Kombinasi Sabar dan Semangat Terus Tumbuh Ala Mujiaman

Kombinasi Sabar dan Semangat Terus Tumbuh Ala Mujiaman
Mujiaman/ Kolase

MONDAYREVIEW.COM – Apa jadinya kalau air PDAM di rumah kita tersendat. Apalagi macet. Tentu kita kelimpungan. Meski kala pasokan lancar-lancar saja seringkali membuat kita boros dan melupakan betapa air sangat bermanfaat dan vital bagi keseharian kita.

Bagi dunia usaha dan dunia industri pun demikian. Industri baja sangat membutuhkan cukup banyak air dengan kualitas yang baik. Bila air mengandung kerak, lumut atau kandungan lainnya akan mempengaruhi proses pendinginan baja yang dicetak dari wujud cairnya menjadi batangan layaknya balok panjang.  

Pada prinsipnya air adalah hajat hidup orang banyak. Terutama untuk kebutuhan sanitasi. Bila perlu untuk air minum. Untuk itulah pasal 33 UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

PDAM sebagai BUMD punya peran besar. Namun rerata punya masalah besar. Ada yang utangnya besar atau layanannya yang mengecewakan pelanggan. PDAM Surabaya termasuk yang beruntung secara komersial. Namun beberapa tahun lalu layanannya belum maksimal. Banyak konsumen yang mengeluhkan air tak sampai ke rumah mereka.  

Hal ini terungkap dalam wawancara Dahlan Iskan dengan Mujiaman, mantan Direktur PDAM Surabaya, dalam Podcast Disway yang dirilis sekira dua minggu sebelum ulasan ini ditulis dan dipublikasikan.  

Hingga sebuah keputusan harus diambil oleh Walikota Surabaya setelag 2,5 tahun kursi di reksi PDAM di Kota Pahlawan itu kosong. Belum ada figur yang cocok. Setidaknya untuk saat itu. Dan Mujiaman adalah salah satu sosok yang mampu mentransformasikan PDAM Surabaya menjadi BUMD yang profesional dalam layanan.

Kini 99% kebutuhan air di Surabaya telah mampu dipenuhi. Meski sebelumnya sudah mencapai 97% bukan main kendala yang harus dihadapi untuk menangani 3% sisanya. Di luar itu ada kebutuhan air yang tidak boleh ditangani karena ketentuan PERDA, misalnya kebutuhan warga yang tinggal di tanah atau lahan negara.

Semua ada solusinya. Mujiaman bekerjasama dengan LSM untuk menangani pasokan air bagi kalangan bawah alias kaum marginal. Dengan alasan kemanusiaan, lebih dari 10 ribu orang kalangan tersebut yang kini terlayani. Tanpa melanggar Perda. Dan hasilnya dari pengeluaran Rp 600 ribu per bulan untuk membeli air turun menjadi sekira Rp 50 Ribu per-bulan.  

Mujiaman yang juga Ketua Harian Ikatan Alumni ITS Surabaya memiliki pengalaman dalam produksi di perusahaan kimia Asahi dan ‘sales’ di perusahaan Ecolab milik Bill Gates yang beroperasi di Indonesia.

Dari perusahaan Jepang ia merangkum pengalamannya dengan satu frasa. Kehati-hatian dan kesabaran. Perusahaan Jepang memiliki kultur yang sangat menjunjung tinggi protocol yang sudah mereka susun. Meski teori atau konsep sudah matang dan pernah dijalankan di suatu tempat bukan berarti 100% dilaksanakan seketika di tempat baru.

Orang Jepang memegang prinsip bahwa selalu ada hal-hal baru dan tak terduga di tempat baru. Ada hal-hal yang lepas dari pengamatan atau kalkulasi para ilmuwan.

Sementara di perusahaan air asal AS Mujiaman belajar tentang prinsip ‘tumbuh atau lenyap’. Artinya harus ada pencapaian terus-menerus dalam bidang atau profesi yang kita tekuni. Bila mandeg maka lebih baik mencari tempat lain yang memungkinkan untuk tumbuh.