Mengenang Para Aktor Film Pengkhianatan G30S/PKI

Mengenang Para Aktor Film Pengkhianatan G30S/PKI
poster film Pengkhianatan G30S/ PKI

MONDAYREVIEW.COM - Tanggal 30 September 1965 dicatat sebagai sejarah kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia yang kala itu baru berumur 20 tahun sejak diproklamasikan. Saat di langit pertiwi masih bergema slogan “Revolusi Belum Selesai!” dan gugurlah para Pahlawan Revolusi.

Kesan kuat yang muncul adalah PKI tak mau kehilangan momentum. Berhembus isu bahwa ada Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta militer saat peringatan Hari ABRI 5 Oktober. Darah sesama anak bangsa pun tumpah. Nyawa direnggut atas nama revolusi.

Revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Bung Karno menyebutnya sebagai “Een rimpeltje in de oceaan”. Hanya riak di tengah gelombang. Namun Indonesia harus mengalami peristiwa yang teramat memilukan. Ribuan nyawa melayang dan trauma sejarah panjang menjadi luka yang sulit terobati. 

Kisah Gestapu bagai kisah perang saudara. Sebagai ilustrasinya dalam peristiwa G30S/PKI gugur Brigjen S.Parman yang merupakan perwira intelijen kepercayaan Jenderal Ahmad Yani. Ironisnya S.Parman adalah adik kandung Ir. Sakirman anggota Komite Sentral PKI yang kemudian juga lenyap pasca peristiwa tersebut.

Berbagai riset dengan versinya masing-masing telah terpapar di ruang publik. Analisis tentang apa yang terjadi dan siapa sebenarnya dalang peristiwa itu selalu menarik dikemukakan. Namun yang pasti terlampau banyak darah yang tumpah dan nyawa melayang. Terbukti dalam sejarah ajaran komunisme telah mendorong revolusi berdarah di berbagai negara. Hingga hari ini Indonesia menolak faham komunisme yang bertentangan dengan Pancasila.

Sebagaimana kita tahu dalam versi Orde Baru lahir Film Pengkhianatan G30S/PKI. Terlepas dari kontroversi dalam film tersebut ada baiknya kita mengenang para aktornya. Para aktor sentral di film tersebut sudah tiada. Umar Kayam yang memerankan Bung Karno, Syu’bah Asa pemeran DN Aidit dan Amoroso Katamsi yang didapuk perannya sebagai Pak Harto.

Umar Kayam semasa hidupnya adalah seorang Guru Besar. Saya sempat mengundang beliau mengisi salah satu diskusi untuk anak-anak muda di Jogja. Beliau datang walaupun forumnya sangat terbatas dan kurang layak bagi narasumber setingkat beliau. Umar Kayam dikenal sebagai pengisi salah satu rubrik di Harian Kedaulatan Rakyat. Tulisannya sangat khas Jogja, hangat tanpa kehilangan nalar-kritis.    

Syu’bah Asa adalah jurnalis intelektual. Berbeda dengan tokoh Aidit yang diperankannya Syu’bah Asa adalah seorang santri. Ia pandai membaca kitab kuning dan ahli dalam ilmu tafsir. Sayang ia tak merampungkan penulisan tafsir Al Qur'an hingga maut menjemput bersama Parkinson yang diidapnya.

Di Mingguan Tempo Syu’bah Asa lama mengepalai desk seni budaya dan agama. Dasar pengetahuan agamanya kokoh, wawasannya luas, dan tentu saja termasuk segelintir orang yang dikaruniai sifat bijak dalam menghargai perbedaan pendapat.

Saya sempat 1,5 tahun dipimpin Syu’bah Asa mengasuh Tabloid Arab Jawi Cahaya Nusantara. Ia sangat bersemangat mendorong media itu karena baginya penting memperkenalkan aksara Arab sebagai tubuh Bahasa Melayu yang pertama. Jauh sebelum penggunaan aksara Rumi atau Latin.

Sementara Amoroso Katamsi juga telah tiada. Hingga akhirnya dokter Angkatan Laut ini tetap setia bermain peran. Saya sempat mengamati dari jarak yang cukup dekat kala menjadi kru FTV Jejak Sang Guru dimana beliau memainkan peran utama dengan sangat menyentuh.

Amoroso seorang yang sederhana. Saya pernah bertemu dengannya di Stasiun Kereta Api Jatinegara tanpa banyak dikenali khalayak karena penampilannya yang tak mencolok. Tentu sebagai dokter dan militer staminanya terhitung luar biasa.    

Para aktor sesungguhnya di panggung sejarah dan para aktor yang memerankan film berlatar sejarah itu telah tiada. Pada peran mereka kita berkaca.