Mampukah Mensos Baru Atasi Kemikinan?

 Mampukah Mensos Baru Atasi Kemikinan?

MONDAYREVIEW.COM - Pada bulan September 2017, tingkat kemiskinan Indonesia adalah 10,12 persen, atau 26,58 juta orang miskin secara absolut. Data terbaru menunjukkan masih ada 25,95 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Ini jumlah yang besar. Walau turun signifikan namun besarnya angka tersebut masih sangat memprihatinkan.  

Sementara itu, ada puluhan juta orang Indonesia yang hidup tepat di atas garis kemiskinan, menyiratkan bahwa puncak inflasi yang relatif kecil dapat mendorong orang-orang ini kembali) ke dalam kemiskinan. Semakin sulit bagi pemerintah untuk mengangkat kelompok yang tersisa ini keluar dari kemiskinan.

Menteri sosial yang akan membantu Presiden Joko Widodo pada periode kedua kepemimpinannya harus mampu dan bekomitmen penuh dalam mengatasi masalah kemiskinan. Masalah sosial lainnya bukan tidak ringan, namun kemiskinan menjadi salah satu akar sekaligus muara dari persoalan bangsa. Sebagai contoh sederhana, orang miskin tidak bisa sekolah, dan orang yang mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.   

Indonesia adalah negara demokrasi terpadat ketiga di dunia dan berada di peringkat ke 16 dalam PDB. Di sisi lain Indonesia juga memiliki ketimpangan kekayaan terburuk keenam di dunia. Tantangan ini menunjukkan bahwa posisi Indonesia sangat menjanjikan sekaligus riskan. Salah dalam mengelola akan menjerumuskan sebagian rakyatnya ke jurang kemiskinan.

Indonesia masih bertahan sebagai negara berkembang yang ditandai oleh perbedaan upah yang sangat besar.  Sebagian orang berpendapatan cukup tinggi dan sebagian lainnya masih merangkak untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari hari.

Secara statistik angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi. Indonesia memiliki populasi 261 juta; dari mereka, 28 juta warga hidup di bawah garis kemiskinan, dengan sekitar 10 persen dari populasi berpenghasilan jauh lebih rendah dari pendapatan rata-rata.

Relatif ada Harapan dalam mengatasi kemiskinan. Statistik ini mungkin tampak sulit ditembus, tetapi kemiskinan di Indonesia telah berkurang lebih dari setengah sejak 1999.

Indonesia  telah secara proaktif berupaya mengatasi kemiskinan relatif - yang menghasilkan kurang dari pendapatan rata-rata - dengan beban terbesar sekarang berada dalam kemiskinan absolut (yang hidup di bawah garis kemiskinan).

Pengentasan golongan termiskin di Indonesia lebih menantang, karena mereka berada dan terjebak di  lingkungan pedesaan yang tidak memiliki dukungan yang memadai.

Kemiskinan pedesaan juga menjadi agenda tersediri bagi Pemerintah khususnya Menteri Sosial. Komunitas pedesaan Indonesia biasanya jauh lebih miskin daripada komunitas perkotaan, dengan tingkat kemiskinan berkisar antara 13,2 persen hingga 29,15 persen yang mengejutkan.

Kemiskinan pedesaan berfokus pada penghidupan yang adil, tetapi bahkan ini menjadi sulit tanpa infrastruktur. Orang-orang yang tinggal di desa-desa terpencil ini seringkali tidak memiliki akses ke layanan kesehatan, pasar dan layanan penyuluhan pertanian, dan tidak dilengkapi dengan pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk berhasil di masyarakat perkotaan.

Publik tentu berharap Menteri Sosial yang baru mampu memberi harapan bagi rakyat miskin. Bukan menyia-nyiakan anggaran untuk kepentingan politik bahkan mengkorupsinya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Dan posisi Menteri Sosial seharusnya bukan menjadi  ajang bagi-bagi kursi untuk partai politik.