Kolaborasi Konsumsi Untuk Efisiensi Sumber Daya

Kolaborasi Konsumsi Untuk Efisiensi Sumber Daya

MONITORDAY.COM – Jika bisa berbagi dalam konsumsi mengapa tidak? Kita bisa lebih efisien. Terhindar dari mubazir. Misalkan dalam penggunaan rumah atau kendaraan. Collaborative Consumption (Konsumsi kolaboratif) menjadi bagian dari  sharing economy atau ekonomi berbagi.

Konsumsi kolaboratif dapat didefinisikan sebagai seperangkat sistem sirkulasi sumber daya, yang memungkinkan konsumen untuk "memperoleh" dan "menyediakan", sementara atau permanen, sumber daya atau layanan yang berharga melalui interaksi langsung dengan konsumen lain atau melalui mediator.

Konsumsi kolaboratif adalah penggunaan bersama atas barang atau jasa oleh suatu kelompok. Sedangkan dengan konsumsi normal seorang individu membayar biaya penuh barang dan mempertahankan akses eksklusif untuk itu, dengan konsumsi bersama beberapa orang memiliki akses ke barang dan menanggung biayanya.

Sebenarnya konsumsi kolaboratif bukanlah hal baru. Pasar loak, penjualan garasi, penjualan boot mobil, dan toko barang bekas menjadi contoh. Kita masih ingat ada lapak Barbeku – barang bekas berkualitas yang juga menjadi contoh konkret.

Contoh umum adalah ridesharing, di mana banyak orang memiliki akses ke transportasi dan membayar untuk itu, bukan hanya pemilik mobil. Sebelum ada aplikasi transportasi berbagi ada praktik ‘nebeng ke kantor’. Dekat pintu tol atau menuju pusat bisnis para pemilik mobil mengangkut sesama pekerja yang searah. Dengan imbalan pengganti bensi dan tol.   

Cara Kerjanya cukup simpel. Konsumsi kolaboratif adalah bentuk berbagi. Misalnya, sewa peer-to-peer, telah digunakan oleh masyarakat selama ribuan tahun dan memberikan sekelompok individu dengan aset tanpa mengharuskan setiap orang untuk membelinya sendiri. Hal ini memungkinkan konsumen untuk mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan, sementara juga memungkinkan mereka untuk menyediakan sumber daya yang orang lain butuhkan dan tidak sepenuhnya dimanfaatkan.

Konsumsi kolaboratif sangat kontras dengan gagasan konsumsi konvensional atau konsumsi tradisional. Konsumsi konvensional melibatkan konsumen pasif yang tidak dapat atau tidak diberi kapasitas untuk menyediakan sumber daya atau layanan apa pun.

Sebaliknya, konsumsi kolaboratif tidak hanya melibatkan "konsumen" tetapi "pemasok", yang tidak hanya "memperoleh" tetapi juga "menyediakan" sumber daya bagi orang lain (mis. Konsumen, organisasi, pemerintah).

Secara keseluruhan, kapasitas konsumen untuk beralih peran dari "penyedia" ke "pemasok" dan dari "pemasok" ke "penyedia", dalam sistem distribusi sumber daya tertentu, merupakan kriteria pembeda utama antara konsumsi konvensional dan konsumsi kolaboratif.

Pentingnya Ekonomi berbagi dibangun di atas pembagian aset yang kurang dimanfaatkan, baik berwujud maupun tidak berwujud. Jika orang mulai membagikan sumber daya atau layanan yang kurang digunakan ini, ini tidak hanya akan mengurangi limbah fisik kita tetapi juga limbah sumber daya kita.

Ada dua bentuk konsumsi kolaboratif:

Pertama, mutualisasi atau sistem akses: sistem distribusi sumber daya di mana individu dapat menyediakan dan memperoleh akses sementara ke sumber daya, baik gratis atau dengan biaya tertentu. Pendek kata memakai bersama suatu sumber daya. Atau pinjam sebentar.

Skema akses yang dikelola pemasar tidak memungkinkan individu untuk sumber sumber daya, dan karenanya bukan sistem mutualisasi, sedangkan situs penyewaan peer-to-peer atau bahkan perpustakaan peminjaman mainan, yang memungkinkan konsumen menyediakan sumber daya.

Kedua, Sistem redistribusi. Sistem distribusi sumber daya di mana individu dapat menyediakan dan memperoleh sumber daya secara permanen, gratis. Ada orang yang tidak membutuhkan dan perlu tempat untuk membuang barang bekasnya. Ada pula yang membutuhkannya dengan alasan tertentu.