rencana aksi yang berhasil mengubah norma-norma gender dan hubungan dalam masyarakat diperlukan untuk mewujudkan kesetaraan gender di tempat kerja, untuk menciptakan peluang bagi lebih banyak perempuan seperti Suma.