Memulangkan WNI Eks Suriah

Memulangkan WNI Eks Suriah
Ilustrasi foto/Net.

PANDEMI covid-19 belum juga usai. Ancaman yang dihadapi saat ini bahkan kian serius, setelah korban yang terus bertambah dan sejumlah negara yang menyatakan diri resesi. Namun tentu saja kita tak boleh larus dalam kesedihan. Sebab jiwa tidak pantas untuk kelam, pikiran tak pantas dalam sangkar.

Satu sisi, kita juga pantas bersorak sorai, lantaran jatuhnya ISIS di Suriah. ISIS yang tahun 2014 dideklarasikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi dan kini hancur. Waktu yang pendek untuk bertahtanya ‘kekhalifahan’  yang penuh dengan darah dan air mata.

Namun banyak yang melihat kekalahan ISIS itu tidak permanen. Daya tarik ISIS tampak masih memesona. Para pengikutnya di negeri Barat misalnya masih ‘siap’  untuk amaliyat. Sel-sel tidur ISIS tinggal tunggu waktu untuk ‘meledakkan diri’ .

Kekuatan ISIS yang masih membahayakan ini sekalipun terceraiberai diakui sendiri oleh Amerika lantaran ISIS masih memiliki pemimpin, pasukan, fasilitator, sumber daya dan idiologi yang menjadi ‘bahan bakar’ utama gerakan mereka.

Bangunnya sel-sel tidur

Hingga 2020 ini, kita saksikan ‘sapu bersih’ oleh Densus 88 terhadap sel-sel pro ISIS di negeri kita. Peristiwa amaliyat kelompok ISIS di negeri ini masih sporadis bergolak. Jamaah Anshorud Daulah (JAD) yang merupakan ‘serpihan’ ISIS telah melakukan amaliyat.

Kelompok-kelompok pro ISIS Indonesia memang telah melemah, tetapi lebih hal ini disebabkan oleh gelombang penangkapan besar-besaran setelah pengeboman bunuh diri di bulan Mei 2018 di Surabaya daripada oleh perkembangan dramatis di Suriah. Penangkapan terhadap koalisi pro-ISIS terbesar di Indonesia, yaitu Jamaah Ansharul Daulah (JAD), telah merusak struktur walaupun tetap meninggalkan beberapa unit teritorial yang tetap bertekad untuk bertindak sendiri (lone wolf).

Banyak sel muncul yang tidak pernah memiliki afiliasi dengan JAD atau dengan organisasi pro-ISIS lain yang sudah ada seperti Jamaah Ansharul Khilafah (JAK). Ada juga sel-sel yang terdiri dari pendukung ISIS yang tidak pernah tertarik pada JAD, tetapi mencoba untuk menemukan sesama jihadis melalui rekrutmen online dan offline.

Meskipun tumbuh sel-sel ini, kemampuan teror mereka tetap sangat rendah. Tindakan terakhir di Indonesia dimana ISIS mengklaim pelakunya adalah  pemboman Surabaya tahun 2018. Banyak dari sel-sel ISIS di Indonesia telah terhambat oleh penyebaran geografis anggotanya, jika mereka dibentuk secara online, dan oleh tidak adanya prosedur pemeriksaan, pelatihan atau indoktrinasi, apalagi tindakan pencegahan keamanan.

Sel-sel mandiri umumnya memiliki rentang hidup yang pendek. Tujuan sel adalah merencanakan tindakan kekerasan, dan jika tidak ada tindakan, kelompok tersebut akan berantakan. Semakin dekat untuk benar-benar melakukan operasi, semakin tinggi risiko tertangkap. Apakah upaya itu gagal atau berhasil, umumnya diikuti oleh cepatnya penangkapan para pemain kunci oleh polisi. Tetapi ada juga proses pengelompokan dan penataan ulang yang konstan, sehingga hilangnya satu sel dengan cepat diikuti oleh munculnya sel lainnya. Bahayanya jika seseorang dengan keahlian teknis dan pengalaman tempur akan kembali dari Suriah untuk mengubah segelintir pendukung ISIS menjadi ancaman yang lebih serius.

Komitmen kekerasan

Munculnya sel-sel ISIS yang mandiri di Indonesia masih banyak yang berkomitmen terhadap kekerasan. Tidak ada yang menunjukkan bahwa hal ini kemungkinan akan berubah dalam waktu dekat. Pihak keamanan Indonesia harus menyadari bahwa setelah pemboman Sri Lanka, gereja-gereja mungkin telah mengambil arti yang lebih penting sebagai target bagi para pejuang ISIS. Indonesia telah beruntung sejauh ini bahwa para teroris umumnya memiliki terlalu sedikit pengalaman untuk berpikir besar. Dengan sedikit imajinasi dan kepemimpinan yang lebih baik, sel-sel pro-ISIS ini dapat melakukan kerusakan yang jauh lebih besar.

