Konsolidasi Ekonomi, Perkuat UMKM dan Koperasi

Konsolidasi Ekonomi, Perkuat UMKM dan Koperasi
(c) suara.com

MONDAYREVIEW.COM - Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu agenda paling penting dalam Kabinet Indonesia Maju. Ekonomi yang tumbuh mendorong serapan angkatan kerja dan bergulirnya mesin ekonomi. Lapangan kerja di sektor formal dan informal. Juga kesempatan berusaha. Masyarakat mendapatkan penghasilan bahkan meningkat kesejahteraannya. Daya beli masyarakat juga meningkat, uang atau modal berputar, realisasi kredit tumbuh, dan dunia usaha bisa bernafas lega.

Ekspor memang menjadi salah satu kunci dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Transaksi perdagangan yang sehat setidaknya dapat menggambarkan hal demikian. Defisit transaksi berjalan harus ditekan. Daya saing produk Indonesia di pasar regional dan global harus dijaga. Hal ini menghadapi tantangan berat mengingat kondisi global yang tidak menguntungkan.

Meski ekspor harus terus dipacu, pasar lokal tetap harus dijaga agar tidak dibanjiri produk impor.  Seperti dalam sepakbola, strategi menyerang dan bertahan sama-sama penting. Jika dunia usaha kita solid maka produk dalam negeri akan berjaya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Di sinilah peran pengambil keputusan di Kabinet Indonesia Maju sangat menentukan.  

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina saja diperkirakan akan menyusutkan perekonomian dunia sebesar 0,8% di tahun 2020. Perlambatan ekonomi dunia akan sangat menyulitkan bagi banyak negara. Tak terkecuali Indonesia. Ancaman resesi pun tak boleh dipandang sebelah mata. Kedua negara raksasa ekonomi dunia itu memiliki kepentingan masing-masing dalam menyelamatkan perekonomian nasionalnya.

Dampaknya bagi Indonesia mulai terasa. Target pertumbuhan ekonomi kita tidak sesuai ekspektasi. Banyak pihak di dalam negeri yang tak menyadari bahwa faktor eksternal sangat kuat dalam menekan laju pertumbuhan. Hal itu nampak dalam realisasi ekspor Indonesia yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ekspor ini dipengaruhi oleh penurunan ekspor migas hingga 37%, non migas 11% dan produk pertanian 15,9%.

Penurunan pertumbuhan penjualan industri tekstil dan produk tekstil, properti, semen, baja, otomotif, dan penjualan ritel. Padahal Indonesia tengah membenahi infrastruktur sehingga membutuhkan berbagai produk strategis di atas. Pun kompetisi dengan banyak pesaing berskala multinasional membuat pertumbuhan industri kita belum optimal.

Pada situasi seperti ini dan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi dunia yang mengkhawatirkan di tahun-tahun mendatang diperlukan kebijakan dan langkah konsolidasi ekonomi. Andaikan ekspor belum sesuai harapan minimal banjir impor dapat ditekan. Pasar harus dijaga untuk stabil dan bergairah. Konsumen tetap membelanjakan uangnya. Produk hasil industri nasional dapat terjual di pasar lokal.

Dalam upaya konsolidasi ekonomi nasional UMKM dan Koperasi menjadi tulang punggungnya. Kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia mencapai 62,5%. Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 95%. Kontribusinya terhadap ekspor non-migas hingga 16,45%. Kementerian Koperasi dan UMKM tentu berada di garis depan dalam upaya ini. Didukung dengan kebijakan lintas sektoral melibatkan seluruh jajaran terutama dalam lingkup Kemenko Perekonomian.

Salah satu agenda penting dalam penguatan UMKM dan Koperasi adalah upaya membangun dan memperkuat struktur modal mereka. Hal yang bisa dilakukan bersama Program Sinergi BUMN yang melibatkan lembaga keuangan perbankan dan non-perbankan. Akses kredit yang luas dan tepat sasaran akan mendongkrak peran UMKM dan Koperasi dalam perekonomian nasional.