Mencari Sosok Kapolri Sesuai Grand Strategy

Mencari Sosok Kapolri Sesuai Grand Strategy
Wakapolri-Ka BNPT-Kabaharkam/ net

MONDAYREVIEW.COM – Publik sudah santer mewacanakan suksesi di tubuh Polri sejak awal bulan ini. Sejauh ini sejumlah nama diunggulkan menjadi kandidat kuat Kapolri. Mereka itu adalah Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono, Kabaharkam Komjen Pol Agus Andrianto, dan Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar. Ada pula Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Melalui situs resminya Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyatakan pihaknya masih menggodok nama-nama calon kapolri pengganti Idham Azis yang akan direkomendasikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sementara itu anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Yusuf mengatakan, yang terpenting adalah Calon Kapolri harus memenuhi syarat utama yakni soal jenjang kepangkatan dan perjalanan karir.

Menurutnya dari jenjang kepangkatan yaitu Jendral Bintang tiga, dan saat ini ada 14 orang yang telah memenuhi itu. Dan dari segi karir, kita pelajari dari 14 itu bagaimana perjalanan karirnya di kepolisian. Setelah syarat terpenuhi hal yang juga akan dilihat dari calon Kapolri adalah aspek strategis, karena Polri sendiri mempunyai Grand Strategi 2005-2025.

Selain menggelar FGD di internal Polri lintas generasi, Kompolnas juga mempertimbangkan prestasi dan rekam jejak. Anggota Kompolnas Poengky Indarti mengatakan, masa pensiun Kapolri Idham Azis akan berakhir pada 1 Februari 2021 mendatang. Sejumlah nama dipersiapkan Kompolnas sebelum mengajukan nama ke Jokowi.

Kompolnas menyaring berdasarkan kriteria pasal 11 ayat (6) UU nomor 2 tahun 2002 dan menyandingkan dengan kriteria masukan hasil Focus Group Discussion (FGD) dengan internal Polri yang diwakili alumni Akpol lintas generasi, tokoh-tokoh masyarakat, dan Purnawirawan Polri yang diwakili oleh Kapolri dan Wakapolri pada masanya.

Selain berpedoman dalam hasil FGD dengan internal kepolisian lintas generasi pihaknya juga memperhatikan rekam jejak, prestasi dan integritas para calon Kapolri sebelum diserahkan kepada presiden. Melihat prestasi, rekam jejak serta integritas calon-calon yang ada.

Mengenai waktu penyerahan nama-nama calon Kapolri, pihaknya tidak terburu-buru. Dia memastikan nama-nama yang akan diberikan kepada Presiden telah matang.

Sebagai contoh, tahun 2016 kami memberikan pertimbangan nama-nama calon Kapolri kepada Presiden, dalam waktu 3 hari Presiden sudah memilih Pak Tito untuk jadi calon Kapolri dan Presiden segera berkirim surat ke DPR. Sekitar seminggu kemudian fit and proper tes di DPR.

Komisi III DPR RI menyatakan pihaknya sampai saat ini masih menunggu surat dari Presiden Joko Widodo terkait daftar nama calon pengganti Kapolri Jenderal Idham Azis.

DPR sampai saat ini belum menerima informasi terkait kapan Jokowi bakal menyerahkan surat tersebut, meski masa jabatan Idham akan habis tak lebih dari sebulan ke depan.

Saat ini ada 14 perwira tinggi Polri berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen) yang bisa ikut dalam bursa calon Kapolri, pengganti Jenderal Idham Azis yang akan pensiun akhir Januari 2021.

Sebanyak enam orang bertugas di internal Polri dan delapan lainnya bertugas di luar Polri. Meski Komjen yang bertugas di internal Polri lebih berpeluang menjadi Kapolri, tapi para Komjen yang bertugas di luar kepolisian juga tetap memiliki peluang yang cukup besar.

Di masa lalu Sutanto, Dai Bachtiar dan Tito Karnavian masuk menjadi Kapolri setelah bertugas di luar Polri, yakni di BNN dan BNPT.

Boy Rafli, mantan Kadiv Humas Mabes Polri tahun 2016 itu sering wara-wiri di stasiun televisi. Boy sangat lekat dikenal sebagai humas Polri. Setelah selesai tugas di kemuhasan, Boy menjadi Kapolda Papua tahun 2017, setahun berlalu Boy diangkat menjadi Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Saat ini Boy punya jabatan baru, yakni sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Boy baru saja mendapat gelar Doktor Komunikasi dari Fikom Unpad. Mengutip Wikipedia, Boy Rafli Amar lahir di Jakarta pada 25 Maret 1965 dari pasangan Minangkabau. Ayahnya berasal dari Solok sedangkan ibunya dari Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat.

Ia adalah cucu dari sastrawan Indonesia, Aman Datuk Madjoindo. Boy menikah dengan Irawati dan telah dikaruniai dua orang anak.

Sementara Gatot Eddy Pramono lahir di Solok, Sumatra Barat, 28 Juni 1965 adalah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 20 Desember 2019 mengemban amanat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Gatot, lulusan Akpol 1988 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhir jenderal bintang tiga ini adalah Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Dan Agus Andrianto lahir di Blora, Jawa Tengah, 16 Februari 1967 adalah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 6 Desember 2019 menjabat sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri.

Agus, lulusan Akpol 1989 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatra Utara.