Mengais Makna Kepahlawanan yang Terenggut

Mengais Makna Kepahlawanan yang Terenggut
Bung Tomo/ net

MONDAYREVIEW.COM – Seriuskah kita memperingati Hari Pahlawan? Jawabannya ada dalam perenungan kita masing-masing sebagai anak bangsa. Alangkah konyolnya bila kita tak mampu menjawab pertanyaan ini. Peringatan hanya menjadi ritus tanpa makna. Hanya menjadi upacara yang menyembunyikan kehendak pribadi dan ketakpedulian pada sesama anak bangsa. Sembunyi di balik kibaran bendera yang kehilangan rasa hormat. Rasa yang telah lama hilang tertimbun kepentingan dan pembenaran.  

Sikap dan tindakan kepahlawanan bisa ditunjukkan oleh siapa saja. Sekecil apapun. Apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan menjadi inspirasi bahwa setiap orang memiliki sesuatu dalam dirinya untuk diabdikan bagi kepentingan orang banyak. Bagi masyarakatnya, bagi negara, bahkan bagi dunia.

Para pahlawan sejati tak pernah mengejar gelar dan kehormatan semu. Waktulah yang membuktikan bahwa seseorang dianggap pahlawan. Sebagai manusia ia telah berbuat melebihi kewajibannya sebagai warga negara. Setiap orang punya cacat, namun pahlawan tak pernah berkhianat.

Para pahlawan yang diabadikan sejarah memang para pribadi yang istimewa. Kebanyakan orang berbuat karena pamrih duniawi. Bekerja keras untuk kesenangan dirinya. Melakukan berbagai hal untuk semata menggapai harta, tahta, dan popularitas. Sedikit orang yang berbuat nyata secara konsisten bagi orang lain. Apalagi mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa. Tak hanya harta dan tenaga disumbangkannya. Bila perlu nyawa menjadi taruhannya.

Itulah pahlawan. Pahlawan adalah seseorang yang mempersembahkan dirinya demi kebaikan orang lain. Walaupun dalam konteks perang pahlawan bagi suatu negara bisa saja dianggap penjahat perang oleh negara lawan. Ada beragam bentuk kepahlawanan namun bayangan khayalak akan melekatkan kata itu atas mereka yang menjadi martir di medan juang.

Tanggal 10 Nopember menjadi salah satu penanda saat para pejuang menunjukkan keberaniannya. Membela harga diri bangsa. Tak mau lagi dijajah musuh. Sekalipun mereka punya dalih sebagai pemenang perang dunia. Negeri kita bukan ajang taruhan dan tumbal dari ajang pertarungan Sekutu dan Jepang. Demi kemerdekaan bangsa hilangnya ketakutan pada lengkapnya senjata lawan. Tek gentar menghadapi kuat dan terlatihnya serdadu sekutu dan NICA.  

JIka para pahlawan melihat kondisi bangsa hari ini bukan tak mungkin mereka menangis bahkan murka. Persatuan bangsanya terkoyak. Sesama anak bangsa saling tikam. Semakin jauh dari upaya untuk memperjuangkan kemakmuran dan keadilan. Apalagi memperjuangkan kedaulatan bangsanya di tengah tarik-menarik kepentingan asing.

Jika para pejuang, pahlawan sekaligus pendiri bangsa ini sanggup berjuang di medan laga hingga meja diplomasi, maka apakah yang telah kita lakukan sebagai generasi yang mengaku sebagai para penerus jiwa dan semangat mereka?