Lagu Anak dan Narasi Jokowi untuk Generasi Masa Depan

Lagu Anak dan Narasi Jokowi untuk Generasi Masa Depan
Foto: Humas/Jay

DALAM acara yang digelar untuk mengumumkan dan menampilkan Lomba Cipta Lagu Anak Tahun 2018, di halaman tengah Istana Merdeka, Jumat (20/7) sore, Presiden Jokowi sempat bertanya kepada anak-anak yang hadir apakah mereka suka mendengarkan lagu anak-anak atau bermain handphone?

“Tahu saja, senangnya main handphone, main smartphone, main gadget, benar enggak?,” tanya Presiden, yang langsung dijawab serentak anak-anak, “Tidak”.

Presiden Jokowi ingat betul, ketika dulu kecil, dirinya seringkali mendengarkan lagu-lagu Cica Koeswoyo, dengan lagunya “Heli Guk Guk Guk.” Begitu juga dengan lagu Dina Mariana dengan lagunya ‘Paman dari Mana’, dan Ira maya Sopha dengan lagu ‘Sepatu Kegedean’.

Adanya pergeseran tayangan, kepemilikan gadget, serta aspek material lainnya yang super teknologis, memang telah banyak mengubah relasi sosial dan hubungan kejiwaan kita, terutama anak-anak saat ini.

Dalam konteks kepemilihan gadget misalnya, fenomenanya bahkan sangat anarkhis. Kepemilikannya menggambarkan bagaimana hubungan hak milik antara pemilik dan handphonenya, dan rasa tertariknya akan handphone (hp) yang hanya sebentar saja.

Bila ditelisik lebih dalam, paling tidak ada empat hal yang dapat dijelaskan dalam hubungan tersebut. Pertama unsur depersonalisasi dalam hubungan pemilik dan handphonenya, bahwa handphone bukan lagi obyek konkret yang disenangi pemilik melainkan sudah menjadi lambang status, suatu perluasan kekuasaan pembentuk ego. Setelah mendapat handphone, pemilik sebetulnya telah memperoleh sepotong ego baru.

Kedua, membeli handphone baru pada setiap dua bulan dan bukan satu tahun menambah nafsu kepemilikan. Ketiga, sering membeli handphone berarti semakin banyak kesempatan untuk melakukan transaksi, untuk mendapatkan keuntungan lewat pertukaran itu. keempat, perlu adanya pengalaman rangsangan “baru”, karena rangsangan lama sudah layu dan habis kekuatannya setelah waktu yang sangat singkat.

Demikianlah cermin hubungan masyarakat modern, semuanya diukur oleh rasa kepemilikan materi semata. Dus, yang muncul kemudian adalah sebuah hubungan yang selalu ingin menguasai antar sesama. Meningkatnya konflik kejiwaan secara personal lalu kemudian berimbas kepada tatanan masyarakat yang tertata secara serampangan, soliditas yang minimalis dan miskin nilai.

Pun sama dengan kasus menghilangnya lagu-lagu anak, dan berganti dengan lagu-lagu yang lebih dewasa. Tidak heran bila anak seumur 2,5 tahun sudah fasih mendengatkan lagu-lagu tentang percintaan dan perselingkuhan ala band-band anak muda zaman sekarang.

Padahal, tanpa disadari secara psikologis, membuat anak-anak kurang peka terhadap keadaan lingkungannya. Termasuk gimana mereka berbagi bersama teman dan menyayangi alam dan lingkungan sekitar.

Itulah kiranya yang coba disasar Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ibu negara Iriana Jokowi; bermain, berdendang dan berimajinasi bersama anak-anak di halaman Istana Merdeka, Jum’at (20/7) sore.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga memberikan pertanyaan kepada anak-anak yang hadir, dan yang bisa menjawab pertanyaan diberikan hadiah mulai dari boneka sampai sepeda.

Usai memberikan sambutan dan membagikan hadiah, presiden bersama ratusan anak-anak yang hadir menonton film bersama di Istana Negara. Film, “Ku Lari Ke Pantai,” garapan Mira Lesmana dam Riri Riza ditampilkan pada kesempatan ini.

Istana negara pun diubah menjadi bioskop. Videotron diletakkan di bagian depan ruangan. Anak-anak pun duduk memenuhi ruangan. Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, dan tokoh pemerhati anak-anak Kak Seto.

Apa yang ditanamkan Presiden Jokowi kepada anak-anak itu, sesungguhnya ingin agar kelak keeratan (kohesivitas) sosial antara warga masyarakat benar-benar terjadi dalam realitas kehidupan masyarakat. Tatatan masyarakat yang tertata secara baik, yang kemudian melahirkan manusia-manusia yang senantiasa memiliki keseimbangan fungsi sosial dan individualnya atau apa yang dalam bahasa lain dikenal dengan sosok yang memiliki kesalehan sosial dan individual (Masyarakat Utama).