Mengawal Sektor Finansial  Belajar dari Black Thusday

Mengawal Sektor Finansial  Belajar dari Black Thusday

MONDAYREVIEW.COM – Sektor finansial dan sektor riil sama-sama penting. Yang satu mendukung yang lain. Modal atau investasi diperlukan untuk menggenjot perekonomian nasional. Pasar saham menjadi salah satu indikator penting sebesarapa besar sebuah negara menjadi ladang investasi.

Kondisi bursa efek kita relatif stabil. Namun guncangan yang terjadi di beberapa perusahaan asuransi plat merah harus menjadi perhatian karena terkait dengan saham-saham yang diduga digoreng di bursa. Pergerakan di lantai bursa harus didukung dan mencerminkan kondisi nyata dunia usaha kita.

Euforia ekonomi digital yang melahirkan start up unicon bahkan decacon juga perlu diwaspadai. Valuasi raksasa-raksasa digital seperti Alibaba bisa saja suatu saat mengalami kondisi krisis. Kemampuan kalangan swasta maupun pemerintah sebagai regulator dalam mengantisipasi setiap kondisi mutlak ditingkatkan.  

Jika kita belajar dari krisis pasar saham maka salah satu yang menjadi acuan utama adalah era Great Depression. Tanam modal dengan investasi saham dan jadilah kaya. Itulah gambaran ketika pasar bursa Amerika Serikat sedang berkembang pesat. Mereka yang memiliki uang semakin kaya dalam waktu cepat.

Pada tahun 1925, total nilai New York Stock Exchange adalah $ 27 miliar. Pada September 1929, angka itu meroket menjadi $ 87 miliar. Ini berarti bahwa pemegang saham rata-rata memperoleh lebih dari tiga kali lipat nilai portofolio saham.

Saat itu Pemodal John Raskob menyarankan warga AS untuk berinvestasi.  Dia menggambarkan bahwa hanya $ 15 dolar sebulan di pasar maka usaha itu akan bernilai $ 80.000 dalam dua puluh tahun. Demam saham sedang melanda AS, setidaknya mereka yang memiliki sarana untuk berinvestasi.

Euforia pasar saham memicu ekspansi cepat. Praktik berisiko membeli saham dengan margin memungkinkan seorang investor untuk meminjam uang. Biasanya sebanyak 75% dari harga pembelian, untuk membeli sejumlah besar saham didapat dari pinjaman.

Pialang saham dan bahkan bank mendanai spekulan yang ceroboh. Peminjam seringkali bersedia membayar suku bunga 20% untuk pinjaman, karena yakin bahwa risikonya sepadan dengan imbalannya.

Pemberi pinjaman sangat yakin bahwa pasar akan naik sehingga transaksi seperti itu menjadi biasa, meskipun ada peringatan dari Dewan Federal Reserve terhadap praktik tersebut. Jelas, harus ada batas seberapa tinggi pasar bisa mencapai.

Bursa Efek New York pada malam menjelang GREAT CRASH pada tahun 1929 bagai mimpi indah bagi para investor. Kaya dalam semalam. Tahun 1920 ditandai oleh pertumbuhan nilai saham, empat tahun terakhir melihat ledakan di pasar.

Pada 24 Oktober 1929, hari yang kemudian dikenal sebagai Black Thusday atau Kamis Hitam, investor mulai menjual saham mereka pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Pada 29 Oktober, Great Crash sedang berlangsung, dan pada 17 November, lebih dari $ 30 miliar dolar telah hilang dari ekonomi A.S.

Pada grafik di atas, sumbu horizontal mewakili tahun 1921-40, dan sumbu vertikal mewakili Dow Jones Industrial Average.

Apa yang menyebabkan harga saham jatuh? Meskipun cara kerja Bursa Efek New York bisa sangat kompleks, satu prinsip sederhana mengatur harga saham. Ketika investor percaya bahwa saham adalah nilai yang baik, mereka bersedia membayar lebih untuk saham dan nilainya naik.

Inilah hukum pasar yang ‘kejam’. Ketika pedagang percaya nilai sekuritas akan jatuh, mereka tidak bisa menjualnya dengan harga setinggi-tingginya. Jika semua investor mencoba menjual saham mereka sekaligus dan tidak ada yang mau membeli, nilai pasar menyusut.

Kondisi itu terjadi sedemikian cepat dan tak mampu dibendung lagi. Upaya pemodal besar seperti J.P. Morgan mengumpulkan sumber daya mereka dan mulai membeli saham dengan harapan membalikkan tren sia-sia belaka.

Publik dan investor sudah sudah kehilangan kepercayaan pada pasar. Saham papan bawah mengalami kejatuhan dari pasar pada hari Selasa, 29 Oktober. Krisis pasar tak bisa dihindarkan. Semakin tajam menukik ke tingkat paling bawah. Rekor 16 juta saham ditukar dengan nilai yang lebih kecil dan lebih kecil seiring berjalannya hari.

Bahkan untuk beberapa saham, tidak ada pembeli yang dapat ditemukan dengan harga berapa pun. Pada akhir hari, kepanikan telah meletus, dan beberapa minggu berikutnya melanjutkan spiral ke bawah. Rontoklah seluruh saham.

Dalam waktu sepuluh minggu, nilai seluruh pasar tinggal 50%. Bunuh diri dan keputusasaan menyapu dunia investasi. Bercermin dari sejarah krisis yang dalam kita dapat mengambil hikmah untuk bekerja keras, bersikap tegas, dan selalu waspada.