Pertumbuhan sel-sel pro-ISIS yang mandiri di Indonesia tampak masih bersesuaian dengan pola lama. Sel-sel seperti itu telah muncul di masa lalu dari tindakan keras pemerintah terhadap kelompok dominan, persaingan pribadi di antara calon pemimpin, debat ideologis atau keinginan untuk menunjukkan komitmen terhadap rekan-rekan sejaringan. Noordin Top muncul dari gelombang penangkapan anggota Jemaah Islamiyah setelah bom Bali 2002. Jaringan Aman Abdurrahman muncul sebagai tantangan bagi Noordin Top dan perbedaan atas tujuan akhir serangan jihad. Munculnya sel-sel pro ISIS yang tidak terafiliasi terjadi setelah struktur JAD dihantam dengan lebih dari 300 penangkapan antara Mei dan Desember 2018.

Keberadaan sel-sel kecil berarti bahwa cepat atau lambat, salah satunya kemungkinan akan berpikir untuk menyalin jenis serangan yang terjadi di tempat lain. Mungkin mudah untuk mengabaikan kompetensi teroris Indonesia, tetapi selama mereka terus bersentuhan dengan ideologi ISIS, mereka tetap menjadi ancaman serius.

Saatnya kebijakan tegas

Ratusan orang Indonesia telah dideportasi dari Turki setelah mencoba bergabung dengan ISIS. Namun mereka ini yang tidak punya pengalaman tempur ISIS diakui tidak ada yang kembali ke tanah air.  Sebagian besar pemimpin senior ISIS Indonesia telah tewas, seperti Bahrumsyah pada April 2018, Bahrun Naim pada November 2018, Faiz alias Abu Walid pada Januari 2019. Beberapa lainnya, termasuk Munawar Kholil, diketahui berada dalam tahanan Suriah Kurdi Pasukan Demokrat (SDF) di Suriah.

Kini ada yang tersisa. Ya, masih menghambur kepedihan tentang cerita bagaimana nasib anak-anak dan perempuan WNI yang sudah kadung di Suriah. Tegakah kita membiarkan mereka lebih dalam ‘dimakan’ oleh idiologi kekerasan Terutama anak-anak yang setiap hari melihat secara kasat mata kekerasan dan mesiu yang meledak.

Dilema yang terus mendera pemerintah RI sudah saatnya segera dicairkan dengan kebijakan tegas untuk memulangkan anak-anak dan perempuan. Memang masih pro kontra dikalangan masyarakat. Lazimnya demikian khususnya juga di kalangan LSM yang bergiat di penanggulangan terorisme. Ada kekuatiran yang menghela benak terjadinya ‘penguatan’ idiologi ISIS dikalangan perempuan dan ‘penananaman’ idiologi yang sudah kadung tertanam di anak-anak ditakutkan sulit untuk dihapus. Dan ini akan menjadi ‘bom waktu’ kelak. Kasus returnis yang kembali berulah bahkan menjadi bomber di negara lain, tidak lalu menjadi alasan mutlak pembenar untuk melakukan kebijakan penolakan pemulangan. Sekian banyak returnis yang terkatung-katung nasibnya tidak harus ‘dikalahkan’ oleh ulah segelintir returnis.

Pembinaan terhadap anak-anak dan perempuan returnis tentu sudah disiapkan oleh pemerintah. Berbagai metode telah disiapkan dan ini produk dari diskusi panjang dengan berbagai kalangan LSM. Sehingga melahirkan cara yang efektif guna ‘menetralisisr’ racun radikalisme yang merasuki anak-anak dan perempuan returnis. Karenanya, tidak perlu dikuatirkan secara berlebihan. Selalu ada cara yang bisa digunakan untuk menanggulangi mereka yang terjerat radikalisme. Sebagaimana perang melawan pandemi covid 19 dengan terus mengupayakan temuan serum anti covid 19, demikian halnya perang melawan ekstrimisme akan selalu dikumandangkan dan dijalankan sembari terus mengupayakan temuan-temuan ‘serum’ anti ekstrimisme yang mujarab terutama untuk deradikalisasi terhadap returnis yang dipulangkan yaitu anak-anak dan perempuan.