Mengenal Rantai Pasok Pangan Kita

Mengenal Rantai Pasok Pangan Kita

MONDAYREVIEW – Salah satu topik yang banyak diungkap oleh Presiden Joko Widodo adalah pembenahan supply chain atau rantai pasok barang. Tak terkecuali rantai pasok pangan. Apakah itu? Secara sederhana, rantai pasok merupakan rangkaian aliran barang/fisik, informasi dan proses yang digunakan untuk mengirim produk atau jasa dari lokasi sumber (pemasok) ke lokasi tujuan (pelanggan atau pembeli).

Dengan jumlah penduduk yang besar Indonesia harus menyiapkan ketahanan pangan secara berkesinambungan. Meskipun ada Bulog sebagai BUMN utama yang menangani ketersediaan stok pangan dibutuhkan peran banyak fihak dalam menangani pengadaan dan distribusi pangan. Ini berkaitan erat dengan isu Food Supply Chain. Rantai pasok pangan berbeda dengan rantai pasok produk dan jasa lainnya.

Perbedaan yang mendasar antara rantai pasok pangan dengan rantai pasok lainnya adalah perubahan yang terus menerus dan signifikan terhadap kualitas produk pangan di seluruh rantai pasok hingga pada titik akhir, produk tersebut dikonsumsi. Singkat kata produk pangan relatif cepat kedaluarsa. Hingga Indonesia pun menjadi penyumbang nomor dua food waste atau sampah pangan.

Dalam rantai pasok pangan , pangan (produk) bergerak mengalir secara berkesinambungan dari produsen ke konsumen melalui proses produksi, pengolahan, distribusi, ritel dan konsumen; dengan demikian, pangan mengalir  dari petani ke konsumen (from farm to table).

Selain itu, khusus untuk produk pangan yang mudah rusak atau busuk, resiko dalam menghasilkan limbah/kerugian pada setiap tahapan rantai pasok memiliki potensi sangat tinggi yang selanjutnya akan menekan keuntungan dan kualitas produk dalam rantai pasok pangan.

Berdasarkan jenis proses produksi dan distribusi dari produk nabati dan hewani, rantai pasok pangan dapat dibedakan atas 2 (dua) tipe, yaitu:

#1. Rantai Pasok Produk Pangan Segar/fresh (seperti sayuran segar, bunga, buah-buahan). Secara umum, rantai pasok ini meliputi: petani, pengumpul, grosir, importir dan eksportir, pengecer dan toko-toko khusus.

Pada dasarnya, seluruh tahapan rantai pasok ini memiliki karakteristik khusus, produk ditanam atau diproduksi dari pedesaan. Petani perlu dilatih untuk lebih cermat saat memanen. Berbagai teknologi yang dapat meningkatkan kualitas panen juga dapat diterapkan. Hingga nilai tambah atas prouk pertanian dapat ditingkatkan.

Proses utama adalah penanganan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, dan terutama perdagangan produk ini. Di tahap ini banyak produk atau hasil panen yang berkurang kualitasnya karena penanganan yang salah. Sehingga banyak pula yang terbuang.

#2. Rantai Pasok Produk Pangan Olahan (seperti makanan ringan, makanan sajian, produk makanan kaleng).

Pada rantai pasok ini, produk pertanian dan perikanan digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan produk-produk pangan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Biasanya produk semacam ini dapat masuk ke pasar modern bahkan diekspor.  

Dalam banyak hal, proses pengawetan dan pendinginan akan memperpanjang masa guna (shelf life) dari produk pangan yang dihasilkan. Di pasar modern atau supermarket produk makanan olahan yang mendekati masa kadaluarsa dapat disalurkan ke warung-warung atau restoran yang akan segera mengolahnya.

Kesuksesan rantai pasok pangan, sangat tergantung pada interaksi yang kuat dan efektif antara pemasok bahan ramuan (ingredient vendors), penyedia bahan kemas utama (contact packaging providers), pengemas ulang (re-packers), pabrik maklon (co-manufacturers), pedagang perantara dan pemasok lainnya.