Kompor Induksi Lebih Irit, Aman dan Ramah Lingkungan

Kompor Induksi Lebih Irit, Aman dan Ramah Lingkungan
kompor induksi/ net

MONDAYREVIEW.COM – Teknologi kompor listrik atau kompor induksi bukanlah barang baru. Produk kompor induksi ini sudah banyak kita dapati di pasaran dalam beberapa tahun terakhir. Namun secara umum penggunaannya masih belum populer. Sebagian pelanggan masih merasa masih sanksi apakah alat ini lebih hemat dibanding kompor gas.   

Seakan masih segar dalam ingatan betapa konversi dari kompor minyak tanah ke kompor gas elpiji berlangsung alot. Diwarnai demo dan kelangkaan minyak tanah. Juga kasus ledakan kompor gas di beberapa tempat. Hingga kini sebagian masyarakat kita masih menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Sebagian besar menggunakan kompor gas. Dan sebagian kecil menggunakan kompor induksi atau kompor listrik.

Kini kita dihadapkan lagi pada pilihan untuk berpindah ke kompor induksi. Gas elpiji ternyata masih menyedot subsidi awalau tak sebesar minyak tanah. Konversi dari kompor elpiji ke kompor induksi akan menghemat anggaran subsidi elpiji yang telah dianggarkan sebesar Rp 50,6 triliun pada APBN 2020. Targetnya  subsidi elpiji dalam lima tahun akan turun sekitar Rp 4,8 triliun

Senafas dengan penghematan anggaran konversi ini akan meningkatkan ketahanan energi nasional karena mengubah penggunaan energi berbasis impor menjadi energi berbasis lokal. Elpiji yang kita konsumsi sebagian besar masih impor, sementara listrik adalah energi berbasis lokal. Elektrifikasi di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ketersediaan pasokan yang tentu saja harus dijaga.  

Dengan melakukan konversi ke kompor induksi juga akan meningkatkan konsumsi energi listrik dan energi bersih. Pada tahun 2019, penggunaan listrik per kapita baru mencapai 1.084 kilo Watt hour (kWh) per kapita, PLN menargetkan konsumsi listrik per kapita meningkat menjadi 1.142 kWh.

Hasil kajian teknis laboratorium Institut Teknologi PLN menunjukkan, untuk memasak 1 liter air dengan menggunakan kompor induksi 1.200 watt sebesar Rp 158, sementara menggunakan kompor elpiji tabung 12 kg (api maksimal) sekitar Rp 176.

Masyarakat dengan daya 900 watt dan 1.300 watt dapat menggunakan kompor induksi tersebut, karena daya yang digunakan untuk kompor induksi tersebut dapat di atur dari 3 ampere 4, 5 atau 6 ampere.

Jika dibandingkan dengan alat elektronik seperti AC, Kulkas dan lainnya, daya yang dipakai untuk kompor induksi lebih kecil dibandingkan alat alat elektronik tersebut.

Penggunaan kompor induksi tersebut lebih hemat karena menggunakan energi baru dan terbarukan. Tidak seperti kompor yang menggunakan energi dari fosil yang lama kelamaan persediaannya menipis. Sehingga penggunaan kompor induksi tersebut merupakan salah satu dukungan terhadap investasi untuk kelestarian alam.

Dari segi keamanan kompor induksi lebih aman karena terdapat sensor elektronik pada kompor induksi, seperti sensor tekanan suhu dan kelistrikan. Risiko kebakaran bisa ditekan. Meski kehati-hatian tetap diperlukan.

Penggunaan kompor induksi tersebut juga mendukung program pemerintah, yakni 'electronic flying lifestyle'. Dimana salah satu program tersebut yakni memasyarakat penggunaan kompor induksi di tengah tengah masyarakat. Energi yang diperlukan untuk berbagai keperluan cukup dipasok melalui jaringan listrik PLN.

Secara khusus PLN belum lakukan survei terkait penggunaan kompor induksi di tengah tengah masyarakat, namun pelaku usaha seperti resto, tenan dan cafe di beberapa daerah sudah mulai beralih menggunakan kompor induksi.