Menggugat Dominasi Facebook

Menggugat Dominasi Facebook
(c) mysanantonio.com

 

MONDAYREVIEW.COM- Dominasi Facebook dengan 2,2 Miliar pengguna di seluruh dunia sangat kuat dalam kehidupan kini. Apalagi saat raksasa media sosial ini mulai mengakusisi whatsapp dan instagram. Data pengguna yang seharusnya menjadi privasi yang harus terjaga menjadi taruhannya. Di ujung limpahan berkah atas lahirnya media sosial ini, bukan tak mungkin ada ‘lubang hitam’ yang dapat menyedot sendi-sendi kerahasiaan publik.

Keterhubungan manusia dalam pikiran, emosi, hasrat, hasrat dan aktivitas keseharian semakin terasa berbeda dibanding masa lalu saat teknologi informasi belum sampai pada tahap seperti sekarang ini.Banyak teman lama yang berhasil ditemukan kembali, tak sedikit pula teman baru yang didapat melalui pertemanan di media sosial.

Sarah Miller, direktur Citizens Against Monopoly menjelaskan bahwa Facebook mempunyai kekuatan rdaikal yang kuat di atas model bisnis yang memperdaya dan memenipulasi penggunanya. Integrasi anatara facebook, whatssapp, dan instagram telah menenggelamkan persaingan. Hal inilah yang memicu lahirnya petisi oleh Kelompok Advokasi di Amerika Serikat ke Komisi Perdagangan Federal (FTC). Petisi ini mendorong agar ketiga media sosial ini dikelola secara terpisah.

Di sisi lain, pihak manajemen Facebook mengklaim bahwa lingkungan bisnis mereka sangat kompetitif. Dimana para pengguna menggunanakan berbagai layanan media sosial secara bersamaan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan keterhubungan mereka dengan orang lain.

Dalam situasi semacam itu, kebutuhan untuk menggunakan data dari satu aplikasi ke aplikasi yang lainnya adalah keniscayaan. Facebook telah mengambil inisiatif untuk menyediakan dan memberikan edukasi kepada penggunanya terkait penggunaan dan keamanan data mereka.

Petisi yang dilayangkan Kelompok Advokasi tidak terlepas dari serangkaian kebocoran data pengguna Facebook yang  mencapai angka 57 juta orang. Kebocoran yang juga menyeret Cambridge Analytica sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam skandal tersebut. Disamping regulasi terhadap Facebook yang didorong oleh Kongres AS, mereka juga menegaskan untuk dilanjutkannya investigasi atas kebocoran data pengguna tersebut sampai tuntas.

Pemerintah berbagai negara selayaknya memberikan perhatian yang cukup untuk menjamin agar kepentingan Facebook dan masyarakat pengguna dapat diatur seoptimal mungkin. Manfaat yang sangat besar atas kehadiran media sosial ini sudah dirasakan secara luas baik untuk kepentingan sosial maupun ekonomi.

Persaingan usaha antar penyedia layanan media sosial hendaknya tetap bisa dijaga agar tumbuh dengan sehat dan tidak beresiko terhadap pemasungan kreatifitas. Pada sisi yang lain hak-hak publik terutama pengguna media sosial dapat dijaga baik dalam keamanan data mereka maupun daya tawar pengguna dalam memilih jenis layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.   

Facebook, untuk mematuhi aturan privasi baru yang berlaku akhir pekan ini di Eropa, akan mulai mengirim pemberitahuan di Kabar Berita untuk meminta orang-orang memperbarui pengaturan privasi mereka.

Sebagaimana dikutip dari USA Today, berita ini mengungkap bahwa  di Eropa sudah dirilis Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR). Orang-orang di tempat lain akan mendapatkan petunjuk ini ketika mereka diluncurkan. Pengguna yang sudah memeriksa pengaturannya tidak akan menemukan banyak hal baru. Jejaring sosial akan menunjukkan kepada Anda pengiklan mana yang melacak Anda dan memiliki informasi kontak Anda, dan memberi Anda kemampuan untuk menghapusnya dari pelacak profil Anda.

Dalam beberapa minggu mendatang, Facebook mengatakan akan memberitahu publik  tentang cara menggunakan data dari mitra untuk iklan, bagaimana menggunakan pengenalan wajah dan bagaimana meng-update ke persyaratan layanannya.

Facebook mengatakan pengguna akan melihat ringkasan dari pilihan yang mereka buat di masa lalu, dan tidak akan melihat informasi tentang fitur yang mereka sudah dinonaktifkan atau memutuskan untuk tidak menggunakannya