Mengakhiri Kutukan Sumber Daya Alam

Mengakhiri Kutukan Sumber Daya Alam
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM - Dalam kajian ekonomi pembangunan, terdapat sebuah teori yang cukup menarik dan menjadi perbincangan banyak ahli, yakni teori kutukan sumber daya alam. Dalam pandangan umum, besarnya sumber daya alam yang dimiliki sebuah negara akan berbanding lurus dengan kesejahteraannya. Semakin banyak sumber daya alam yang dikandung oleh suatu negara, maka akan semakin sejahtera negara tersebut. Itulah yang diyakini para ahli pada dekade 50-an. Namun pada dekade 80-an teori tersebut terpatahkan. Justru negara-negara dengan sumber daya alam melimpah, pertumbuhan ekonominya rendah dan pemerintahnya korup. Sebaliknya negara-negara dengan sumber daya alam minim melesat menjadi negara maju.

Indonesia disinyalir menjadi negara yang terkena kutukan sumber daya alam ini. Hal ini karena sumber daya alam Indonesia sangat melimpah namun tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Sampai hari ini Indonesia masih menjadi negara berkembang. Walaupun kita mempunyai peluang dengan bonus demografi untuk menjadi negara maju, namun yang juga tak boleh dilupakan juga kita harus bisa keluar dari kutukan sumber daya alam. Caranya adalah kita mesti menyadari bahwa sumber daya alam tidak boleh dijadikan tumpuan selamanya bagi kesejahteraan Indonesia. Sumber daya alam akan habis, sementara hidup harus terus berlanjut. Artinya kita tidak bisa mengandalkan seterusnya sumber daya alam. Inilah mindset yang perlu dibangun yang telah berhasil membuat negara minim sumber daya alam menjadi negara maju.

Kita bisa melihat dari kesuksesan Korea Selatan, dimana pada dekade 60-an kondisinya sama persis dengan Indonesia pada dekade yang sama. Indonesia dan Korea Selatan memulai dari start yang sama. Namun hari ini Korea Selatan telah melesat melampaui Indonesia. Di Asia Tenggara Vietnam mengancam bisa menyusul Indonesia dalam banyak aspek, diantaranya ekonomi. Mengapa bisa terjadi? Tahun 60-an Indonesia membangun industry dalam negeri yang solid dan mengembangkan teknologi. Sementara Indonesia terlena oleh boom minyak sehingga merasa nyaman dengan banyaknya keuntungan yang didapatkan dari emas hitam tersebut.

Maka dari itu mulai dari sekarang kita harus mulai membangun industry yang unggul di beberapa sektor yang menjadi andalan Indonesia. Salah satu produk yang diunggulkan pada dekade ini adalah nikel, dimana tidak seperti pada dekade sebelumnya, keuntungan didapat dari ekspor bahan mentah, dekade ini pemerintah bertekad membangun industry hulu dan hilir bagi nikel. Hal ini agar kita benar-benar menjadi negara industry yang menjadi salah satu syarat negara maju. Pembangunan industry ini perlu ditopang dengan infrastruktur yang kuat dan juga aturan hukum yang jelas. Maka dibangunlah infrastruktur dari periode pertama Jokowi dan ditetapkan UU Cipta Kerja guna membangun iklim investasi yang kondusif.

Terakhir guna mengakhiri kutukan sumber daya alam, yang diperlukan adalah pembangunan SDM yang berkualitas. Hal ini pun menjadi pra syarat bagi majunya sebuah negara. Oleh karena itu pada periode keduanya, Preside Joko Widodo mencanangkan pembangunan SDM sebagai program prioritasnya. Infrastruktur fisik dibangun, kapasitas anak bangsa pun mesti dibangun. Jalan satu-satunya adalah dengan pendidikan dalam berbagai lembaga institusinya. Jika hal-hal tersebut direalisasikan, besar kemungkinan kita akan keluar dari kutukan sumber daya alam.