Menjadi Guru Bangsa: Refleksi 106 Tahun Muhammadiyah

Menjadi Guru Bangsa: Refleksi 106 Tahun Muhammadiyah
Sudarnoto Abdul Hakim.

SUDAH mencapai usia 106 tahun Muhammadiyah menurut tahun Masehi. Tidak seperti manusia biasa, dalam usia yang lebih satu abad ini Muhammadiyah tidak renta dan melemah. Sebaliknya justru semakin menemukan momentun yang pas untuk memperkokoh elan vitalnya. Spirit mewujudkan Islam dan Indonesia Berkemajuan justru semakin kokoh bahkan di tengah dinamika dan persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan yang nampak kompleks.

Kehadirannya semakin terasa bermakna bahkan saat umat dan bangsa ini mengalami disorientasi akut karena berbagai persoalan yang dihadapi nampak sangat rumit. Kelahirannya sejak awalpun di tahun 1912 memang di tengah situasi yang secara sosial, ekonomi, politik dan keamanan tidak normal.

Sama dengan para Nabi dan Rasul serta para tokoh, alim ulama, wali dan sebagainya hadir selalu di situasi yang tidak menentu. Tugasnya, tak sekedar meluruskan arah perjalanan hidup dan peradaban umat supaya tidak terjerembab dalam kenistaan sosial dan kemanusiaan, kenistaan ekonomi dan politik, kenistaan hukum dan sistem kekuasaan. Tapi disamping itu, tugas lain yang tak kalah pentingnya sebagai "Syuhada" adalah membangkitkan dan menggerakkan kemajuan bangsa melalui berbagai amalan zikir cerdas dan jihad transformatif,  konstruktif-inovatif melalui peradaban ilmu pengetahuan.

Itulah mengapa gerakan Muhammadiyah memberikan perhatian serius kepada amal kongkrit yang secara langsung dirasakan betul oleh seluruh warga bangsa melalui berbagai aksi keagamaan, pendidikan, sosial kemanusiaan. Muhammadiyah sejak kelahirannya telah membingkai diri sebagai gerakan Islam kebangsaan yang benar-benar menggerakkan, mengubah, mentransformasi, mencerahkan dan memajukan masyarakat; tidak tertarik untuk terlibat dalam permainan dan peran-peran retorik bahkan hingga detik ini.

Nasionalisme yang dikembangkan dan ditampilkan oleh Muhammadiyah bukanlah nasionalisme retorik yang menggema di berbagi panggung, podium, festival dan mungkin demontrasi. Nasionalisme Muhammadiyah adalah jenuin, karena benar-benar memperjuangkan kedaulatan, keadilan, kemanusiaan secara tulus; ia benar-benar menyentuh dan menjawab kebutuhan kongkrit masyarakat. Nasionalisme Muhammadiyah adalah nasionalisme yang benar-benar mentranformasi, menerangi (Tanwir atau enlighthening) umat dan bangsa.

Terkait dengan itu, maka pemerintah adalah salah satu instrumen penting yang harus dirawat dan dikawal agar benar benar memiliki kemampuan dan peluang besar dalam mewujudkan keadilan dan kemaslahatan bersama. Pemerintah adalah pemegang mandat atau amanah yang sah untuk menciptakan apa yang dalam dokumen resmi Muhammadiyah disebut sebagai Baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur. Mengganggu apalagi merusak tatanan pemerintahan, bagi Muhammadiyah, tidaklah sekedar melawan hukum dan kesalahan politik, akan tetapi juga tidak dibenarkan secara keagamaan karena mengganggu proses terwujudnya Baldatun thoyibah wa robbun ghofur di atas. Dalam pandangan Muhammadiyah, pemerintah sesungguhnya juga melakukan peran-peran dakwah amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammadiyah di awal kemunculannya.

Karena itu prophetic political leadership bagi Muhammadiyah sangatlah penting. Artinya, Pemerintahan Jokowi saat inipun haruslah dipandang sebagai kepemimpinan yang memikul tugas-tugas yang luhur, Pertama, menciptakan clean governnent dan good governance. Kedua, membangun kemaslahatan. Semua ini mengandaikan bahwa pemberantasan korupsi dan semua jenis kejahatan dan mendidik serta menyediakan fasiltas untuk kemaslahatan masyarakat oleh pemerintah. Misalnya, adalah perjuangan politik dan hukum yang mulia sepanjang dilakukan dengan cara cara yang mulia.

Tentu tidaklah sempurna. Tapi justru karena ketidaksempurnaan inilah maka kehadiran Muhammadiyah sebagai sahabat pemerintah menjadi sangat penting yang menyampaikan kritik dan masukan konstruktif. Itulah kesejatian relasi Muhammadiyah-Pemerintah, yaitu saling melengkapi, menyempurnakan dan mengingatkan. Muhammadiyah tidak akan pernah menuntut meminta-minta apalagi menggaruk Pemerintah karena Muhammadiyah tidak pernah memiliki mental peminta minta. Muhammadiyah justru akan memberikan yang terbaik. Begitu juga Pemerintah, akan memberikan kepada Muhammadiyah dan bangsa karena memang watak Pemerintah adalah melayani, membantu dan mengayomi.

Bangsa Indonesia yang sudah semakin membesar ini, akan terus dikelola dengan cara-cara yang semakin beradab karena memang mengemban misi mulia. Jika tidak, maka akan menjadi negara gagal. Ini tugas Pemerintah bersama-sama dengan kekuatan para guru bangsa. Dan, Muhammadiyah berpeluang besar sebagai ormas dan civil society muslim menjadi guru bangsa yang bisa diteladani. Jika semua kekuatan elemen masyarakat, kekuatan sospol, ormas, paguyuban dan lainnya bisa menjadi guru bangsa yang diteladani, jayalah Indonesia. Selamat 106 tahun Muhammadiyah.