Menlu Retno Marsudi Apresiasi Peran Aisiyah Secara Nasional dan Internasional Tangani Covid-19

Menlu Retno Marsudi  Apresiasi Peran Aisiyah Secara Nasional dan Internasional Tangani Covid-19
webinar aisiyah/ muhammadiyah.or.id

MONDAYREVIEW.COM – Senafas dan seiring sejalan dengan Muhammadiyah gerakan ‘Aisyiyah dalam  membantu kerja-kerja kemanusiaan, perdamaian, kesejahteraan baik di tingkat nasional maupun internasional diapresiasi banyak fihak.

Pemerintah melalui Menteri Luar (Menlu) Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi menegaskan hal tersebut dalam acara Silaturahmi dan Dialog bersama Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) yang dilakukan secara daring pada Jum’at sore (12/6).

“Sebagai menlu perempuan, saya juga sangat konsen terhadap isu perempuan, dan ini sejalan dengan kiprah nyata ‘Aisyiyah selama ini yang banyak berperan di ranah kesejahteraan perempuan,” tutur Retno.  

Terkait dengan penanganan Covid-19 baik dalam ranah nasional maupun internasional peran Aisiyah juga mendapat apresiasi yang tinggi dari Menlu yang dipercaya untuk kedua kalinya oleh Presiden Joko Widodo ini.  

Bukan tanpa alasan jika Pemerintah mengapresiassi Aisiyah. Laporan yang disampaikan oleh perwakilan PCIA, diantaranya peran PCIA Malaysia dalam menyalurkan sembako untuk Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Malaysia, mengadakan tes kesehatan keliling bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia serta pembinaan kelompok ekonomi yang terdampak pendemi.

Retno juga mengungatkan bahwa pandemi Covid-19 ini bukan hanya membawa dampak pada krisis kesehatan tetapi juga dibayangi perlambatan ekonomi yang signifikan.

“Perekonomian dunia diprediksi akan mengalami resesi terburuk dalam satu abad terakhir dan pertumbuhan ekonomi global turun 7,6%,” terang Retno.

Ia menambahkan bahwa kemiskinan warga dunia bertambah dengan sangat cepat, bahkan menurutnya Sekjen PBB menyampaikan bahwa jumlah orang miskin di dunia dapat bertambah 500 juta orang dan 1,6 Milyar pekerja informal di dunia akan kehilangan penghasilan.

Hal tersebut menurut Retno dampaknya sudah mulai dirasakan oleh para pekerja migran Indonesia.

“Kalau ditotal selama pandemi ini ada 110.757 WNI yang kembali ke Indonesia,” papar Retno.

Belum lagi mereka yang masih tertahan di negara-negara lain yang pekerjaannya terdampak Covid-19 tetapi masih tertahan dan tidak dapat pulang ke Indonesia. Kementrian Luar Negeri menurutnya sudah mengupayakan berbagai bantuan serta fasilitasi semaksimal mungkin bagi WNI yang terdampak Covid-19. Akan tetapi pemerintah tetap mengharapkan bantuan dari masyarakat luas untuk bersama-sama berperan dalam mengatasi segala dampak yang muncul akibat pandemi ini.

“Untuk memenangkan perang terhadap Covid ini diperlukan kolaborasi pemerintah dan masyarakat, tanpa kerjasama dan kedisiplinan maka akan sulit bagi kita untuk melalui masa yang sulit ini dengan segera,” harapnya.

Sementara Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini menegaskan bahwa dalam situasi pandemi, ‘Aisyiyah tidak hanya bergerak di dalam negeri untuk mendukung upaya pemerintah mengatasi dampak pandemi. Tetapi upaya ini juga dilakukan oleh teman-teman PCIA dan PCIM yang merupakan wakil serta duta organisasi di masing-masing negara.

 

“Dalam konteks pandemi teman-teman PCIA PCIM terlibat membantu sesama walaupun mereka tidak dalam kondisi leluasa dan berlebih tetapi semangatnya luar biasa,” jelas Noordjannah.

Noordjannah menambahkan bahwa dengan kehadiran PCIA dan PCIM ini mempermudah berbagai ikhtiar persyarikatan dan untuk mensyiarkan pandangan-pandangan Islam Berkemajuan Rahmatan Lil Alamin yang juga memberikan tempat  kepada perempuan untuk dapat berperan.

“Nilai-nilai Islam Berkemajuan menempatkan kemuliaan yang sama antara laki-laki dan perempuan, memberikan kesempatan yang sama untuk peran-peran yang positif termasuk dalam upaya mengatasi dampak Covid-19 ini,” pungkas Noordjannah.