Menguatnya Sinergi Muhammadiyah dengan Pemerintahan Jokowi-JK

MONDAYREVIEW.COM – Bagi Muhammadiyah apresiasi yang diberikan Pemerintah atas kinerja dakwahnya menjadi cambuk untuk lebih serius dalam menangani persoalan keummatan dan kebangsaan. Dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, Muhammadiyah senantiasa menjaga independensi sekaligus berperan aktif dalam menghadirkan Islam sebagai agama yang mendorong transformasi peradaban.   

Salah satu bentuk apresiasi tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat meresmikan Klinik Apung Said Tuhuleley di dermaga dekat Islamic Center Ambon pada Februari 2017. Klinik Apung tersebut dipersembahkan Muhammadiyah dan LazisMu untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat di kepulauan Indonesia Timur. Presiden  mengagumi Muhammadiyah karena memiliki spirit dan dinamika kemandiriannya yang luar biasa.

Apresiasi tersebut menjadi salah satu bukti pengakuan atas kinerja Muhammadiyah. Di sisi lain, hal itu menunjukkan sikap Pemerintah yang memberi ruang bagi Organisasi Non-pemerintah untuk bahu-membahu dalam membangun bangsa. Diksi kemandirian menunjukkan bahwa daya tawar Muhammadiyah terhadap kekuasaan cukup tinggi.   

Muhammadiyah memang memiliki sayap pendidikan yang patut dibanggakan dan terus berkembang. Saat ini jumlah Perguruan Tinggi yang diselenggarakan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak kurang dari 177 PTM. Hal itu menggugah perhatian khusus Presiden Jokowi. Jokowi menjadi  kepala negara yang paling sering mendatangi Perguruan Tinggi Muhammadiyah di berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya: Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Pemerintah sudah selayaknya memberikan perhatian kepada Muhammadiyah dalam rangka meningkatkan pelayanan amal usaha serta dakwah keummatan dan kebangsaan. Perhatian dan bantuan Presiden Jokowi untuk pembangunan gedung, asrama, dan rusun di beberapa lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi wujud sinergi antara Pemerintah dan Muhammadiyah.

Salah satu agenda penting Muhammadiyah adalah peningkatan perannya dalam bidang ekonomi.  Pemerintah yang telah memfasilitasi kemitraan ekonomi ummat dalam rangka pemberdayaan ekonomi pesantren maupun warga/komunitas binaan Muhammadiyah perlu untuk dijaga keberlangsungannya. Hingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi warga bangsa di tengah persaingan global dan gejala disrupsi yang mengancam pelaku ekonomi lama sekaligus peluang bagi pelaku ekonomi baru.  

Keberadaan kader Muhammadiyah di Pemerintahan menjadi pintu bagi Muhammadiyah untuk mengoptimalkan peran kebangsaannya.  Kepercayaan yang diberikan kepada Muhadjir Effendi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadi salah satu jalan untuk mendorong semakin majunya dunia pendidikan kita. Sementara itu di Dewan Pertimbangan Presiden, ada A. Malik Fadjar yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat memadai dalam berbagai bidang.  

Posisi politik yang juga patut disyukuri dengan kerja keras dan kerja cerdas serta dukungan semua fihak adalah Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Dien Syamsuddin yang kemudian digantikan oleh Prof. Syafiq A. Mughni, dan Staf Khusus Presiden, Siti Ruhaini Dzuhayatin. Kapasitas dan kompetensi yang teruji dalam bidangnya menjadi bukti bahwa Muhammadiyah memberikan kader terbaiknya untuk membantu Pemerintah dan bukan membebaninya.