Mengenal Calon Ibukota Baru

Mengenal Calon Ibukota Baru

 

MONDAYREVIEW – Ibukota baru sudah diputuskan. Sebagian masuk wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara dan sebagian lain masuk Kabupaten Penajam Paser Utara. Provinsi Kalimantan Timur menjadi pilihan Pemerintah RI setelah sebelumnya melakukan serangkaian kajian.

 

Awalnya Presiden pertama RI Soekarno menggagas Palangkaraya yang terletak di Kalimantan Tengah sebagai ibukota negara. Seiring berjalannya waktu, setelah 74 tahun merdeka, Presiden RI Joko Widodo mengambil keputusan untuk lebih memilih Kaltim.

 

Sekilas infrastruktur Kaltim lebih siap. Pun kedekatan dengan laut atau pentai tentu lebih menguntungkan. Ada Bandar Udara Kotabangun, Bandar Udara Senipah, Bandar Udara Tanjung Santan. Kalimantan Tengah dan seluruh Kalimantan tentu akan merasakan percepatan pertumbuhan yang signifikan.

 

Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia. Wilayahnya luas, penduduknya masih terbilang jarang. Hutan lindung dan vegetasi di Kalimantan adalah harapan dunia pada bumi yang hijau. Pun satwa endemiknya juga menjadi harta yang tak ternilai. Walaupun Pemerintah menegaskan akan membangun ibukota yang ramah lingkungan tentu kecemasan dunia akan rusaknya ekosistem menjadi niscaya.

 

Kabupaten Kutai Kertanegara memang terbilang terkenal. Pernah menjadi salah satu Kabupaten terkaya di Indonesia. APBD Kabupaten ini sekira 4 Trilun Rupiah. Penduduknya lebih dari 650 ribu jiwa. Termasuk kabupaten yang kaya akan sumber energi.

 

Sementara Kabupaten Penajam Paser Utara yang belum lama berdiri hasil pemekaran dari Kabupaten Paser baru memiliki sekira 160 ribu jiwa. Sebagaimana dilansir wikipedia Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki Sumber Daya Alam yang cukup banyak dan beragam, baik sumber daya hutan berikut hasil ikutannya, perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan,pertambangan serta Kehutanan

 

Posisi kedua Kabupaten yang akan menjadi ibukota baru ini menghadap ke Teluk Sulawesi. Sehingga secara demografis pun wilayah kedua kabupaten ini banyak dihuni para pendatang dari Sulawesi. Di Kabupaten PPU yang menjadi sasarn transmigrasi 60% penduduknya pindahan dari Jawa dan 35% lebih berasal dari Sulawesi.

 

Kalau kita kembali ke Sejarah Indonesia, akar sejarah kita salah satunya terlacak dari prasasti yang ditemukan di Kutai. Yupa yang diperkirakan berasal dari abad ke-4 masehi menyimpan informasi tentang sebuah upacara pengorbanan yang dilakukan Raja Kudungga. Sang raja adalah imigran dari Campa atawa Kamboja. Berputra Aswawarman dan bercucu Mulawarman.

 

Kerajaan Hindu itu menjadi salah satu pusat peradaban Nusantara saat itu. Entah apa yang terjadi dengan Pulau Jawa saat itu. Mungkin sudah ada kerajaan, mungkin juga belum. Sebagian netizen berpendapat langkah memindahkan ibukota ke bekas wiayah kerajaan tertua itu seperti mengulang sejarah kejayaan masa lampau. Benarkah ada pertimbangan historis? Waktu yang akan menjawabnya.