Membaca Tren Demografis, Mendorong Tumbuhnya Wirausaha

Membaca Tren Demografis, Mendorong Tumbuhnya Wirausaha

MONDAYREVIEW.COM – Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia. Wilayahnya luas, penduduknya banyak. Tinggal kehandalan strategi dan kebijakan Pemerintah, peran aktif swasta, dan dukungan rakyat yang harus dimaksimalkan. Konsolidasi demokrasi pasca Pilpres menjadi tonggak untuk melangkah maju. Memanfaatkan peluang, mensinergikan kekuatan, dan mengatasi kendala di lapangan.   

Di sinilah visi Presiden sangat penting. Lalu Kabinet harus mampu merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan secara efektif. Hambatan birokrasi dipangkas.  Deliver kebijakan hingga ke lapangan. Memastikan bahwa langkah yang diambil berdampak pada sasaran. Bila ada kendala diatasi dan diselesaikan. Inovasi sebagai respon pada perubahan yang cepat harus diberi ruang.  

Di sektor ekonomi Indonesia harus mampu memanfaatkan dan memaksimalkan peluang. Memanfaatkan tren positip yang dapat dibaca sebagai ‘berkah’ dari Tuhan. Jika dulu kita banyak mengandalkan kekayaan dan keindahan alam maka kini kita harus lebih banyak mensyukuri nikmat sebagai negara yang dianugerahi kekuatan SDM.

Ada 3 tren positip yang dapat  kita manfaatkan dalam mendorong perekonomian nasional.

Yang pertama, jumlah usia produktif (bonus demografi). Jumlah penduduk Indonesia saat ini tak kurang dari 267 juta jiwa dengan usia produktif yang  cukup tinggi. Tentu di satu sisi kita harus melakukan kontrol atas pertambahan jumlah penduduk namun di sisi lain kita juga harus memaksimalkan angkatan kerja yang tumbuh cepat.

Jumlah atau kuantitas harus dibarengi dengan kualitas. Maka pendidikan dan kesehatan jadi ujung tombak. SDM produktif harus mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan. Di masa kini dan masa depan, bukan lapangan kerja yang kurang namun banyak pencari kerja yang tidak memiliki kualifikasi sesuai tuntutan profesi masa depan.

Bila dibandingkan dengan banyak negara maju yang tingkat pertumbuhan penduduknya sedikit bahkan nol persen, maka Indonesia diuntungkan dengan banyaknya usia produktif. Negara memang dikejar dan dituntut untuk menyediakan lapangan kerja. Mereka yang tidak tertampung di sektor formal harus diberi akses untuk berwirausaha.   

Yang kedua, Tren peningkatan jumlah wirausahawan dan ekonomi kreatif. Muncul kesadaran baru bahwa menjadi pengusaha adalah tantangan tersendiri. Mengupah orang lebih bergengsi daripada menjadi orang upahan. Jabatan di perusahaan besar bukan berarti segalanya bila kalah pendapatannya dibandingkan dengan seorang pebisnis yang skala usahanya bahkan masih tergolong kecil.

Berbisnis semakin mudah. Teknologi sangat membantu. Jejaring semakin terbuka. Tinggal siapa yang mau memanfaatkan peluang dan mengeksekusi gagasan yang akan menuai hasil. Soal modal usaha dapat dicari dari berbagai sumber. Pun dengan memulainya ‘tanpa modal’ seperti menjadi reseller. Yang penting kemauan dan kreatifitas.    

Yang ketiga, Peningkatan kelas menengah. Gaji dan pendapatan bagi sebagian orang membaik. Boleh dibilang cukup tinggi. Orang Kaya Baru muncul dimana-mana. Mobil menjadi bukan barang mewah lagi bahkan terlalu banyak memenuhi parkiran dan jalanan. Hotel dan wisata marak dikunjungi. Belanja barang dan jasa menunjukkan bahwa tren menguatnya jumlah kelas menengah.

Belanja kelas menengah inilah yang signifikan dalam tumbuhnya perekonomian termasuk tumbuhnya kredit. Tentu saja tak sekedar kredit konsumtif yang memang penting untuk mendorong sektor riil dan sektor keuangan kita. Agar ekonomi bisa bergulir dan tumbuh. Produk barang dan jasa yang dihasilkan dan diperdagangkan terbeli. Namun bisa juga kredit yang produktif karena kelas menengah baru yang cerdas membelanjakan pendapatannya untuk membuka usaha baru.

Tiga tren di atas menjadi peluang bagi sektor finansial untuk tumbuh dan melayani masyarakat. Lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan dipacu untuk berinovasi. Jika tidak akan terdisrupsi oleh skema pembiayaan yang ditawarkan pesaing. Apalagi persaingan di era digital semakin terbuka.