Menguatnya Rupiah dan Pentingnya Mewaspadai Inflasi Akhir Tahun

Menguatnya Rupiah dan Pentingnya Mewaspadai Inflasi Akhir Tahun
ilustrasi uang

MONDAYREVIEW.COM- Sebagaimana kala melemah, menguatnya Rupiah pada pekan ketiga Nopember 2018 dinilai kalangan analis keuangan terjadi karena faktor eksternal yakni US Dollar melemah tehadap beberapa mata uang lainnya. Disamping kesepakatan yang terjadi dalam pembicaraan dua raksasa ekonomi yakni AS dan Tiongkok yang selama ini terlibat dalam Perang Dagang. Dari situs Bank Indonesia kurs mata uang  JISDOR (USD - IDR) pada posisi Rp. 14.552 pada penutupan perdagangan pekan ini.  

Pemilu Sela di AS nampaknya juga mempengaruhi agresifitas Presiden Trump yang selama ini menerapkan kebijakan ekonomi yang proteksionis. Kebijakan yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS secara signifikan termasuk dalam menekan angka pengangguran. Apa yang baik bagi ekonomi AS ternyata berdampak buruk pada ekonomi dunia khususnya kawasan Asia Tenggara.

Hal lain yang menguntungkan Indonesia adalah turunnya harga minyak mentah. Posisi Indonesia sebagai importir minyak seringkali kelimpungan saat harga minyak dunia naik bersamaan dengan melemahnya Rupiah terhadap US Dollar. Kali ini harga minyak turun karena menurunnya permintaan. Disamping produksi minyak serpih di AS yang terus meningkat, hingga ketersediaan minyak dunia berlimpah.

Upaya Bank Indonesia yang sigap dalam menaikkan suku bunga pinjaman (BI 7-Day RR) menjadi 6% dinilai berpengaruh juga pada penguatan Rupiah. Secara umum pengamat menilai stabilitas ekonomi akan cukup terkendali hingga akhir tahun. Inflasi mungkin akan meningkat seiring belanja akhir tahun. Pada Oktober 2018 inflasi berada pada 3,16%. Target inflasi tahun ini 3,5 % dengan margin 1%

INDEF memberi catatan penting terkait inflasi bahan pangan yang potensial terjadi setiap akhir tahun. Setiap menjelang akhir tahun acap kali harga pangan mengalami lonjakan. Dalam delapan tahun terakhir, inflasi bulan Desember untuk bahan makanan selalu lebih tinggi dari inflasi umum. Harga bahan pangan biasanya mulai merangkak naik di bulan November, sebelum mencapai puncaknya di Desember.

Penyebab utama inflasi pangan di akhir tahun umumnya adalah momentum hari raya keagamaan dan libur akhir tahun. Namun, apa pun penyebabnya yang diperlukan masyarakat adalah kepastian akan stabilnya harga-harga. Oleh karena itu, pengambil kebijakan tidak dapat terus berlindung dengan alasan kedua momen tersebut secara terus-menerus. Harus ada keseriusan dari Pemerintah untuk memutus siklus dan mencari solusi agar harga pangan di akhir tahun lebih terkendali.